{"id":1062,"date":"2020-05-08T16:09:55","date_gmt":"2020-05-08T16:09:55","guid":{"rendered":"https:\/\/staiindojkt.ac.id\/?p=1062"},"modified":"2020-05-08T16:09:57","modified_gmt":"2020-05-08T16:09:57","slug":"makna-puasa","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/staiindojkt.ac.id\/?p=1062","title":{"rendered":"Makna Puasa"},"content":{"rendered":"\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"1024\" height=\"731\" src=\"https:\/\/staiindojkt.ac.id\/wp-content\/uploads\/2020\/05\/Untitled-88888-1024x731.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-1063\" srcset=\"https:\/\/staiindojkt.ac.id\/wp-content\/uploads\/2020\/05\/Untitled-88888-1024x731.jpg 1024w, https:\/\/staiindojkt.ac.id\/wp-content\/uploads\/2020\/05\/Untitled-88888-300x214.jpg 300w, https:\/\/staiindojkt.ac.id\/wp-content\/uploads\/2020\/05\/Untitled-88888-768x549.jpg 768w, https:\/\/staiindojkt.ac.id\/wp-content\/uploads\/2020\/05\/Untitled-88888-1536x1097.jpg 1536w, https:\/\/staiindojkt.ac.id\/wp-content\/uploads\/2020\/05\/Untitled-88888-2048x1463.jpg 2048w\" sizes=\"auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><\/figure>\n\n\n\n<p>Makna Puasa\n:<\/p>\n\n\n\n<p><strong><em>Tazkiyatun Nafs dan Jasad <\/em><\/strong><strong><\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><em>Oleh :\nSyamsuddin Arif<\/em><\/p>\n\n\n\n<p><strong>P <\/strong>uasa adalah\nritual klasik yang terdapat pada semua agama wahyu. Inilah yang disitir dalam\nfirman Allah ; <em>kama\u2019 kutiba \u2018ala lladzina\nmin qablikum<\/em> (QS 2: 183), sebagaimana diinstrukiskan kepada umat-umat para\nnabi zaman dahulu \u2013yang semuanya beragama Islam jua.<\/p>\n\n\n\n<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Kendati bagaimana persisnya cara\nmereka berpuasa hanya dapat diduga-duga, mungkin begini dan mungkin begitu,\nyang jelas syariat Nabi Muhammad saw telah menganulir sekaligus mengintrodusir\nbentuk final tata tertib puasa bagi kaum beriman (<em>alladzina amanu<\/em>) seperti kita semua. Artinya, cara berpuasa yang\ntidak sejalan atau berbeda dengan regulasi yang ditetapkan dalam syariat Islam\n(yakni preskripsi al-Qur\u2019an dan tradisi Rasulullah) dianggap nihil.<\/p>\n\n\n\n<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Ditilik dari sudut semantik, lafaz \u2018shiyyam\u2019\nyang dipakai al-Qur\u2019an untuk \u2018puasa\u2019 asalnya mengandung arti bertahan atau\nmenahan diri, dari kata kerja reflexif : <em>\u201cshama-yashimu.\u201d<\/em>\nNamun, dalam konteks syariat Islam, puasa (<em>shiyam<\/em>)\nyang dimaksud ialah menahan diri dari makan-minum dan kegiatan seksual sejak\nterbit fajar hingga terbenam matahari, dengan niat ibadah kepada Allah\ntentunya.<\/p>\n\n\n\n<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Khusus di bulan suci Ramdhan, puasa\nmerupakan kemestian perorangan (fardhu \u2018ayn) setiap individu yang berakal dan\ntumbuh dewasa, dengan beberapa pengecualian yang diuraikan detailnya dalam\nbuku-buku fikih. Di luar bulan suci Ramdhan kaum Muslim juga dibolehkan dan\ndianjurkan berpuasa secara suka rela (<em>tathawwu\u2019<\/em>)\nberdasarkan petunjuk<\/p>\n\n\n\n<p>*Dimuat\ndi Koran Republika edisi 19 Juli 2012, <em>sisipan\nIslamia. <\/em><\/p>\n\n\n\n<p>Rasulullah\nsaw, disamping puasa denda dan kompensasi (<em>qadha\u2019<\/em>)\nsesuai dengan aturan yang berlaku. <\/p>\n\n\n\n<p><strong>Multifungsi\nPuasa<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><strong>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; <\/strong>Seperti halnya yang lain, puasa\nadalah ibadah multifungsi dan multidimensi. Yang pertama boleh kita namakan\nfungsi <strong>konfirmatif.