{"id":543,"date":"2019-09-05T03:23:47","date_gmt":"2019-09-05T03:23:47","guid":{"rendered":"http:\/\/staiindojkt.ac.id\/?p=543"},"modified":"2019-09-22T10:55:45","modified_gmt":"2019-09-22T10:55:45","slug":"studi-islam-di-barat-cita-fakta-ciri-dan-cara","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/staiindojkt.ac.id\/?p=543","title":{"rendered":"Studi Islam di Barat: Cita, Fakta, Ciri dan Cara"},"content":{"rendered":"\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Oleh: <strong>Syamsuddin Arif<\/strong> <\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-drop-cap wp-block-paragraph\">Istilah \u2018Orientalis\u2019 dalam tulisan ini menunjuk para sarjana atau ilmuan Barat (<em>i.e. <\/em>Eropa, Amerika, Australia) yang melakukan kajian intensif terhadap peradaban Islam. Bidang kajian mereka tidak terbatas soal agama Islam, akan tetapi mencakup sejarah, budaya, bahasa, ekonomi, politik, hukum bahkan militer. Mereka juga memperluas wilayah kajian terhadap peradaban-peradaban dunia yang lain seperti India, China, Mesopotamia dan Mesir purba. Kepentingan mereka dalam mengkaji peradaban-peradaban Timur juga didorong semangat zaman Pencerahan <em>(Aufkl\u00e4rung) <\/em>yang semboyan terkenal: <em>\u201cEx Oriente Lux\u201d <\/em>(Dari Timur muncul cahaya).<\/p>\n\n\n\n<div class=\"wp-block-image\"><figure class=\"aligncenter\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"852\" height=\"480\" src=\"http:\/\/staiindojkt.ac.id\/wp-content\/uploads\/2019\/09\/belajar.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-574\" srcset=\"https:\/\/staiindojkt.ac.id\/wp-content\/uploads\/2019\/09\/belajar.jpg 852w, https:\/\/staiindojkt.ac.id\/wp-content\/uploads\/2019\/09\/belajar-300x169.jpg 300w, https:\/\/staiindojkt.ac.id\/wp-content\/uploads\/2019\/09\/belajar-768x433.jpg 768w\" sizes=\"auto, (max-width: 852px) 100vw, 852px\" \/><\/figure><\/div>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kecenderungan orang-orang Barat mengkaji Islam semakin besar terutama sesudah Perang Salib yang meletus pada abad kesebelas Masehi. Mulailah mereka terjemahkan buku-buku orang Islam dari bahasa Arab ke bahasa Latin. Pada tahun 1143 al-Qur\u2019an selesai diterjemahkan ke dalam bahasa Latin oleh Robert of Ketton dengan judul <em>\u2018Lex Mahumetis Pseudoprophete.\u2019 <\/em>Proyek ini diselesaikan di Spanyol atas bantuan Petrus Venerabilis, ketua biara Cluny di Perancis. Demikian pula dengan karya-karya intelektual Muslim seperti kitab <em>al-Syif<\/em>a<em>\u2019 <\/em>(ilmu filsafat), <em>al-Qunun fi at-Tibb <\/em>(ilmu kedokteran), <em>at-Tahrif <\/em>(ilmu bedah atau chirurgy), dan kitab <em>al-Zaj <\/em>(ilmu astronomi).<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dari\ngerakan penerjemahan, pada abad ke-16 mulailah universitas- universitas tua di Eropa mengajarkan bahasa Arab dan\nbahasa-bahasa Islam lainnya seperti\nParsi dan Turki.\nDi Paris studi\norientalis dibuka pada\ntahun 1535, di Leiden pada\ntahun 1613, diikuti\nOxford dan Cambridge pada tahun 1636, sesudah\nSalamanca, Roma, dan Bologna.<br><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pada awalnya, orang-orang Barat belajar Islam\ndalam rangka kebangkitan kembali yang\nkemudian mereka sebut\nRenaissance. Namun, tujuan\nmereka tidak sekedar untuk itu, mereka juga mengekpresikan kejahatan\nagama Islam kepada publik\nyang mereka salahpahami dari ajaran-ajarannya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Semangat mempelajari agama Islam tampak juga pada hubungannya dengan kolonialisasi. Hal ini bisa dilihat pada saat\nNapoleon Bonaparte datang ke Mesir\n(1789 M) dengan membawa pasukan dan para ilmuan yang ditugaskan mempelajari bahasa, agama, dan budaya\norang-orang Mesir.