Hubungi Kami : 0814 1350 4543

Hermeneutika itu Tafsir Sesuka Hati

Syamsuddin Arif

Doktor pemikiran Islam asli Betawi ini lahir di Jakarta, 19 Agustus 1971. Pendidikan dasarnya ditempuh di KMI Gontor dan lulus pada tahun 1989. Setelah dua tahun mengaji dan mengabdi di Majlis al-Qurra’ wal-Huffazh, Tuju-tuju Kajuara, Bone, Sulawesi Selatan, beliau menempuh program S1 di International Islamic University Malaysia (IIUM) sampai selesai tahun. Selanjutnya beliau menempuh program S2 di International Institute of Islamic Thought and Civilization (ISTAC) Malaysia sampai selesai 1999 dengan tesis Ibn Sina’s Theory of Intuition, di bawah bimbingan Alparslan Acikgenc, dosen pembimbing M. Amin Abdullah dan Komaruddin Hidayat saat mereka kuliah S3 di METU Ankara Turki dulu.

Program S3—juga di ISTAC—berhasil diselesaikannya pada 2004 dengan disertasi berjudul Ibn Sina’s Cosmology: A Study of the Appropriation of Greek Philosophical Ideas in 11th Century Islam, di bawah supervisi Paul Lettinck. Dan saat ini beliau tengah menyiapkan disertasi keduanya di Orientalisches Seminar, Johan Wolfgang Goethe Universitat Frankfurt, Jerman. Di samping Arab dan Inggris, bahasa yang telah (dan masih terus) dipelajarinya antara lain Greek, Latin, Jerman, Prancis, Hebrew dan Syriac.

Di sela-sela roadshow buku terbarunya, Orientalis dan Diabolisme Pemikiran (Jakarta: Gema Insani Press, 2008), ke berbagai kota di Indonesia, wartawan majalah RISALAH sempat mewawancarainya di Cimahi Bandung, berkaitan hermeneutika yang hari ini sudah mulai dipromosikan untuk diterapkan pada al-Qur’an. Berikut ini cuplikannya.

Bisa Anda jelaskan apa itu hermeneutika?

Hermeneutika adalah metode penafsiran Bible, sebagaimana halnya istilah tafsir untuk al-Qur’an. Walaupun kadang dalam UUD misalnya ada tafsir UUD, tetap saja itu tidak dapat dimaknakan tafsir dalam arti yang sebenarnya. Karena tafsir yang sebenarnya adalah sebuah istilah untuk al-Qur’an, ada perangkat ilmunya tersendiri. Demikian halnya dengan hermeneutika,

walaupun kadang digunakan untuk sastra dan lain sebagainya, tetap saja secara istilah hermeneutika itu untuk Bible.

Jadi walaupun ada perluasan makna (ekstensi semantik), dan itu sebuah hal yang lumrah dalam bahasa, tetap saja hermeneutika itu adalah hermeneutika Bible; Perjanjian Lama atau Perjanjian Baru. Karena berkaitan dengan istilah,

memang sering terjadi salah kaprah. Contohnya, logika politik, ekonomi, dsb. Padahal pada asalnya istilah logika adalah sebuah ilmu tentang nalar akal. Hal yang sama juga terjadi pada hermeneutika.

Kalau sejarah perkembangannya?

Istilah hermeneutika sebagai satu disiplin ilmu untuk memahami bible mulai digunakan di abad pertengahan sekitar tahun 1500-an di Eropa yang dipelopori

oleh Kristen Protestan. Tapi istilah hermeneutika diambil dari salah satu buku Aristoteles yang membahas tentang proposisi yang diberi judul Peri Hermeneias.

Lalu kenapa hermeneutika ini dikembangkan? Karena mereka mau melepaskan diri dari otoritas gereja. Jadi selama ini kata mereka gereja Katholik di Roma

terlalu memonopoli penafsiran Bible. Kenapa kami tidak bisa menafsirkan sendiri?

Jadi dari awal pun di Eropa itu hermeneutika ini adalah bagian dari gerakan Kristen Liberal melawan Kristen Ortodok. Artinya terjadi sebuah counter penafsiran dari Kristen Liberal ke Kristen Ortodok di Roma. Dan itu juga

sebenarnya yang terjadi ketika hermeneutika ini diimpor ke dalam masyarakat Islam.

