Hubungi Kami : 021 8661 5393, WA : +62 814-1350-4543

Studi Islam di Barat: Cita, Fakta, Ciri, dan Cara

Syamsuddin Arif – Direktur Eksekutif INSISTS Jakarta

Istilah ‘Orientalis’ dalam tulisan ini menunjuk para sarjana atau ilmuan Barat (i.e. Eropa, Amerika, Australia) yang melakukan kajian intensif terhadap peradaban Islam. Bidang kajian mereka tidak terbatas soal agama Islam, akan tetapi mencakup sejarah, budaya, bahasa, ekonomi, politik, hukum bahkan militer. Mereka juga memperluas wilayah kajian terhadap peradaban-peradaban dunia yang lain seperti India, China, Mesopotamia dan Mesir purba. Kepentingan mereka dalam mengkaji peradaban-peradaban Timur juga didorong semangat zaman Pencerahan (Aufklärung) yang semboyan terkenal: “Ex Oriente Lux” (Dari Timur muncul cahaya).

Kecenderungan orang-orang Barat mengkaji Islam semakin besar terutama sesudah Perang Salib yang meletus pada abad kesebelas Masehi. Mulailah mereka terjemahkan buku-buku orang Islam dari bahasa Arab ke bahasa Latin. Pada tahun 1143 al-Qur’an selesai diterjemahkan ke dalam bahasa Latin oleh Robert of Ketton dengan judul ‘Lex Mahumetis Pseudoprophete.’ Proyek ini diselesaikan di Spanyol atas bantuan Petrus Venerabilis, ketua biara Cluny di Perancis. Demikian pula dengan karya-karya intelektual Muslim seperti kitab al-SyifÉ’ (ilmu filsafat), al-QÉnËn fi at-Ùibb (ilmu kedokteran), atTaÎrÊf (ilmu bedah atau chirurgy), dan kitab alZÊj (ilmu astronomi).

Dari gerakan penerjemahan, pada abad ke-16 mulailah universitas- universitas tua di Eropa mengajarkan bahasa Arab dan bahasa-bahasa Islam lainnya seperti Parsi dan Turki. Di Paris studi orientalis dibuka pada tahun 1535, di Leiden pada tahun 1613, diikuti Oxford dan Cambridge pada tahun 1636, sesudah Salamanca, Roma, dan Bologna.

Pada awalnya, orang-orang Barat belajar Islam dalam rangka kebangkitan kembali yang kemudian mereka sebut Renaissance. Namun, tujuan mereka tidak sekedar untuk itu, mereka juga mengekpresikan kejahatan agama Islam kepada publik yang mereka salahpahami dari ajaran-ajarannya.

Semangat mempelajari agama Islam tampak juga pada hubungannya dengan kolonialisasi. Hal ini bisa dilihat pada saat Napoleon Bonaparte datang ke Mesir (1789 M) dengan membawa pasukan dan para ilmuan yang ditugaskan mempelajari bahasa, agama, dan budaya orang-orang Mesir.

Hubungan ini makin rapat pada saat penjajahan Belanda di Indonesia yang menjadikan studi Islam sebagai alat untuk menaklukkan daerah Aceh seperti diperlihatkan Snouck Hurgronje.

Hampir tak ada bidang yang luput dari kajian para orientalis. Pada abad ke- 19 beberapa orientalis mulai melihat pentingnya metodologi yang lazim dipakai dalam studi Bibel untuk diterapkan juga dalam studi Islam khususnya metode kritik sejarah. Bermacam-macam teori kajian Islam dan sejarahnya pun dikenalkan kepada kaum Muslim, terutama pada cendekiawannya.

Muncul pelbagai teori yang kerap dipakai Orientalis, semisal teori pengaruh (theories of influence), teori asal-asul (theories of origins), teori peminjaman (theories of borrowing), teori evolusi (theories of evolution), dan teori perkembangan (theories of development). Teori-teori ini diterapkan oleh Orientalis sebagaimana tampak dalam karya-karya mereka. Contohnya: A Literary History of the Arabs oleh Reynold Nicholson, Judaism in Islam karya Abraham I. Katsch, Quranic Studies oleh John Wansbrough dan sejenisnya. Pendekatan mereka ini telah mempengaruhi sebagian cendekiawan di Nusantara, sehingga ada yang hendak membuat “Edisi Kritis” al-Qur’an.