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Hubungan ini makin rapat\npada saat penjajahan Belanda di Indonesia yang menjadikan studi Islam sebagai alat untuk menaklukkan\ndaerah Aceh seperti diperlihatkan\nSnouck Hurgronje.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Hampir tak ada\nbidang yang luput\ndari kajian para\norientalis. Pada abad\nke- 19 beberapa orientalis mulai\nmelihat pentingnya metodologi yang lazim dipakai\ndalam studi Bibel untuk diterapkan juga dalam studi Islam khususnya metode kritik\nsejarah. Bermacam-macam teori\nkajian Islam dan sejarahnya pun dikenalkan kepada kaum Muslim, terutama pada\ncendekiawannya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Muncul pelbagai teori yang kerap dipakai Orientalis, semisal teori pengaruh (theories of influence), teori asal-asul <em>(theories\nof origins)<\/em>, teori peminjaman <em>(theories of borrowing)<\/em>, teori evolusi <em>(theories of evolution)<\/em>, dan teori perkembangan <em>(theories\nof development)<\/em>. Teori-teori ini diterapkan oleh\nOrientalis sebagaimana tampak\ndalam karya-karya mereka.\nContohnya: <em>A <\/em><em>L<\/em><em>i<\/em><em>t<\/em><em>e<\/em><em>r<\/em><em>a<\/em><em>r<\/em><em>y<\/em><em> <\/em><em>H<\/em><em>i<\/em><em>s<\/em><em>t<\/em><em>o<\/em><em>r<\/em><em>y<\/em><em> <\/em><em>o<\/em><em>f<\/em><em> <\/em><em>t<\/em><em>h<\/em><em>e<\/em><em> <\/em><em>A<\/em><em>r<\/em><em>a<\/em><em>b<\/em><em>s<\/em><em> <\/em>oleh Reynold Nicholson, <em>J<\/em><em>u<\/em><em>d<\/em><em>a<\/em><em>i<\/em><em>s<\/em><em>m<\/em><em> <\/em><em>i<\/em><em>n<\/em><em> Is<\/em><em>l<\/em><em>a<\/em><em>m<\/em><em> <\/em>karya Abraham I. Katsch, <em>Quranic Studies\n<\/em>oleh John Wansbrough dan sejenisnya.\nPendekatan mereka ini telah mempengaruhi sebagian cendekiawan di Nusantara, sehingga ada yang hendak\nmembuat \u201cEdisi Kritis\u201d\nal-Qur\u2019an.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Perbedaan studi Islam yang dilakukan para Orientalis dan kaum Muslim dapat dilihat dari asumsi dibalik metodologinya. Orientalis menjadikan Islam sebagai objek penelitian tanpa mempedulikan kebenaran yang ada di dalamnya. Mereka mengkaji Islam sekadar untuk penelitian, tanpa mempertimbangkan orang-orang Islam yang memeluknya dan kebenaran yang diyakini dari agama ini. Selain itu, mereka juga melihat agama Islam sebagai fenomena sosial atau literatur yang layak dikaji melalui pendekatan budaya, sosiologi, antropologi, sejarah, politik dan perbandingan agama. Dengan begitu, mereka membagi Islam dalam dua kategori: \u2018Islam normatif\u2019 (yakni segala norma dan aturan keagamaan yang ditentukan oleh Allah), dan \u2018Islam aktual\u2019 (ajaran yang dilakukan oleh orang-orang Islam di berbagai tempat). Akibatnya dibuat-lah kategori-kategori keliru semacam \u2018Islam klasik\u2019, \u2018Islam Abad Pertengahan\u2019, \u2018Islam Fundamentalis\u2019, \u2018Islam Moderat\u2019, \u2018Islam Radikal\u2019, dan \u2018Islam Liberal\u2019. Semua ini adalah cara pandang yang mengelirukan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Untuk membendung serbuan intelektual yang amat masif dari para Orientalis, kita memerlukan cendekiawan-cendekiawan\nMuslim dengan basis tradisi keilmuan\nIslam yang kuat, akan tetapi juga menguasai wacana dan strategi orientalis dalam studi Islam,\npunya rasa percaya\ndiri sebagai Muslim dan mau bersikap\nkritis terhadap kajian\norientalis. Orang-orang\nseperti Prof. Muhammad Rasjidi almarhum, Prof.