{"id":787,"date":"2019-10-31T03:13:31","date_gmt":"2019-10-31T03:13:31","guid":{"rendered":"https:\/\/staiindojkt.ac.id\/?p=787"},"modified":"2019-10-31T03:14:20","modified_gmt":"2019-10-31T03:14:20","slug":"hermeneutika-itu-tafsir-sesuka-hati","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/staiindojkt.ac.id\/?p=787","title":{"rendered":"Hermeneutika itu Tafsir Sesuka Hati"},"content":{"rendered":"\n<div class=\"wp-block-image\"><figure class=\"alignleft\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"165\" height=\"185\" src=\"https:\/\/staiindojkt.ac.id\/wp-content\/uploads\/2019\/10\/Syamsudin-Arif.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-788\"\/><figcaption>Syamsuddin Arif<\/figcaption><\/figure><\/div>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><em>Doktor pemikiran Islam asli Betawi ini lahir di Jakarta, 19 Agustus 1971. Pendidikan dasarnya ditempuh di KMI Gontor dan lulus pada tahun 1989. Setelah dua tahun mengaji dan mengabdi di Majlis al-Qurra\u2019 wal-Huffazh,  Tuju-tuju Kajuara, Bone, Sulawesi Selatan, beliau menempuh program S1 di International Islamic University Malaysia (IIUM) sampai selesai tahun. Selanjutnya beliau menempuh program S2 di International Institute of Islamic Thought and Civilization (ISTAC) Malaysia sampai selesai 1999 dengan tesis Ibn Sina\u2019s Theory of Intuition, di bawah bimbingan Alparslan Acikgenc, dosen pembimbing M. Amin Abdullah dan Komaruddin Hidayat saat mereka kuliah S3 di METU Ankara Turki dulu.<\/em><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><em>Program S3\u2014juga di ISTAC\u2014berhasil diselesaikannya pada 2004 dengan disertasi berjudul Ibn Sina&#8217;s Cosmology: A Study of the Appropriation of Greek Philosophical Ideas in 11th Century Islam, di bawah supervisi Paul Lettinck. Dan saat ini beliau tengah menyiapkan disertasi keduanya di Orientalisches Seminar, Johan Wolfgang Goethe Universitat Frankfurt, Jerman. Di samping Arab dan Inggris, bahasa yang telah (dan masih terus) dipelajarinya antara lain Greek, Latin, Jerman, Prancis, Hebrew dan Syriac.<\/em><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><em>Di sela-sela roadshow buku terbarunya, Orientalis dan Diabolisme Pemikiran (Jakarta: Gema Insani Press, 2008), ke berbagai kota di Indonesia, wartawan majalah RISALAH sempat mewawancarainya di Cimahi Bandung, berkaitan hermeneutika yang hari ini sudah mulai dipromosikan untuk diterapkan pada al-Qur\u2019an.<\/em> Berikut ini cuplikannya.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Bisa Anda jelaskan apa itu hermeneutika?<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"has-drop-cap wp-block-paragraph\">Hermeneutika adalah metode penafsiran Bible,\nsebagaimana halnya istilah tafsir untuk al-Qur\u2019an. Walaupun kadang dalam UUD\nmisalnya ada tafsir UUD, tetap saja itu tidak dapat dimaknakan tafsir dalam\narti yang sebenarnya. Karena tafsir yang sebenarnya adalah sebuah istilah untuk\nal-Qur\u2019an, ada perangkat ilmunya tersendiri. Demikian halnya dengan hermeneutika,<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">walaupun kadang digunakan untuk sastra dan lain\nsebagainya, tetap saja secara istilah hermeneutika itu untuk Bible.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Jadi walaupun ada perluasan makna (ekstensi\nsemantik), dan itu sebuah hal yang lumrah dalam bahasa, tetap saja hermeneutika\nitu adalah hermeneutika Bible; Perjanjian Lama atau Perjanjian Baru. Karena\nberkaitan dengan istilah,<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">memang sering terjadi salah kaprah. Contohnya,\nlogika politik, ekonomi, dsb. Padahal pada asalnya istilah logika adalah sebuah\nilmu tentang nalar akal. Hal yang sama juga terjadi pada hermeneutika.<br><\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Kalau sejarah perkembangannya?<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Istilah hermeneutika sebagai satu disiplin ilmu\nuntuk memahami bible mulai digunakan di abad pertengahan sekitar tahun 1500-an\ndi Eropa yang dipelopori<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">oleh Kristen Protestan. Tapi istilah hermeneutika\ndiambil dari salah satu buku Aristoteles yang membahas tentang proposisi yang\ndiberi judul <em>Peri Hermeneias<\/em>.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Lalu kenapa hermeneutika ini dikembangkan? Karena\nmereka mau melepaskan diri dari otoritas gereja. Jadi selama ini kata mereka\ngereja Katholik di Roma<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">terlalu memonopoli penafsiran Bible. Kenapa kami\ntidak bisa menafsirkan sendiri?