Perbedaan studi Islam yang dilakukan para Orientalis dan kaum Muslim dapat dilihat dari asumsi dibalik metodologinya. Orientalis menjadikan Islam sebagai objek penelitian tanpa mempedulikan kebenaran yang ada di dalamnya. Mereka mengkaji Islam sekadar untuk penelitian, tanpa mempertimbangkan orang-orang Islam yang memeluknya dan kebenaran yang diyakini dari agama ini. Selain itu, mereka juga melihat agama Islam sebagai fenomena sosial atau literatur yang layak dikaji melalui pendekatan budaya, sosiologi, antropologi, sejarah, politik dan perbandingan agama. Dengan begitu, mereka membagi Islam dalam dua kategori: ‘Islam normatif’ (yakni segala norma dan aturan keagamaan yang ditentukan oleh Allah), dan ‘Islam aktual’ (ajaran yang dilakukan oleh orang-orang Islam di berbagai tempat). Akibatnya dibuat-lah kategori-kategori keliru semacam ‘Islam klasik’, ‘Islam Abad Pertengahan’, ‘Islam Fundamentalis’, ‘Islam Moderat’, ‘Islam Radikal’, dan ‘Islam Liberal’. Semua ini adalah cara pandang yang mengelirukan.

Untuk membendung serbuan intelektual yang amat masif dari para Orientalis, kita memerlukan cendekiawan-cendekiawan Muslim dengan basis tradisi keilmuan Islam yang kuat, akan tetapi juga menguasai wacana dan strategi orientalis dalam studi Islam, punya rasa percaya diri sebagai Muslim dan mau bersikap kritis terhadap kajian orientalis. Orang-orang seperti Prof. Muhammad Rasjidi almarhum, Prof. Mustafa al-A‘zami, atau Prof. Naquib al-Attas boleh dijadikan contoh dalam perkara ini. Kini ditunggu munculnya sarjana-sarjana Muslim yang melanjutkan dan mengembangkan apa yang telah mereka rintis.

* * *

Dalam sebuah monograf kecil berjudul: al-IstisyrÉq bayn al-MawÌË‘iyyah wa l- IftiÉliyyah, yang diterbitkan oleh DÉr ar-RifÉ‘Ê, Riyadh, Saudi Arabia pada tahun 1403/1983, Prof. Dr QÉsim as-SÉmarrÉ’Ê, seorang pakar paleografi dan codicologi asal Iraq, lulusan Universitas Cambridge, England, telah menyingkap sejarah dan hakikat orientalis secara bijak, dan objektif.

Mengapa masalah orientalis ini perlu dibahas? Jawabnya karena “kerja-kerja para orientalis itu telah mengakibatkan kepalsuan tersebar luas dan sampai kini menguasai media massa Eropa. Tulisan-tulisan mereka mengaburkan kebenaran dan menyimpang dari etika ilmiah sejati. Para orientalis itu menanamkan imej yang buruk dan pemahaman keliru mengenai agama Islam, Nabi Muhammad, kitab suci al-Qur’an dan orang Islam”.

Akibatnya, kata beliau, banyak kaum pelajar maupun cendekiawan Muslim yang terpengaruh para orientalis. Contohnya ÙÉhÉ ×usayn yang mengatakan bahwa: “Kita mesti menuntut ilmu kepada mereka [yakni para orientalis] sampai kita mampu berdiri di atas kaki sendiri dan terbang dengan sayap-sayap kita” (Lihat: FÊ al-ÓdÉb al-JÉhiliyy, hlm. 9-11). Atau NajÊb al-‘AqÊqÊ yang terkagum-kagum dengan hasil karya orientalis dan memuji mereka setinggi langit. Sikap keterlaluan ini menunjukkan kejahilan dan penyakit kejiwaan yang disebut Minderwürdigkeit atau inferiority complex. Yaitu runtuhnya keyakinan terhadap diri sendiri sebagai Muslim dan Mukmin yang tinggi peradabannya dan agung sejarahnya.