\nMustafa al-A\u2018zami, atau Prof. Naquib al-Attas\nboleh dijadikan contoh\ndalam perkara ini.\nKini ditunggu munculnya\nsarjana-sarjana Muslim yang melanjutkan dan mengembangkan apa yang\ntelah mereka rintis.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\" style=\"text-align:center\">* * *<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dalam sebuah monograf kecil berjudul: <em>al-Istisyraq bayn al-Mawqi\u2018iyyah wa l- Ifti\u2018aliyyah<\/em>, yang diterbitkan oleh Dar ar-Rifa\u2018i, Riyadh, Saudi Arabia pada tahun 1403\/1983, Prof. Dr Qasim as-Samarra\u2019i, seorang pakar Paleografi dan Codicologi asal Iraq, lulusan Universitas Cambridge, England, telah menyingkap sejarah dan hakikat orientalis secara bijak, dan objektif.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Mengapa masalah orientalis ini perlu dibahas? Jawabnya karena \u201ckerja-kerja\npara\norientalis itu telah\nmengakibatkan kepalsuan tersebar\nluas dan sampai kini menguasai media massa\nEropa. Tulisan-tulisan mereka\nmengaburkan kebenaran dan menyimpang dari\netika ilmiah sejati.\nPara orientalis itu menanamkan imej yang buruk dan pemahaman keliru mengenai agama Islam, Nabi Muhammad, kitab suci al-Qur\u2019an dan orang Islam\u201d.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Akibatnya, kata beliau, banyak kaum pelajar maupun cendekiawan Muslim yang terpengaruh para orientalis. Contohnya \u00d9\u00c9h\u00c9 \u00d7usayn yang mengatakan bahwa: \u201cKita mesti menuntut ilmu kepada mereka [yakni para orientalis] sampai kita mampu berdiri di atas kaki sendiri dan terbang dengan sayap-sayap kita\u201d (Lihat: <em>Fi al-adab al-Jahiliyy<\/em>, hlm. 9-11). Atau Najib al-\u2018Aqiqi yang terkagum-kagum dengan hasil karya orientalis dan memuji mereka setinggi langit. Sikap keterlaluan ini menunjukkan kejahilan dan penyakit kejiwaan yang disebut <em>Minderw\u00fcrdigkeit <\/em>atau inferiority complex. Yaitu runtuhnya keyakinan terhadap diri sendiri sebagai Muslim dan Mukmin yang tinggi peradabannya dan agung sejarahnya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Beberapa observasi menarik diutarakan as-S\u00c9marr\u00c9\u2019\u00ca. Pertama, mengenai dua macam\ntulisan orientalis: yang ditujukan kepada rakan sebangsa mereka dan yang sengaja\nditulis untuk pembaca\numum. Kedua, perihal\nmetode yang ditempuh yaitu bertolak dari dan kembali pada teori\npengaruh, sehingga mereka\nmendakwa Islam telah\nmeminjam ini dan\nitu dari agama Yahudi, Kristen dan sebagainya.\nKetiga, fakta bahawa para orientalis itu tidak\ndapat melepaskan diri\ndari keyahudian, kekristenan atau sikap rasis dan ethnosentrik mereka apabila\nmenulis mengenai Islam\ndan orang Islam (Arab, Turki, Melayu). Keempat, meskipun para orientalis itu kedengarannya positif atau kelihatannya objektif,\nakan tetapi di balik itu mereka sebenarnya menolak\nkenabian Muhammad SAW dan menngingkari kewahyuan al-Qur\u2019an sebagai\nKalam Allah SWT.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Yang lebih menarik lagi adalah sepak-terjang C. Snouck Hurgronje. Orientalis Belanda yang\npernah menyamar sebagai\nMuslim dan bermukim di Mekkah ini\ndi-kenal cerdik dan jahat. Dipakainya nama palsu \u2018Abdul Ghaff\u0101r\u2019 untuk\nmenipu, supaya bisa menjalin hubungan dengan tokoh- tokoh ulama di Mekkah, mengutip informasi-informasi\npenting mengenai orang Islam, dan \u2013ini yang\nlebih parah- mengawini putri seorang camat di\nIndonesia. Padahal, sebenarnya \u201cdia persembahkan dirinya\nsebagai penebus Jesus,\u201d kata Sjord\nvan Koningsveld, pakar\nsejarah dari Leiden.