<\/strong>&nbsp; Jangan mengaku orang Islam dan beriman kalau\ntidak puasa di bulan suci Ramadhan tanpa alasan yang dibenarkan. Berpuasa\nmerupakan bukti pengukuh keislaman dan keimanan anda. <\/p>\n\n\n\n<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Kedua, fungsi <strong>purifikatif<\/strong>. Orang yang berpuasa sesungguhnya mensucikan dirinya.\nPuasa adalah instrumen pembersih kotoran-kotoran jiwa, seperti halnya shalat.\nOrang yang berpuasa tidak hanya menolak yang haram dan menjauhi yang belum\ntentu- halal dan belum tentu haram. Jangankan yang syubhat dan yang haram,\nsedangkan jelas halal pun tak dijamahnya. <\/p>\n\n\n\n<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Puasa berfungsi mematahkan dua\nsyahwat sekaligus: yakni syahwat perut dan syahwat kemaluan. Demikian kata Imam\nar-Razi dalam kitab tafsirnya (<em>Mafath\nal-Ghayb, <\/em>cetakan Darul Fikr Lebanon 1426\/2005, juz 4, jilid 2, hlm. 68).\nSyah Waliyyulah ad-Dihlawi menambahkan : puasa itu ibarat <em>tiryaq <\/em>penawar bagi racun-racun syaitan, semacam detoxifikasi\nspiritual. <\/p>\n\n\n\n<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Dengan puasa anda memukul naluri\nkebinatangan (<em>al-bahimiyyah<\/em>) yang\nmungkin selama ini menguasai diri anda. Puasa sejati melumpuhkan syaitan dan\nmembuka gerbang malakut (<em>Hujjahtullah\nal-Balighah<\/em>, cetakan Kairo 1355 H, juz 1, hlm. 48-50).<\/p>\n\n\n\n<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Itulah sebabnya mengapa dalam suatu\nriwayat disebutkan bahwa mereka yang berhasil menamatkan puasa sebulan Ramadhan\ndisertai iman dan pengharapan bakal dihapus dosa-dosanya sehingga kembali suci\nfitri bagikan bayi baru dilahirkan dari rahim ibunya. <\/p>\n\n\n\n<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Ketiga, fungsi <strong>iluminatif. <\/strong>Para awliya\u2019 dan orang-orang shaleh diketahui amat suka\nberpuasa karena, seperti ditururkan oleh Syekh Abdul Wahhab as-Sya\u2019rani dalam\nkitabnya, mereka justru memperoleh pencerahan batin (<em>ghayat an-nuraniyyah<\/em>) dan peneguhan rohani serta berbagai kebajikan\nberlimpah tatkala mereka berpuasa (<em>Tanbih\nal-Mughatarrin<\/em>), cetakan Damaskus hl. 55). <\/p>\n\n\n\n<p>*** <\/p>\n\n\n\n<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Puasa menaikkan status mereka ke\nderajat malaikat yang penuh taat dan hampa maksiat. Hasilnya semakin dekat\nmereka kepada Allah, sumber hakiki segala ilmu dan hikmah manusia. Puasa\nmenjernihkan ruang komunikasi spiritual antara alam nasut dengan alam malakut.\nDi saat berpuasa, sinyal-sinyal makrifat akan lebih jelas, lebih mudah dan\nlebih banyak dapat ditangkap. <\/p>\n\n\n\n<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Keempat, fungsi <strong>preservatif.<\/strong> Selain mensucikan jiwa dan mencerahkan nurani, ibadah\npuasa juga berdampak positif terhadap kesehatan tubuh kita. Sebuah hadis yang\ndisandarkan kepada Rasulullah saw menyatakan: \u201cBerpuasalah, niscaya anda sehat\u201d\n(<em>shumu, tashihhu<\/em>), riwayat Imam\nat-Thabarani dari Abi Hurayrah r.a. dan Ibn \u2018Adiyy dari Sayyidina Ali dan Ibn \u2018Abbas\nr.a.<\/p>\n\n\n\n<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Meskipun jalur transmisi hadis masih\ndiperdebatkan, kebenaran matan&nbsp; atau\nisinya sudah banyak dibuktikan secara medis. Kalau kita makan tiga kali sehari\nmaka rata-rata tiap 8 jam lambung kita mendapat tugas baru. Padahal makanan\nditampung dan dicerna oleh lambung selama 4 jam, diolah sampai diserap oleh\nusus selama 4 jam. <\/p>\n\n\n\n<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Ini berarti perut kita terus-menerus\nbekerja tanpa istirahat sama sekali. Nah, puasa memberikan interval waktu bagi\norgan-organ pencernaan tersebut untuk merenovasi sel-sel yang rusak dan\nmemberikan kesempatan energi tubuh memenuhi kebutuhan organ-organ lainnya. <\/p>\n\n\n\n<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Benarlah sabda Rasulullah saw : \u201cSegala\nsesuatu ada zakatnya, Zakatnya tubuh adalah puasa (<em>li-kulli syay\u2019in zakah, wa zakatul jasad as-shawmu<\/em>)\u201d, hadis riwayat\nImam Ibn Majah dari Abi Hurayrah r.a. (no. 1745). Bukankah zakat itu makna\ndasarnya bersih dan tumbuh, sehingga puasa berarti <strong><em>tazkiyatun nafs<\/em><\/strong> plus <strong><em>tazkiyatul\njasad.