Beberapa observasi menarik diutarakan as-SÉmarrÉ’Ê. Pertama, mengenai dua macam tulisan orientalis: yang ditujukan kepada rakan sebangsa mereka dan yang sengaja ditulis untuk pembaca umum. Kedua, perihal metode yang ditempuh yaitu bertolak dari dan kembali pada teori pengaruh, sehingga mereka mendakwa Islam telah meminjam ini dan itu dari agama Yahudi, Kristen dan sebagainya. Ketiga, fakta bahawa para orientalis itu tidak dapat melepaskan diri dari keyahudian, kekristenan atau sikap rasis dan ethnosentrik mereka apabila menulis mengenai Islam dan orang Islam (Arab, Turki, Melayu). Keempat, meskipun para orientalis itu kedengarannya positif atau kelihatannya objektif, akan tetapi di balik itu mereka sebenarnya menolak kenabian Muhammad SAW dan menngingkari kewahyuan al-Qur’an sebagai Kalam Allah SWT.

Yang lebih menarik lagi adalah sepak-terjang C. Snouck Hurgronje. Orientalis Belanda yang pernah menyamar sebagai Muslim dan bermukim di Mekkah ini di-kenal cerdik dan jahat. Dipakainya nama palsu ‘Abdul Ghaffār’ untuk menipu, supaya bisa menjalin hubungan dengan tokoh- tokoh ulama di Mekkah, mengutip informasi-informasi penting mengenai orang Islam, dan –ini yang lebih parah- mengawini putri seorang camat di Indonesia. Padahal, sebenarnya “dia persembahkan dirinya sebagai penebus Jesus,” kata Sjord van Koningsveld, pakar sejarah dari Leiden.

* * *

Bagaimana metodologi Orientalis dalam mengkaji Islam? Ada beberapa pendekatan yang mereka lakukan. Salah satunya adalah pendekatan sejarah atau biasa disebut ‘historical approach’ atau ‘historical criticism’. Maksud pendekatan ini adalah mengkaji sejarah secara kritis. Mereka mengatakan bahwa suatu dokumen harus dipelajari sebagaimana ahli anatomi memperlakukan mayat. Yang dimaksud ‘dokumen’ di sini adalah sesuatu yang tertulis, bukan yang diucapkan. Karena itu, tradisi dokumen dianggap tidak berhubungan dengan tradisi oral atau lisan. Fokus kajiannya hanya pada teks (written document).

Kajian seperti ini pertama kali diterapkan pada Bible. Dalam kajian tersebut terlebih dulu mereka mencari naskah aslinya. Setelah itu isinya ditelaah dan kemudian dicari pembuktiannya.

Sebagai contoh, tahun 50-an ditemukan sebuah naskah Bible di sebuah gua di dekat Laut Mati yang yang kemudian dikenal dengan sebutan Naskah Laut Mati. Dalam naskah tersebut disebutkan bahwa Nabi Musa AS bersama pengikutnya eksodus dari Mesir melalui laut merah. Dari sinilah kemudian mereka ingin membuktikan kebenaran cerita tersebut dengan melakukan kajian arkeologi.

Jika ternyata secara arkeologis tidak atau belum ditemukan bukti-bukti yang mendukung, mereka tidak akan percaya dengan kitab itu. Jadi, semua cerita yang ada dalam kitab suci harus diragukan dulu dan tidak boleh dipercaya. Isi kitab suci harus dianggap sebagai mitos (dongeng).

Karenanya, pelaku studi ini harus tidak percaya dulu dengan obyeknya. Jika obyek itu agama, maka ia harus meninggalkan agamanya dulu, alias kafir. Ini kan berbahaya.

Kalau ini juga diikuti oleh para sarjana Muslim, risikonya jelas sangat besar. Saat mereka melepaskan keyakinannya terhadap Islam, lalu meninggal, maka ia menjadi murtad. Ini sangat bermasalah. Oleh karena itu, perlu ada meta-method, yaitu kritik terhadap metode tersebut. Metode ini harus dikritisi karena ia sendiri diragukan kebenarannya. Metode itu kan hanya terfokus pada obyektivitas, kemudian butuh pembuktian. Padahal, ketiadaan bukti bukan berarti bukti ketiadaan. Sebagai contoh, kita percaya bahwa kita punya otak. Tapi, jika kita disuruh membuktikan keberadaan otak kita, itu namanya bunuh diri. Mana mungkin kita mengeluarkan otak kita.