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\" style=\"text-align:center\">* * *<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Bagaimana metodologi Orientalis dalam mengkaji Islam? Ada beberapa pendekatan yang mereka lakukan. Salah satunya adalah pendekatan sejarah atau biasa disebut <em>\u2018historical approach\u2019 <\/em>atau <em>\u2018historical criticism\u2019<\/em>. Maksud pendekatan ini adalah mengkaji sejarah secara kritis. Mereka mengatakan bahwa suatu dokumen harus dipelajari sebagaimana ahli anatomi memperlakukan mayat. Yang dimaksud \u2018dokumen\u2019 di sini adalah sesuatu yang tertulis, bukan yang diucapkan. Karena itu, tradisi dokumen dianggap tidak berhubungan dengan tradisi oral atau lisan. Fokus kajiannya hanya pada teks <em>(written document)<\/em>.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kajian seperti ini pertama kali\nditerapkan pada Bible.\nDalam kajian tersebut terlebih dulu mereka mencari\nnaskah aslinya. Setelah\nitu isinya ditelaah dan kemudian dicari pembuktiannya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sebagai contoh, tahun\n50-an ditemukan sebuah\nnaskah Bible di sebuah gua di dekat Laut Mati yang yang\nkemudian dikenal dengan sebutan Naskah Laut\nMati. Dalam naskah tersebut disebutkan bahwa Nabi Musa AS bersama pengikutnya eksodus\ndari Mesir melalui\nlaut merah. Dari\nsinilah kemudian mereka ingin membuktikan kebenaran cerita tersebut\ndengan melakukan kajian arkeologi.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Jika ternyata secara arkeologis tidak atau belum ditemukan bukti-bukti\nyang mendukung, mereka\ntidak akan percaya\ndengan kitab itu.\nJadi, semua cerita yang ada\ndalam kitab suci\nharus diragukan dulu\ndan tidak boleh dipercaya. Isi kitab\nsuci harus dianggap sebagai mitos (dongeng).<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Karenanya, pelaku studi\nini harus tidak\npercaya dulu dengan\nobyeknya. Jika obyek itu agama, maka ia harus meninggalkan agamanya\ndulu, alias kafir. Ini kan berbahaya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kalau ini juga\ndiikuti oleh para\nsarjana Muslim, risikonya jelas sangat besar. Saat mereka melepaskan\nkeyakinannya terhadap Islam, lalu meninggal, maka ia menjadi murtad.\nIni sangat bermasalah. Oleh karena itu,\nperlu ada <em>meta-method<\/em>, yaitu kritik terhadap metode tersebut. Metode ini\nharus dikritisi karena ia sendiri diragukan kebenarannya. Metode itu\n<em>kan <\/em>hanya terfokus pada obyektivitas, kemudian butuh pembuktian. Padahal, ketiadaan bukti bukan berarti bukti\nketiadaan. Sebagai contoh,\nkita percaya bahwa\nkita punya otak.\nTapi, jika kita\ndisuruh membuktikan keberadaan otak kita, itu namanya bunuh diri.\nMana mungkin kita\nmengeluarkan otak kita.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Contoh lainnya, ada seorang ibu hamil tua yang terdampar di sebuah pulau kemudian melahirkan seorang anak. Setelah anak itu besar, si ibu berkata pada anak itu bahwa ia darah dagingnya. Tetapi, anaknya menolak dengan alasan tidak ada bukti luar yang menunjukkan bahwa ia adalah anak si ibu itu. Ini kan namanya kacau. Jadi, metode semacam itu harus dikritisi.