Metodologi hermeneutika itu sendiri bagaimana?

Hermeneutika pertama kali digagas oleh Martin Luther dan sahabatnya

sekaligus muridnya Mathias Flaccus Illyricus. Prinsip yang dikenalkannya adalah sola scriptura; kitab suci saja. Maksudnya, untuk memahami kitab suci, cukup kitab suci saja, tidak memerlukan tradisi, tidak perlu merujuk karya- karya padri-padri gereja, tidak perlu merujuk para ulama mereka. Karena mereka bilang kitab suci itu bisa menafsirkan dirinya sendiri. Dan ini merupakan tendensi dari arus liberal di kalangan Kristen.

Dari sana mereka masuk tahap mencari-cari metodologi. Di antara yang kemudian dikembangkan adalah metode melihat secara keseluruhan, tidak parsial, tapi holistic, yang dikembangkan oleh Schleiermacher. The part cannot be studied without the hole. Jadi diandaikan kitab suci itu satu sistem yang bagian-bagiannya saling berkaitan.

Selanjutnya yang lainnya adalah kontekstual. Ini adalah gabungan dari metode historical-criticism. Jadi maksudnya, orang yang ingin memahami ayat yang ada dalam Injil itu harus tahu adat yang berlaku pada masa itu, atau sebut saja asbabun-nuzul-nya.

Singkatnya, sola scriptura itu semacam tafsir al-Qur’an bil-Qur’an. Terus yang kedua, metode melihat keseluruhan, itu semacam tafsir maudlu’i. Dan itu sudah dilakukan oleh ulama Islam dari sejak abad ke-5 H sebut misalnya ar-Raghib

al-Ishfahani yang karyanya Mu‘jam Mufradat Alfazh al-Qur’an.

Jadi kalau begitu hermeneutika itu sama saja dengan tafsir al-Qur’an?

Oh bukan. Saya membanding-bandingkannya dengan tafsir al-Qur’an seperti di atas itu untuk menunjukkan bahwa oleh ulama Islam metode-metode seperti itu sudah dilakukan. Jadi tidak perlu, karena sudah ada.

Mengenai ide Hermeneutika al-Qur’an?

Dalam hal ini menurut saya tergantung niatnya. Saya sendiri sebenarnya ingin tahu apa sebab mereka mengajukan hermeneutika untuk al-Qur’an. Dan

setidaknya mungkin ada dua sebab, pertama, mereka tidak paham ilmu tafsir, bahwa sebenarnya para ulama itu sudah mempunyai tradisi yang panjang dan kuat dalam hal penafsiran. Kedua, mereka tahu tapi tidak mau tahu. Misalnya, kita di rumah sudah punya pisau tapi kemudian beli pisau baru. Alasannya, pokoknya tidak mau pakai pisau yang lama, ingin pakai yang baru. Jadi asumsinya mungkin begitu.

Kalau dikatakan perlu tidak perlu, ya menurut saya tidak perlu, karena kita sudah punya pisau di rumah. Bahkan kalau diukur lebih canggih mana, menurut saya lebih canggih yang ada di rumah, karena sudah teruji kualitasnya. Dilihat dari segi tujuannya, untuk apa? Untuk memotong daging,

roti atau apa, bukankah yang di rumah juga bisa. Jadi menurut saya itu adalah superfluous, terlalu berlebihan dan tidak perlu. Kalau alasannya hanya sekedar ganti nama, itu berarti minder dengan yang dimiliki sendiri, merasa tidak keren. Jadi kalau begitu hanya sekadar keren-kerenan. Jelasnya, secara substansi tidak ada yang baru dari hermeneutika itu.

Tegasnya, boleh atau tidak?

Tidak. Lebih tegasnya, kenapa kita harus mengatakan tidak kepada hermeneutika, itu karena pertama, semangat yang dibawanya bukan mencari kebenaran. Tetapi semangat untuk menolak kebenaran.

Kedua, semangat untuk merelatifisir; menganggap bahwa kebenaran itu relatif, tidak absolut. Dan itu berbeda dengan para ulama kita. Jadi spiritnya itu spirit liberalisme. Dan itu adalah spirit hawa nafsu.