Contoh lainnya, ada seorang ibu hamil tua yang terdampar di sebuah pulau kemudian melahirkan seorang anak. Setelah anak itu besar, si ibu berkata pada anak itu bahwa ia darah dagingnya. Tetapi, anaknya menolak dengan alasan tidak ada bukti luar yang menunjukkan bahwa ia adalah anak si ibu itu. Ini kan namanya kacau. Jadi, metode semacam itu harus dikritisi.

Selain soal pembuktian kebenaran, ada kelemahan lain, yaitu dari sisi niat yang sudah tidak betul. Mereka berangkat dari keragu-raguan, sehingga berakhirnya juga dengan keragu-raguan. Karena, menurut mereka, sesuatu itu tidak ada yang absolut atau pasti, tetapi relatif.

Selain itu, mereka lebih mengandalkan metode filologi, yaitu studi naskah. Ini disebabkan mereka tidak punya sanad. Akibatnya, mereka tidak punya otoritas. Misalnya, soal kitab Sahih al-Bukhari, mereka masih meraba-raba. Berbeda dengan Ibn Hajar al-‘Asqalani yang punya sanad langsung ke Imam al-Bukhari.

* * *

Lalu, mengapa orang Islam banyak yang terpikat oleh studi yang dilakukan para orientalis? Salah satu keunggulan studi orientalis terletak pada budaya kritis mereka. Budaya ini yang kemudian menimbulkan gairah sehingga ada dinamika. Namun, budaya kritis itu sebenarnya sudah ada dalam tradisi intelektual Muslim. Bahkan, sudah berlangsung sejak lama. Tradisi kritis itu, misalnya, kalau ada ulama yang menulis buku selalu ada yang mensyarah, menulis komentar, menjelaskan, atau menjabarkan. Selain itu ada pula yang menyanggah (al-radd) atau mengkritik. Sayangnya, tradisi seperti itu sekarang sudah berkurang kecuali di Mesir.

Di Barat, kajian Islam menjadi menarik karena ada dinamika. Misalnya, pada sebuah seminar di Frankurt, Jerman, ada seorang profesor membaca kitab TalÊm al-Muta‘alim. Tapi, sebelum kitab tersebut dibahas, mereka melakukan survei sejarah dan literatur, baru masuk ke isi TalÊm al-Muta‘alim untuk dianalisis. Modelnya seperti bedah ayat. Satu demi satu dibedah, baik secara filologi dan lainnya, serta dikaitkan dengan konteks modern.

Ini berbeda dengan model pembelajaran di pesantren. Saat membaca kitab Ta‘lÊm al-Muta‘alim yang memuat syair-syair berbahasa Parsi, misalnya, ustadz yang mengajar tak tahu persis bahasa Parsi. Inilah kekurangan dan kelemahan kita. Bahkan terjemahan-terjemahan dalam bahasa Indonesia pun tidak sedikit yang keliru.

Maka boleh dikata metodologi para orientalis itu keunggulannya relatif. Sebab, dari sisi kompetensi, ulama-ulama Universitas al-Azhar (Kairo) jauh lebih unggul. Sementara mereka (orentalis) masih meraba-raba. Jadi, sebenarnya mereka tidak punya otoritas. Mestinya kita memandang orientalis dengan sebelah mata. Sayangnya umat Islam kelihatannya sedang kehilangan ‘izzah. Banyak anak-anak muda Islam merasa minder. Buku karya orang Barat justru di‘lahap’. Tapi, buku-buku ulama kita sendiri kurang kita apresiasi. Padahal seharusnya wa antum alalawna in kuntum muminÊn” (dan derajatmu lebih tinggi jika kamu beriman).

Sejauh ini perkembangan studi Islam oleh orientalis saat ini kian intensif. Giat mengkaji Islam dan masyarakat Islam. Sekarang ini telah bermunculan studi-studi Islam di Barat, terutama di Amerika Serikat setelah peristiwa 11 September (11/9). Buku-buku tentang Islam banyak sekali bermunculan dan menjamur. Baru-baru ini terbit sebuah buku pengantar (Introduction to Islam) untuk mahasiswa yang diterbikan oleh Yale University. Padahal, selama ini belum pernah universitas sekelas Yale menerbitkan buku seperti itu.