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Selain soal pembuktian kebenaran, ada kelemahan lain, yaitu dari\nsisi niat yang sudah\ntidak betul. Mereka\nberangkat dari keragu-raguan, sehingga berakhirnya\njuga dengan keragu-raguan. Karena, menurut mereka, sesuatu itu tidak ada yang absolut\natau pasti, tetapi\nrelatif.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Selain itu, mereka\nlebih mengandalkan metode\nfilologi, yaitu studi\nnaskah. Ini disebabkan mereka\ntidak punya sanad.\nAkibatnya, mereka tidak\npunya otoritas. Misalnya, soal\nkitab Sahih al-Bukhari, mereka masih meraba-raba. Berbeda dengan Ibn Hajar al-\u2018Asqalani yang punya sanad\nlangsung ke Imam al-Bukhari.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\" style=\"text-align:center\">* * *<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Lalu, mengapa\norang Islam banyak\nyang terpikat oleh\nstudi yang dilakukan para orientalis? Salah satu keunggulan studi\norientalis terletak pada budaya\nkritis mereka. Budaya\nini yang kemudian\nmenimbulkan gairah sehingga\nada dinamika. Namun, budaya kritis itu sebenarnya sudah ada dalam\ntradisi intelektual Muslim. Bahkan,\nsudah berlangsung sejak\nlama. Tradisi kritis itu, misalnya, kalau ada ulama yang menulis buku selalu ada yang mensyarah, menulis komentar, menjelaskan, atau menjabarkan. Selain itu ada pula yang menyanggah (al-radd) atau mengkritik. Sayangnya, tradisi\nseperti itu sekarang sudah berkurang kecuali\ndi Mesir.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Di Barat, kajian Islam menjadi menarik karena ada dinamika. Misalnya, pada sebuah seminar di Frankurt, Jerman, ada seorang profesor membaca kitab <em>Ta\u2018lim al-Muta\u2018alim<\/em>. Tapi, sebelum kitab tersebut dibahas, mereka melakukan survei sejarah dan literatur, baru masuk ke isi <em>Ta\u2018lim al-Muta\u2018alim <\/em>untuk dianalisis. Modelnya seperti bedah ayat. Satu demi satu dibedah, baik secara filologi dan lainnya, serta dikaitkan dengan konteks modern.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ini berbeda dengan model pembelajaran di pesantren. Saat membaca kitab <em>Ta\u2018lim al-Muta\u2018alim <\/em>yang memuat syair-syair berbahasa Parsi, misalnya, ustadz yang mengajar tak tahu persis bahasa Parsi. Inilah kekurangan dan kelemahan kita. Bahkan terjemahan-terjemahan dalam bahasa Indonesia pun tidak sedikit yang keliru.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Maka boleh dikata metodologi para orientalis itu keunggulannya relatif. Sebab, dari sisi kompetensi, ulama-ulama Universitas al-Azhar (Kairo) jauh lebih unggul. Sementara mereka (orentalis) masih meraba-raba. Jadi, sebenarnya mereka tidak punya otoritas. Mestinya kita memandang orientalis dengan sebelah mata. Sayangnya umat Islam kelihatannya sedang kehilangan <em>\u2018izzah<\/em>. Banyak anak-anak muda Islam merasa minder. Buku karya orang Barat justru di\u2018lahap\u2019. Tapi, buku-buku ulama kita sendiri kurang kita apresiasi. Padahal seharusnya <em>\u201cwa antum al-a\u2018lawna in kuntum mu\u2019minin<\/em>\u201d (dan derajatmu lebih tinggi jika kamu beriman).<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sejauh ini perkembangan studi Islam oleh\norientalis saat ini kian intensif. Giat mengkaji Islam dan masyarakat Islam. Sekarang ini telah bermunculan studi-studi Islam di Barat, terutama di Amerika Serikat\nsetelah peristiwa 11 September (11\/9). Buku-buku tentang\nIslam banyak sekali bermunculan dan menjamur. Baru-baru ini terbit sebuah\nbuku pengantar <em>(Introduction to\nIslam) <\/em>untuk mahasiswa yang\nditerbikan oleh Yale University. Padahal, selama ini belum pernah\nuniversitas sekelas Yale menerbitkan buku seperti\nitu.