Sebagai contoh kacaunya hermeneutika ketika diaplikasikan adalah dalam hal surat Paulus di Bible yang ditujukan kepada penduduk perempuan Corinthian

untuk menutup kepalanya. Kata Paulus, jika itu tidak dilakukan, maka mereka termasuk orang-orang yang hina. Surat Paulus tersebut, dengan hermeneutika, melahirkan empat penafsiran.

Pertama, ayat itu tidak berlaku untuk orang yang hidup di zaman modern. Ayat itu out of date, sudah tidak relevan. Karena, Paulus mengatakan itu untuk zaman itu. Dan sekarang warga Kristen itu tidak hanya di Italia, jadi tidak mungkin kita memaksakannya kepada warga yang lain.

Kedua, ayat ini tetap berlaku, tapi makusdnya bukan pakai kerudung di setiap waktu dan di setiap tempat. Tapi menutup kepala hanya ketika berada dalam gereja, ketika beribadat.

Ketiga, ayat ini berlakunya tidak hanya di dalam gereja, tapi juga di luar gereja dalam upacara-upacara peribadatan. Seperti acara pemakaman.

Keempat, tutup kepala ini adalah metaphor, figuratif, ini bukan hakiki tapi majas, kiasan. Tutup kepala ini maksudnya tidak boleh botak. Karena penutup kepala itu adalah rambut. Jadi perkataan Paulus itu maksudnya wanita tidak boleh gundul, harus pakai rambut. Tapi kalau laki-laki boleh gundul.

Itulah contoh hermeneutika. Penafsiran sesuka hati, sesuai kebutuhan si penafsir, sesuai kebutuhan masyarakat. Jadi kalau masyarakat berubah, kebutuhannya berubah, pemahaman pun harus berubah. Di situlah ketidaklurusan hermeneutika sehingga tidak mungkin kita terima untuk dibawa masuk ke dalam tradisi Islam.

Nah ini juga yang terjadi sekarang. Dalam hal babi misalnya, ketika jelas hurrimat… wa lahmul-khinzir, itu kan orang Liberal bilang, yang diharamkan itu bukan babi Eropa, karena kalau babi yang itu kan bersih. Ayat yang mengharamkan babi itu kan turun di Arab. Menurut mereka, spesies babi yang

dimaksud ayat itu adalah spesies babi pada zaman Nabi yang sudah tidak mungkin ditemukan pada zaman ini. Berarti babi di sini tidak diharamkan.

Jadi tegasnya, sola scriptura dan lain sebagainya itu, pada hakikatnya bukan tafsir al-Qur’an bil-Qur’an atau maudlu’i, tapi tafsir liar, tafsir sesukanya saja.

Tafsir sekarang dinilai sudah tidak cocok dengan zaman. Pendapat ustadz?

Itu memang pernyataan yang sering mengganggu generasi kita. Sebuah pernyataan yang tidak relevan. Kalau hendak diibaratkan, ketika membeli topi

atau baju yang ternyata tidak cocok dengan kepala dan badan kita, apakah itu salah kepala dan badannya ataukah salah topi dan bajunya? Kelak nanti mana yang akan diubah, kepala ataukah topi?

Dalam masalah ini masyarakat sudah seharusnya ikut kepada apa yang dibawa oleh Rasulullah. Benar sekali hadits yang disampaikan Rasulullah saw: La yu’minu ahadukum hatta yakuna hawahu tab‘an lima ji’tu bihi; tidak beriman seseorang di antaramu sehingga hawa nafsunya mengikuti apa yang aku bawa.

Nah ini, malah apa yang dibawa Rasul harus sesuai dengan hawa kita; keinginan kita, apa yang diinginkan hawa nafsu kita. Kalau sesuai dengan selera kita baru kita mau. Dan hermeneutika itu kan seperti itu. Sehingga akhirnya al-Qur’an harus mengikuti perubahan masyarakat seperti yang telah berlaku di Barat. Akibatnya terjadi kekacauan nilai benar-salah. Dulu, di  Barat

yang homoseks dibunuh. Tapi sekarang ini tidak. Dan itu menjadi semacam kekacauan tersendiri bagi Gereja. Sangat mungkin disebabkan itulah kemudian paham ini diekspor ke umat Islam. Selorohnya, karena kami sudah rusak, jangan kami saja, kalian juga umat Islam harus ikut rusak.

Tafsir itu juga katanya tidak satu, beda-beda versi?