Perkembangan tersebut, di satu sisi, menggembirakan kita. Namun, di sisi lain, sebenarnya memprihatinkan. Kondisi seperti ini mengingatkan kita pada apa yang pernah dikatakan Karl Marx, they are representating us: mereka (kaum orientalis) mewakili kita (Muslim). Mereka menjadi juru bicara kita. Mereka yang menjelaskan siapa kita dan agama kita.

Awalnya mereka menjelaskan kepada orang-orang mereka sendiri lewat buku-buku yang mereka terbitkan. Namun, buku-buku itu juga dibaca oleh minoritas Muslim di sana. Maka seharusnya para ulama kita juga menulis buku-buku serupa tentang Islam yang tampilannya sama menarik dengan buku-buku yang ditulis oleh para Orientalis itu.

* * *

Saat ini orang-orang Barat gencar mengundang mahasiswa Muslim belajar Islam ke negara mereka. Tentu saja gerakan ini tak lepas dari agenda para Orientalis mengubah pandangan kaum Muslim terhadap agamanya. Orang Barat menginginkan orang Islam memahami Islam sebagaimana mereka memahami Islam. Ironisnya, tawaran tersebut disambut sangat baik oleh para sarjana Muslim. Mereka berlomba-lomba mendapatkan beasiswa untuk belajar ke Barat.

Sebenarnya hal itu tidak ada masalah jika mereka membekali diri dengan ilmu dan iman yang kuat. Yang menjadi persoalan adalah jika mereka ignorant, jahil terhadap agamanya sendiri, dan buta akan tradisi intelektual Islam. Apalagi kalau sudah kemasukan inferiority complex alias minder, sehingga mudah sekali terpukau dan terpengaruh oleh hasil kajian islamolog Barat.

Perlu diingat bahwa kampus-kampus di Barat mempelajari Islam dengan framework (cara berfikir) Orientalis. Framework tersebut begitu detail dan rumit. Kalau tidak cermat, orang tak akan menyadarinya. Padahal, cara orientalis mempelajari Islam sangat berbahaya. Mereka mempelajari Islam bukan untuk mencari kebenaran, melainkan semata-mata untuk ilmu.

Islam tidak dipelajari berdasarkan iman. Bertambahnya ilmu tidak menjadikan bertambahnya iman. Bahkan sebaliknya, dapat makin menjauhkan orang dari Tuhan.

Orang Islam yang belajar Islam dengan menggunakan framework orientalis akan menjadi Muslim yang kritis terhadap tradisi intelektual Islam, tetapi sebaliknya bisa sangat apresiatif –untuk tidak mengatakan ternganga langsung percaya dan menerima– terhadap tradisi intelektual Barat.

Perubahan cara pandang ini pada akhirnya akan mengubah banyak hal, termasuk cara berfikir dan cara berislam. Karenanya, efek negatif belajar Islam di Barat adalah orang bisa menjadi skeptis (senantiasa meragukan), agnostik (selalu mencari tapi tidak pernah menemukan), pedantik (cenderung berbelit-belit), dan reduksionistik (suka mengerucutkan permasalahan).

Namun begitu, hemat saya, kaum Muslim tetap perlu belajar studi Islam di Barat. Tetapi, sebelum pergi ke sana, harus punya bekal yang matang. Yang bersangkutan harus diikat dengan niat dan syarat yang jelas. Niatnya untuk meningkatkan pengetahuan, menambah pengalaman, dan memperluas wawasan lillahi taala (demi meraih ridho Allah), bukan lidunya yuÎÊibuha (demi mendapatkan dunia).

Kita harus akui bahwa Barat unggul dalam metodologi riset yang biasa disebut technique of scholarship. Metode ini menggabungkan penguasaan bahasa, budaya, dan sejarah, dengan kecakapan filologi dan ketajaman analisis falsafi. Adapun syaratnya, yang bersangkutan harus sudah matang dulu secara intelektual maupun spiritual.