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Perkembangan tersebut, di satu sisi,\nmenggembirakan kita. Namun,\ndi sisi lain, sebenarnya memprihatinkan. Kondisi seperti\nini mengingatkan kita pada apa yang pernah dikatakan Karl Marx, <em>they are representating us<\/em>: mereka (kaum orientalis) mewakili kita (Muslim). Mereka menjadi juru\nbicara kita. Mereka yang menjelaskan siapa kita dan agama kita.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Awalnya mereka menjelaskan kepada orang-orang mereka sendiri lewat\nbuku-buku yang mereka\nterbitkan. Namun, buku-buku itu juga dibaca\noleh minoritas Muslim di sana. Maka\nseharusnya para ulama\nkita juga menulis buku-buku serupa tentang Islam\nyang tampilannya sama\nmenarik dengan buku-buku yang ditulis\noleh para Orientalis itu.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\" style=\"text-align:center\">*\n* *<br><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Saat ini orang-orang Barat gencar mengundang mahasiswa Muslim belajar Islam ke negara mereka.\nTentu saja gerakan\nini tak lepas\ndari agenda para Orientalis mengubah pandangan kaum Muslim terhadap\nagamanya. Orang Barat\nmenginginkan orang Islam memahami Islam sebagaimana mereka memahami Islam.\nIronisnya, tawaran tersebut disambut sangat baik oleh para sarjana Muslim. Mereka berlomba-lomba\nmendapatkan beasiswa untuk belajar ke Barat.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sebenarnya hal itu tidak ada\nmasalah jika mereka\nmembekali diri dengan ilmu dan iman\nyang kuat. Yang\nmenjadi persoalan adalah\njika mereka ignorant, jahil terhadap agamanya sendiri, dan buta\nakan tradisi intelektual Islam. Apalagi\nkalau sudah kemasukan <em>inferiority complex <\/em>alias\nminder, sehingga mudah sekali terpukau\ndan terpengaruh oleh hasil kajian islamolog Barat.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Perlu diingat bahwa\nkampus-kampus di Barat\nmempelajari Islam dengan framework (cara berfikir) Orientalis. Framework tersebut begitu\ndetail dan rumit. Kalau\ntidak cermat, orang tak akan menyadarinya. Padahal, cara orientalis mempelajari Islam sangat berbahaya. Mereka mempelajari Islam bukan untuk mencari kebenaran, melainkan semata-mata untuk\nilmu.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Islam tidak dipelajari berdasarkan iman. Bertambahnya ilmu tidak menjadikan\nbertambahnya iman. Bahkan sebaliknya, dapat makin menjauhkan orang dari Tuhan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Orang Islam\nyang belajar Islam\ndengan menggunakan framework orientalis akan menjadi Muslim\nyang kritis terhadap\ntradisi intelektual Islam,\ntetapi sebaliknya bisa sangat apresiatif \u2013untuk tidak mengatakan\nternganga langsung percaya\ndan menerima\u2013 terhadap\ntradisi intelektual Barat.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Perubahan cara\npandang ini pada\nakhirnya akan mengubah banyak hal,\ntermasuk cara berfikir dan cara berislam. Karenanya, efek negatif\nbelajar Islam di Barat adalah\norang bisa menjadi skeptis (senantiasa meragukan), agnostik (selalu mencari tapi tidak pernah\nmenemukan), pedantik (cenderung berbelit-belit), dan reduksionistik (suka\nmengerucutkan permasalahan).