Begini, ada perbedaan dalam tingkatan benar atau salah, haqq atau bathil. Makanya istilah yang digunakan itu adalah shawab dan khatha’. Dan shawab

ini adalah makna figuratif. Jadi kalau memanah itu kan ada lingkaran- lingkaran. Dari mulai yang terkecil berupa titik sasaran, lalu yang lebih besarnya, dan lebih besarnya. Nah, kalau kita tepat ke titik di tengah, maka itu shawab. Tapi kalau kenanya pada lingkaran yang lebih luarnya, maka itu khatha’. Tapi jikalau tidak kena sama sekali ke satu lingkaran pun, malah melenceng keluar, itulah dlalal dan bathil.

Dalam kasus ijtihad hakim, yang digunakan oleh Rasul kan bahasanya ashaba. Dan maksudnya seperti yang digambarkan di atas. Harus tetap dalam wilayah ijtihad, tidak boleh melenceng seenaknya.

Dalam tafsir juga demikian. Ada yang qath’iy, muttafaq ‘alaih, ada yang tidak atau furu’. Dalam hal yang qath’iy semua tafsir pasti sama, tapi jika tidak qath’iy tentu ada perbedaan. Contohnya, dalam hal keimanan pada malaikat, semua tafsir pasti sama bahwa itu wajib. Tapi dalam hal mengimani bahwa malaikat itu mempunyai sayap 4500 helai, itu tidak dijamin semua sama, karena itu furu’. Contoh lainnya adalah surga itu haq. Tapi surga itu di mana, berapa pintunya, itu adalah furu’.

Mengidentifikasi shawab dan khatha’ itu sendiri bagaimana?

Itu patokannya adalah hujjah, argumen. Misalnya begini, tafsir at-Thabariy dengan Tafsir Ibn Katsir. Kata at-Thabariy, saya memilih pendapat ini, karena

begini dan begini. Sementara menurut Ibn Katsir, saya memilih pendapat yang ini yang berbeda dengan at-Thabariy dengan alasan begini dan begini. Sebut misalnya, pertimbangan sanadnya lebih bagus. Jadi para ulama itu berargumen dengan hujjah, bukan dengan pertimbangan hawa nafsu. Jadi mereka  mengikuti ilmu.

Maka dari itu sangat penting dalam ijtihad itu ilmu dan adab. Adab itu adab kepada Allah, kepada Rasul. Tapi yang terjadi sekarang ini, orang ramai berijtihad tapi tidak menggunakan ilmu. Atau berilmu tapi tidak beradab; beradab kepada Allah, Rasul dan para ulama.

Masalahnya hermeneutika sudah dianggap sebagai ilmu dengan pengukuhan dari para profesor?

Imam al-Ghazaliy pernah menghadapi problem yang serupa. Katanya dalam al- Munqidz minad-Dlalal: al-Haqqu la yu’rafu bir-rijal walakinnar-rijal yu’rafuna bil-haqq; kebenaran itu tidak diukur melalui orang, tapi orang itu dikenal melalui kebenaran. Dan itu sebenarnya juga bermula dari perkataan Sayyidina ‘Ali ra. Tatkala ada orang yang bertanya kepadanya mengapa shahabat Rasul saw bertikai? Bagaimana kami tahu siapa yang benar? ‘Ali pada waktu itu

menjawab, anda tidak perlu melihat siapa yang bertikai, anda lihat kebenaran itu ada pada siapa.

Jadi jangan lihat orangnya, bahwa ia itu profesor. Kan Rasul sudah cukup mengamanatkan: Lan tadlillu abadan ma in tamassaktum bihima, kitaballah wa sunnata rasulihi; kalian tidak akan pernah tersesat selama berpegang teguh kepada al-Qur’an dan Sunnah. Atau dalam riwayat lain ma ana ‘alaihi wa ashhabi; apa yang Rasul dan shahabatnya amalkan. Jadi itulah ukuran haq, ukuran kebenaran.

Hermeneutika sudah masuk dalam kurikulum Tafsir-Hadits di IAIN. Tanggapan ustadz?

Perlu secara struktural dan sistematis untuk merubahnya. Secara struktural harus diupayakan oleh Dikti agar kurikulum yang tadinya tidak ada ini lalu

ada, menjadi tidak ada lagi. Kemudian secara sitematis, berarti harus dilakukan counter indoctrination; melawannya dengan membuat lingkungan di mahasiswa bagaimana caranya agar mereka bukan hanya membaca tafsir tapi juga memahami metodologi tafsir. Dengan demikian akan muncul rasa percaya diri dan kesadaran bahwa hermeneutika ini sebenarnya tidak kita perlukan.