Dan bisa jadi ada untungnya kalau kita pernah studi di Barat, terutama ketika menghadapi para pengagum Barat yang arogan dan merasa superior. Kata riwayat, sombong kepada orang yang sombong adalah sedekah.Tentu boleh jadi akan ada pengaruh negatif juga, seperti bersikap arogan menolak kebenaran, double-standard, pedantik, reduksionistik, bias, dan lain sebagainya, yang melatarbelakangi berbagai asumsi dan pendapat orientalis.

Memang harus kita akui banyak di kalangan kaum Muslim yang terpengaruh bahkan mengusung dan menyebarkan pikiran-pikiran dan gagasan mereka. Namun yang kritis terhadap orientalis juga banyak.

Contohnya, Syaikh Abdul Halim Mahmud lulusan Sorbonne, Mustafa A‘zami dari Cambridge, atau Syed Naquib Al-Attas lulusan London.

Jadi, masalah terpengaruh atau tidak, menurut saya, tergantung orangnya. Kalau kita ignorant, tidak mengerti tentang agama kita sendiri, apalagi sampai mengidap penyakit minder terhadap Barat, tentu mudah sekali terpengaruh dan terpukau oleh mereka. Pendek kata jangan seperti istri Aladdin (dongeng ‘Lampu Ajaib’), menukar lampu lama dengan lampu baru yang dijajakan oleh tukang sihir.

Ada orang yang malah mengaku menemukan Islam di Barat. Saya kira itu ungkapan frustasi yang berlebihan. Sebuah jawaban untuk pertanyaan yang telah menggangu para pemikir Muslim dari mulai Abduh, Iqbal, Rahman, hingga al-Attas: limÉdza ta’akhkhara l-muslimËn wa taqaddama ghayruhum? Mengapa umat Islam tertinggal, sementara umat-umat lain maju pesat?

Keterbelakangan umat bukan disebabkan oleh ajaran Islam, sebagaimana kemajuan Barat bukan dikarenakan agamanya, tapi karena kebersihannya, kesehatannya, ketertibannya, mentalitasnya, disiplinnya, kejujurannya, dan kerja kerasnya.

Apakah studi Islam di Barat selalu kental misi orientalisme? Kita memang tidak bisa memukul-rata. Namun, pada banyak kasus jelas bahwa studi Islam di sana tak dapat dipisahkan dari agenda-agenda tertentu yang jelas berpihak pada kepentingan politik, ekonomi, dan budaya mereka.

Misalnya, kasus imperialisme (penjajahan). Hal ini dapat dimaklumi dan terlalu naif untuk kita pungkiri.

Adapun sikap para Orientalis terhadap Islam cukup beragam. Mereka itu ada yang halus dan ada yang kasar (dalam memusuhi Islam). Kalau yang halus akan mengatakan, “Meskipun kami tidak sependapat dengan orang Islam, kami tetap harus menjaga hati orang Islam, agar tidak melukai hati mereka”.Yang halus seperti ini biasanya berusaha menulis dan bicara diplomatis. Kalau di Inggris ada Montgomerry Watt yang sengaja menggunakan ungkapan “The Qur’an says” daripada “God says in the Qur’an” ataupun “Muhammad says” (yang akan menunjukkan kekafirannya).

Kalau di Jerman ada Annemarie Schimmmel, seorang ahli Pakistan, India, Parsia, dan sufistik Timur. Pernah karena begitu simpatiknya terhadap Islam, anugerah internasional Pen Award di Perancis sampai dicabut kembali. Pasalnya, ketika diwawancarai soal Salman Rushdie, ia bilang, Salman itu salah. Menurut Schimmel, tindakan si penulis buku “Ayat–ayat Setan” (The Satanic Verses) itu tidak bisa dibenarkan, sebab telah melukai hati orang Islam. Akibat komentarnya itu, Schimmel diprotes dan penghargaan yang ia terima ditarik. Memang ada yang bilang Schimmel sudah masuk Islam, akan tetapi bukan itu yang penting. Sikap dan komentarnya yang mengatakan Salman Rushdie itu salah dan melukai umat Islam itulah yang menarik. Di sini jelas ada perbedaan kepentingan dan percanggahan ideologi.[]

Print Friendly, PDF & Email
Post Tagged with , , , , ,
error: Content is protected !!