<br><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Namun begitu, hemat saya, kaum Muslim tetap perlu belajar studi Islam di Barat. Tetapi, sebelum pergi ke sana, harus punya bekal yang matang. Yang bersangkutan harus diikat dengan niat dan syarat yang jelas. Niatnya untuk meningkatkan pengetahuan, menambah pengalaman, dan memperluas wawasan <em>lillahi ta\u2018ala <\/em>(demi meraih ridho Allah), bukan <em>li-dun-ya yusiibuha <\/em>(demi mendapatkan dunia).<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kita harus\nakui bahwa Barat\nunggul dalam metodologi riset yang biasa disebut technique of scholarship. Metode ini menggabungkan penguasaan bahasa, budaya, dan sejarah, dengan kecakapan\nfilologi dan ketajaman analisis\nfalsafi. Adapun syaratnya, yang bersangkutan harus sudah matang dulu secara intelektual maupun spiritual.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dan bisa\njadi ada untungnya kalau kita pernah\nstudi di Barat,\nterutama ketika menghadapi para pengagum Barat\nyang arogan dan\nmerasa superior. Kata riwayat,\nsombong kepada orang yang sombong\nadalah sedekah.Tentu boleh jadi akan ada pengaruh negatif\njuga, seperti bersikap\narogan menolak kebenaran, double-standard, pedantik,\nreduksionistik, bias, dan lain sebagainya, yang melatarbelakangi berbagai\nasumsi dan pendapat\norientalis.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Memang\nharus kita akui banyak di kalangan kaum Muslim yang terpengaruh bahkan mengusung dan menyebarkan\npikiran-pikiran dan gagasan mereka.\nNamun yang kritis\nterhadap orientalis juga\nbanyak.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Contohnya, Syaikh\nAbdul Halim Mahmud\nlulusan Sorbonne, Mustafa A\u2018zami dari Cambridge, atau Syed Naquib\nAl-Attas lulusan London.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Jadi, masalah\nterpengaruh atau tidak,\nmenurut saya, tergantung orangnya. Kalau kita\n<em>ignorant<\/em>, tidak mengerti tentang agama\nkita sendiri, apalagi sampai mengidap penyakit minder\nterhadap Barat, tentu\nmudah sekali terpengaruh dan terpukau oleh mereka. Pendek kata\njangan seperti istri Aladdin (dongeng \u2018Lampu\nAjaib\u2019), menukar lampu lama dengan lampu baru yang dijajakan oleh tukang sihir.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ada orang yang malah mengaku menemukan Islam di Barat. Saya kira itu ungkapan frustasi yang berlebihan. Sebuah jawaban untuk pertanyaan yang telah menggangu para pemikir Muslim dari mulai Abduh, Iqbal, Rahman, hingga al-Attas: <em>limadza ta\u2019akhkhara l-muslimun wa taqaddama ghayruhum<\/em>? Mengapa umat Islam tertinggal, sementara umat-umat lain maju pesat?<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Keterbelakangan umat\nbukan disebabkan oleh\najaran Islam, sebagaimana kemajuan Barat bukan dikarenakan agamanya, tapi\nkarena kebersihannya, kesehatannya, ketertibannya, mentalitasnya, disiplinnya,\nkejujurannya, dan kerja kerasnya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Apakah studi\nIslam di Barat\nselalu kental misi orientalisme? Kita\nmemang tidak bisa memukul-rata. Namun, pada banyak\nkasus jelas bahwa\nstudi Islam di sana\ntak dapat dipisahkan dari agenda-agenda tertentu yang jelas berpihak pada kepentingan politik, ekonomi, dan\nbudaya mereka.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Misalnya, kasus\nimperialisme (penjajahan). Hal\nini dapat dimaklumi dan terlalu naif untuk\nkita pungkiri.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Adapun sikap\npara Orientalis terhadap\nIslam cukup beragam.\nMereka itu ada yang\nhalus dan ada yang kasar\n(dalam memusuhi Islam).