<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Jadi dari awal pun di Eropa itu hermeneutika ini\nadalah bagian dari gerakan Kristen Liberal melawan Kristen Ortodok. Artinya\nterjadi sebuah counter penafsiran dari Kristen Liberal ke Kristen Ortodok di\nRoma. Dan itu juga<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">sebenarnya yang terjadi ketika hermeneutika ini\ndiimpor ke dalam masyarakat Islam.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Metodologi hermeneutika itu sendiri bagaimana?<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Hermeneutika\npertama kali digagas oleh Martin Luther dan sahabatnya<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">sekaligus muridnya Mathias Flaccus Illyricus.\nPrinsip yang dikenalkannya adalah <em>sola scriptura; <\/em>kitab suci saja.\nMaksudnya, untuk memahami\nkitab suci, cukup kitab suci\nsaja, tidak memerlukan tradisi, tidak perlu merujuk karya- karya padri-padri\ngereja, tidak perlu merujuk para ulama mereka. Karena mereka bilang kitab suci\nitu bisa menafsirkan dirinya sendiri. Dan ini merupakan tendensi dari arus liberal\ndi kalangan Kristen.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dari\nsana mereka masuk tahap mencari-cari metodologi. Di antara yang kemudian\ndikembangkan adalah metode melihat secara keseluruhan, tidak parsial, tapi holistic, yang dikembangkan oleh Schleiermacher. <em>The part cannot\nbe studied without the hole<\/em>. Jadi\ndiandaikan kitab suci itu satu sistem yang bagian-bagiannya saling berkaitan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Selanjutnya yang lainnya adalah\nkontekstual. Ini adalah gabungan dari metode <em>historical-criticism. <\/em>Jadi maksudnya, orang yang ingin memahami ayat yang\nada dalam Injil itu harus tahu adat yang berlaku pada masa itu, atau sebut saja\n<em>asbabun-nuzul-<\/em>nya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Singkatnya, <em>sola scriptura <\/em>itu semacam tafsir al-Qur\u2019an bil-Qur\u2019an. Terus yang kedua, metode melihat\nkeseluruhan, itu semacam tafsir maudlu&#8217;i. Dan itu sudah dilakukan oleh ulama\nIslam dari sejak abad ke-5 H sebut misalnya ar-Raghib<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">al-Ishfahani yang karyanya <em>Mu\u2018jam Mufradat Alfazh al-Qur\u2019an<\/em>.<br><\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Jadi kalau begitu hermeneutika itu sama saja dengan tafsir al-Qur\u2019an?<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Oh bukan. Saya membanding-bandingkannya\ndengan tafsir al-Qur\u2019an seperti di atas itu untuk menunjukkan bahwa oleh ulama\nIslam metode-metode seperti itu sudah dilakukan. Jadi tidak perlu, karena sudah\nada.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Mengenai ide Hermeneutika al-Qur\u2019an?<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dalam hal ini menurut saya tergantung niatnya. Saya\nsendiri sebenarnya ingin tahu apa sebab mereka mengajukan hermeneutika untuk\nal-Qur\u2019an. Dan<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">setidaknya mungkin ada dua sebab, <em>pertama, <\/em>mereka tidak paham ilmu tafsir, bahwa sebenarnya\npara ulama itu sudah mempunyai tradisi yang panjang dan kuat dalam hal\npenafsiran. <em>Kedua, <\/em>mereka tahu tapi\ntidak mau tahu. Misalnya, kita di rumah sudah punya pisau tapi kemudian beli\npisau baru. Alasannya, pokoknya tidak mau pakai pisau yang lama, ingin pakai\nyang baru. Jadi asumsinya mungkin begitu.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kalau dikatakan perlu tidak perlu, ya menurut saya\ntidak perlu, karena kita sudah punya pisau di rumah. Bahkan kalau diukur lebih\ncanggih mana, menurut saya lebih canggih yang ada di rumah, karena sudah teruji\nkualitasnya. Dilihat dari segi tujuannya, untuk apa? Untuk memotong daging,<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">roti\natau apa, bukankah yang di rumah juga bisa. Jadi menurut saya itu adalah <em>superfluous, <\/em>terlalu berlebihan dan tidak perlu. Kalau alasannya\nhanya sekedar ganti nama, itu berarti minder dengan yang dimiliki sendiri,\nmerasa tidak <em>keren<\/em>. Jadi kalau begitu hanya sekadar <em>keren-kerenan. <\/em>Jelasnya, secara substansi tidak ada yang baru dari hermeneutika itu.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Tegasnya, boleh atau tidak?<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Tidak. Lebih tegasnya, kenapa kita harus mengatakan\ntidak kepada hermeneutika, itu karena <em>pertama, <\/em>semangat\nyang dibawanya bukan mencari kebenaran. Tetapi semangat untuk menolak\nkebenaran.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><em>Kedua, <\/em>semangat untuk merelatifisir; menganggap bahwa\nkebenaran itu relatif, tidak\nabsolut. Dan itu berbeda dengan para ulama kita. Jadi spiritnya itu spirit\nliberalisme. Dan itu adalah spirit hawa nafsu.