<\/em><\/strong> <\/p>\n\n\n\n<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Penelitian mutakhir Hari Basuki dan\nDwi Prijatmoko (2005) dari FKG Universitas Jember menyimpulkan bahwa puasa\nselama Ramadhan dapat menurunkan risiko kardiovaskuler melalui perubahan\nkomposisi tubuh, tekanan darah dan plasma kolesterol. Tidak ada yang perlu\ndikhawatirkan dari puasa walaupun di musim panas yang waktu siangnya lebih\npanjang dari waktu malam, seperti di Eropa atau Australia. <\/p>\n\n\n\n<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Sebagaimana ditegaskan A.J. Carlson,\nProfesor Fisiologi di Universitas Chicago Amerika Serikat, seorang manusia\nnormal yang sehat bisa bertahan hidup 50 hingga 75 hari tanpa makanan, asalkan\ntidak terkena unsur-unsur toksik dan atau tekanan emosi. Cadangan lemak dalam\ntubuh manusia diyakini lebih dari cukup untuk memberinya tenaga untuk bekerja\nselama beberapa minggu. <\/p>\n\n\n\n<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Di atas itu semua, puasa berfungsi\nmengubah. Ya puasa merupakan ibadah <strong>transformatif.<\/strong>&nbsp; Puasa seperti disyariatkan oleh agama dapat\nmengubah diri anda menjadi orang bertaqwa. <em>La\u2019allakum\ntattaqun<\/em>, firman Allah dalam kitab suci al-Qur\u2019an (2: 183). Kalau latihan\nmiliter bisa mengubah seseorang yang asalnya lemah lembut lagi penuh kasih\nsayang menjadi keras dan bengis tak mengenal belas kasihan, maka latihan\nRamadhan dapat mengubah seseorang yang tadinya fasiq (banyak melanggar hukum\nAllah) atau munafiq menjadi shaleh dan bertaqwa kepada Allah. <\/p>\n\n\n\n<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Dan ini logis kalau kita ingat bahwa\npuasa itu merupakan ibadah rahasia, bukan ibadah publik yang dapat disaksikan\noleh orang lain seperti halnya, sholat, zakat, dan haji. Hanya Allah dan kita\nsendiri sebagai pelakunya yang mengetahui apakah kita berpuasa ataukah tidak. <\/p>\n\n\n\n<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Dampak transformatif ini juga\nterkait dengan kecerdasan emosi. Daniel J. Goleman (1995) mengutip penelitian\nseorang psikolog terhadap sejumlah anak-anak TK usia 4 tahun. Anak-anak ini\ndipanggil satu per satu oleh guru mereka ke dalam sebuah ruangan dan disuguhkan\nsepotong kue lezat di atas meja. Sang guru berkata ; \u201cBu Guru akan keluar\nsebentar dan kamu boleh makan kue ini, tetapi kalau kamu tunggu beberapa menit\nsampai Bu Guru datang, kamu akan dapat dua (ditambah sepotong lagi).\u201d <\/p>\n\n\n\n<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Empat belas tahun kemudian,\nsetamatnya mereka dari sekolah menengah, anak-anak yang dulunya langsung makan\nkue tersebut ditemukan rendah prestasinya, labil emosinya, cenderung suka\nbertengkar dan sulit mencapai target yang dikehendaki, sementara mereka yang\nsabar menunggu sampai Bu Guru datang dan karenanya mendapatkan imbalan dua\npotong kue, ditemukan lebih baik prestasinya, mempunyai emosi yang stabil,\nlebih berdikari dan mampu mengendalikan diri dalam keadaan tertekan sekalipun.