\nKalau yang halus akan\nmengatakan, \u201cMeskipun kami\ntidak sependapat dengan\norang Islam, kami tetap\nharus menjaga hati\norang Islam, agar\ntidak melukai hati mereka\u201d.Yang halus seperti ini\nbiasanya berusaha menulis dan bicara diplomatis.\nKalau di Inggris ada Montgomerry Watt yang sengaja menggunakan ungkapan <em>\u201cThe Qur\u2019an says\u201d <\/em>daripada <em>\u201cGod says in the Qur\u2019an\u201d <\/em>ataupun <em>\u201cMuhammad says\u201d <\/em>(yang akan menunjukkan kekafirannya).<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kalau di Jerman ada Annemarie Schimmmel, seorang ahli Pakistan, India, Parsia, dan sufistik Timur. Pernah karena begitu\nsimpatiknya terhadap Islam, anugerah internasional <em>Pen Award\n<\/em>di Perancis sampai dicabut\nkembali. Pasalnya, ketika diwawancarai soal Salman Rushdie,\nia bilang, Salman\nitu salah. Menurut Schimmel, tindakan si penulis\nbuku \u201cAyat\u2013ayat Setan\u201d\n<em>(The <\/em><em>Satanic Verses)\n<\/em>itu tidak bisa dibenarkan, sebab telah melukai\nhati orang Islam. Akibat komentarnya itu, Schimmel diprotes dan\npenghargaan yang ia terima ditarik. Memang ada yang bilang Schimmel sudah masuk\nIslam, akan tetapi bukan itu yang\npenting. Sikap dan komentarnya yang mengatakan Salman\nRushdie itu salah\ndan melukai umat\nIslam itulah yang menarik. Di sini jelas ada perbedaan kepentingan dan percanggahan\nideologi.[]<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oleh: Syamsuddin Arif Istilah \u2018Orientalis\u2019 dalam tulisan ini menunjuk para sarjana atau ilmuan Barat (i.e. Eropa, Amerika, Australia) yang melakukan kajian intensif terhadap peradaban Islam. Bidang kajian mereka tidak terbatas soal agama Islam, akan tetapi mencakup sejarah, budaya, bahasa, ekonomi, politik, hukum bahkan militer. Mereka juga memperluas wilayah kajian terhadap peradaban-peradaban dunia yang lain seperti [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":547,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[8,9],"tags":[12,16,15,14,11,13],"class_list":["post-543","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","category-pemikiran-islam","tag-barat","tag-cara","tag-ciri","tag-fakta","tag-islam","tag-studi"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/staiindojkt.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/543","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/staiindojkt.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/staiindojkt.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/staiindojkt.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/staiindojkt.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=543"}],"version-history":[{"count":13,"href":"https:\/\/staiindojkt.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/543\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":972,"href":"https:\/\/staiindojkt.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/543\/revisions\/972"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/staiindojkt.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/547"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/staiindojkt.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=543"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/staiindojkt.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=543"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/staiindojkt.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=543"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}