Jadi harus dilarang?

Saya kira pada level mahasiswa memang tidak bijak kalau mereka itu dilarang membaca ini dan itu. Tapi yang menjadi pokok persoalan di sini mereka tidak hanya dibebaskan begitu saja, tapi harus diarahkan. Seperti kita kepada anak

kita; jangan terlalu dikekang, tapi juga jangan terlalu dibebaskan, karena nanti bisa celaka.

Pesan ustadz untuk para penimba ilmu?

Pertama, luruskan niat bahwa saya mencari ilmu untuk mencari ridla Allah. Kedua, menuntut ilmu itu adalah jihad, jadi harus diletakkan dalam bingkai perjuangan umat. Yakni bahwa saya adalah pelanjut penyebar risalah. Ketiga, karena terkadang kita suka lupa, harus ada group, ‘alaikum bil-jama’ah.

Jama’ah di sana itu kan bisa dimaknakan juga group, kelompok. Itu supaya  kita ada yang mengingatkan, mengoreksi, dan ada yang memberikan semangat

juga. Keempat, harus berorientasi problem solving, walau tentunya kita hanya bisa fokus di salah satu sub problemnya. Jadi orientasinya bukan saya nanti akan kerja di mana, dan sebagainya. [ns]

news-1701

yakinjp

yakinjp

rtp yakinjp

yakinjp

yakinjp

yakin jp

yakinjp id

maujp

maujp

maujp

sabung ayam online

sabung ayam online

SLOT MAHJONG

sabung ayam online

CUAN100

CUAN100

article 10000466

article 10000467

article 10000468

article 10000469

article 10000470

article 10000471

article 10000472

article 10000473

article 10000474

article 10000475

article 10000476

article 10000477

article 10000478

article 10000479

article 10000480

article 10000481

article 10000482

article 10000483

article 10000484

article 10000485

article 10000486

article 10000487

article 10000488

article 10000489

article 10000490

article 10000491

article 10000492

article 10000493

article 10000494

article 10000495

article 10000496

article 10000497

article 10000498

article 10000499

article 10000500

article 10000501

article 10000502

article 10000503

article 10000504

article 10000505

article 9998000621

article 9998000622

article 9998000623

article 9998000624

article 9998000625

article 9998000626

article 9998000627

article 9998000628

article 9998000629

article 9998000630

article 9998000631

article 9998000632

article 9998000633

article 9998000634

article 9998000635

article 9998000636

article 9998000637

article 9998000638

article 9998000639

article 9998000640

article 9998000641

article 9998000642

article 9998000643

article 9998000644

article 9998000645

article 9998000646

article 9998000647

article 9998000648

article 9998000649

article 9998000650

article 9998000651

article 9998000652

article 9998000653

article 9998000654

article 9998000655

article 9998000656

article 9998000657

article 9998000658

article 9998000659

article 9998000660

article 9998000661

article 9998000662

article 9998000663

article 9998000664

article 9998000665

article 9998000666

article 9998000667

article 9998000668

article 9998000669

article 9998000670

article 9998000671

article 9998000672

article 9998000673

article 9998000674

article 9998000675

article 9998000676

article 9998000677

article 9998000678

article 9998000679

article 9998000680

article 9998000681

article 9998000682

article 9998000683

article 9998000684

article 9998000685

article 9998000686

article 9998000687

article 9998000688

article 9998000689

article 9998000690

article 838000703

article 838000704

article 838000705

article 838000706

article 838000707

article 838000708

article 838000709

article 838000710

article 838000711

article 838000712

article 838000713

article 838000714

article 838000715

article 838000716

article 838000717

article 838000718

article 838000719

article 838000720

article 838000721

article 838000722

article 838000723

article 838000724

article 838000725

article 838000726

article 838000727

article 838000728

article 838000729

article 838000730

article 838000731

article 838000732

article 838000733

article 838000734

article 838000735

article 838000736

article 838000737

article 838000738

article 838000739

article 838000740

article 838000741

article 838000742

article 838000743

article 838000744

article 838000745

article 838000746

article 838000747

article 838000748

article 838000749

article 838000750

article 838000751

article 838000752

article 838000753

article 838000754

article 838000755

article 838000756

article 838000757

article 838000758

article 838000759

article 838000760

article 838000761

article 838000762

article 838000763

article 838000764

article 838000765

article 838000766

article 838000767

article 838000768

article 838000769

article 838000770

article 838000771

article 838000772