\nBegitu pula orang seperti Imam as-Syafi\u2019i dan para ilmuan hebat lainnya sukses\ndalam karirnya berkat banyak berpuasa. <\/p>\n\n\n\n<p>*** <\/p>\n\n\n\n<p><strong>Multidimensi\nPuasa <\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><strong>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; <\/strong>Dalam salah satu kitabnya yang\nterkenal, Imam al-Ghazali menguraikan beberapa dimensi puasa yang baik\ndiketahui jika kita menghendaki hasil optimal sebagaimana tersebut di atas, dan\nbukan sekedar hasil minimal yaitu gugurnya kewajiban dan tetapnya identitas\ndiri sebagai mukmin-muslim. Menurutnya, ada tiga dimensi puasa. <\/p>\n\n\n\n<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Pertama, dimensi <strong><em>eksoterik,<\/em>\n<\/strong>dimana anda menahan diri dari makan-minum dan kegiatan seksual. Beliau menyebutnya\n<em>shawm al-bathn wa l\u2019farj. <\/em>Dimensi ini\npenting karena menjadi syarat minimal puasa. <\/p>\n\n\n\n<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Kedua, dimensi <strong><em>semi-esoterik, <\/em><\/strong>dimana\nseseorang itu tidak hanya berpuasa perut dan kemaluannya, tetapi juga panca\nindera dan anggota tubuh lainnya. Yakni apabila ia mengunci mulutnya,\npenglihatan, pendengaran, dan kaki tangannya dari segala yang haram dan\nsyubhat. Imam al-Ghazali mengistilahkannya <em>shawm\nal-jawarih.<\/em> <strong><em>&nbsp;<\/em><\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Yang, ketiga adalah dimensi <strong><em>esoterik,\n<\/em><\/strong>dimana anda berpuasa total, mencekik syahwat badaniah dan syahwat\nbatiniah sekaligus. Namanya <em>shawm al-qalb<\/em>,\nyaitu apabila hati dan akal pikiran pun berpuasa dari pelbagai keinginan,\nkerinduan, dan harapan kepada sesuatu dan sesiapa jua melainkan Allah. Menurut\nImam al-Ghazali, seyogyanya puasa kita merangkum tiga dimensi tersebut (Lihat:\nIhya \u2018Ulumiddin, juz 3, hlm. 428-430). <\/p>\n\n\n\n<p>***<\/p>\n\n\n\n<p>Disadur oleh Santri Masbuk\/Pewarta STAIINDO JAKARTA.<\/p>\n\n\n\n<p>*Ilustrasi Gambar\/Dhani.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Makna Puasa : Tazkiyatun Nafs dan Jasad Oleh : Syamsuddin Arif P uasa adalah ritual klasik yang terdapat pada semua agama wahyu. Inilah yang disitir dalam firman Allah ; kama\u2019 kutiba \u2018ala lladzina min qablikum (QS 2: 183), sebagaimana diinstrukiskan kepada umat-umat para nabi zaman dahulu \u2013yang semuanya beragama Islam jua. &nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Kendati bagaimana persisnya [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":7,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"pagelayer_contact_templates":[],"_pagelayer_content":"","footnotes":""},"categories":[26],"tags":[],"class_list":["post-1062","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-berita"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/staiindojkt.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/1062","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/staiindojkt.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/staiindojkt.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/staiindojkt.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/7"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/staiindojkt.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=1062"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/staiindojkt.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/1062\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":1064,"href":"https:\/\/staiindojkt.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/1062\/revisions\/1064"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/staiindojkt.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=1062"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/staiindojkt.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=1062"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/staiindojkt.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=1062"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}