article 238000521

article 238000522

article 238000523

article 238000524

article 238000525

article 238000526

article 238000527

article 238000528

article 238000529

article 238000530

article 238000531

article 238000532

article 238000533

article 238000534

article 238000535

article 238000536

article 238000537

article 238000538

article 238000539

article 238000540

article 238000541

article 238000542

article 238000543

article 238000544

article 238000545

article 238000546

article 238000547

article 238000548

article 238000549

article 238000550

article 238000551

article 238000552

article 238000553

article 238000554

article 238000555

article 238000556

article 238000557

article 238000558

article 238000559

article 238000560

article 238000561

article 238000562

article 238000563

article 238000564

article 238000565

article 238000566

article 238000567

article 238000568

article 238000569

article 238000570

article 238000571

article 238000572

article 238000573

article 238000574

article 238000575

article 238000576

article 238000577

article 238000578

article 238000579

article 238000580

article 238000581

article 238000582

article 238000583

article 238000584

article 238000585

article 238000586

article 238000587

article 238000588

article 238000589

article 238000590

article 7700291

article 7700292

article 7700293

article 7700294

article 7700295

article 7700296

article 7700297

article 7700298

article 7700299

article 7700300

article 7700301

article 7700302

article 7700303

article 7700304

article 7700305

article 7700306

article 7700307

article 7700308

article 7700309

article 7700310

article 7700311

article 7700312

article 7700313

article 7700314

article 7700315

article 7700316

article 7700317

article 7700318

article 7700319

article 7700320

article 7700321

article 7700322

article 7700323

article 7700324

article 7700325

article 7700326

article 7700327

article 7700328

article 7700329

article 7700330

article 7700331

article 7700332

article 7700333

article 7700334

article 7700335

article 7700336

article 7700337

article 7700338

article 7700339

article 7700340

article 7700341

article 7700342

article 7700343

article 7700344

article 7700345

article 7700346

article 7700347

article 7700348

article 7700349

article 7700350

article 7700351

article 7700352

article 7700353

article 7700354

article 7700355

article 7700356

article 7700357

article 7700358

article 7700359

article 7700360

article 2000481

article 2000482

article 2000483

article 2000484

article 2000485

article 2000486

article 2000487

article 2000488

article 2000489

article 2000490

article 2000491

article 2000492

article 2000493

article 2000494

article 2000495

article 2000496

article 2000497

article 2000498

article 2000499

article 2000500

article 2000501

article 2000502

article 2000503

article 2000504

article 2000505

article 2000506

article 2000507

article 2000508

article 2000509

article 2000510

article 2000511

article 2000512

article 2000513

article 2000514

article 2000515

article 2000516

article 2000517

article 2000518

article 2000519

article 2000520

article 2000521

article 2000522

article 2000523

article 2000524

article 2000525

article 2000526

article 2000527

article 2000528

article 2000529

article 2000530

article 2000531

article 2000532

article 2000533

article 2000534

article 2000535

article 2000536

article 2000537

article 2000538

article 2000539

article 2000540

article 2000541

article 2000542

article 2000543

article 2000544

article 2000545

article 2000546

article 2000547

article 2000548

article 2000549

article 2000550

article 2990581

article 2990582

article 2990583

article 2990584

article 2990585

article 2990586

article 2990587

article 2990588

article 2990589

article 2990590

article 2990591

article 2990592

article 2990593

article 2990594

article 2990595

article 2990596

article 2990597

article 2990598

article 2990599

article 2990600

article 2990601

article 2990602

article 2990603

article 2990604

article 2990605

article 2990606

article 2990607

article 2990608

article 2990609

article 2990610

article 2990611

article 2990612

article 2990613

article 2990614

article 2990615

article 2990616

article 2990617

article 2990618

article 2990619

article 2990620

article 10000451

article 10000452

article 10000453

article 10000454

article 10000455

article 10000456

article 10000457

article 10000458

article 10000459

article 10000460

article 10000461

article 10000462

article 10000463

article 10000464

article 10000465

news-1701