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sebagai contoh kacaunya hermeneutika ketika\ndiaplikasikan adalah dalam hal surat Paulus di Bible yang ditujukan kepada\npenduduk perempuan Corinthian<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">untuk menutup kepalanya. Kata Paulus, jika itu\ntidak dilakukan, maka mereka termasuk orang-orang yang hina. Surat Paulus\ntersebut, dengan hermeneutika, melahirkan empat penafsiran.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><em>Pertama, <\/em>ayat itu tidak berlaku untuk orang yang hidup di\nzaman modern. Ayat itu <em>out of date<\/em>, sudah tidak\nrelevan. Karena, Paulus mengatakan itu untuk zaman itu. Dan sekarang warga\nKristen itu tidak hanya di Italia, jadi tidak mungkin kita memaksakannya kepada\nwarga yang lain.<br><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><em>Kedua, <\/em>ayat ini tetap berlaku, tapi makusdnya bukan pakai\nkerudung di setiap waktu dan di setiap tempat. Tapi menutup kepala hanya ketika\nberada dalam gereja, ketika beribadat.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><em>Ketiga, <\/em>ayat ini berlakunya tidak hanya di dalam gereja,\ntapi juga di luar gereja dalam upacara-upacara peribadatan. Seperti acara\npemakaman.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><em>Keempat, <\/em>tutup kepala ini adalah metaphor, figuratif, ini\nbukan hakiki tapi majas, kiasan. Tutup kepala ini maksudnya tidak boleh botak.\nKarena penutup kepala itu adalah rambut. Jadi perkataan Paulus itu maksudnya\nwanita tidak boleh gundul, harus pakai rambut. Tapi kalau laki-laki boleh\ngundul.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Itulah contoh hermeneutika. Penafsiran sesuka hati,\nsesuai kebutuhan si penafsir, sesuai kebutuhan masyarakat. Jadi kalau\nmasyarakat berubah, kebutuhannya berubah, pemahaman pun harus berubah. Di\nsitulah ketidaklurusan hermeneutika sehingga tidak mungkin kita terima untuk\ndibawa masuk ke dalam tradisi Islam.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Nah ini juga yang terjadi sekarang.\nDalam hal babi misalnya, ketika jelas <em>hurrimat\u2026 wa lahmul-khinzir, <\/em>itu\nkan orang Liberal bilang, yang diharamkan itu bukan babi Eropa, karena kalau\nbabi yang itu kan bersih. Ayat yang mengharamkan babi itu kan turun di Arab.\nMenurut mereka, spesies babi yang<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">dimaksud ayat itu adalah spesies babi pada zaman\nNabi yang sudah tidak mungkin ditemukan pada zaman ini. Berarti babi di sini\ntidak diharamkan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Jadi tegasnya, <em>sola scriptura <\/em>dan lain sebagainya itu, pada hakikatnya bukan tafsir al-Qur\u2019an\nbil-Qur\u2019an atau maudlu&#8217;i, tapi tafsir liar, tafsir sesukanya saja.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Tafsir sekarang dinilai sudah tidak cocok dengan zaman. Pendapat ustadz?<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Itu memang pernyataan yang sering mengganggu\ngenerasi kita. Sebuah pernyataan yang tidak relevan. Kalau hendak diibaratkan,\nketika membeli topi<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">atau baju yang ternyata tidak cocok\ndengan kepala dan badan kita, apakah itu salah kepala dan badannya ataukah salah\ntopi dan bajunya? Kelak nanti mana yang akan diubah, kepala ataukah topi?<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dalam masalah ini masyarakat sudah seharusnya ikut\nkepada apa yang dibawa oleh Rasulullah. Benar sekali hadits yang disampaikan\nRasulullah saw: <em>La yu\u2019minu ahadukum hatta\nyakuna hawahu tab\u2018an\nlima ji\u2019tu bihi;\n<\/em>tidak beriman seseorang di antaramu sehingga\nhawa nafsunya mengikuti apa yang aku bawa.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Nah ini, malah apa yang dibawa Rasul\nharus sesuai dengan <em>hawa <\/em>kita; keinginan kita, apa yang diinginkan hawa\nnafsu kita. Kalau sesuai dengan selera kita baru kita mau. Dan hermeneutika itu\nkan seperti itu. Sehingga akhirnya al-Qur\u2019an harus mengikuti perubahan\nmasyarakat seperti yang telah berlaku di Barat. Akibatnya terjadi kekacauan\nnilai benar-salah. Dulu, di&nbsp; Barat<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">yang homoseks dibunuh. Tapi sekarang ini tidak. Dan\nitu menjadi semacam kekacauan tersendiri bagi Gereja. Sangat mungkin disebabkan\nitulah kemudian paham ini diekspor ke umat Islam. Selorohnya, karena kami sudah\nrusak, jangan kami saja, kalian juga umat Islam harus ikut rusak.<br><\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Tafsir itu juga katanya tidak satu, beda-beda versi?<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Begini, ada perbedaan dalam tingkatan benar atau\nsalah, haqq atau bathil. Makanya istilah yang digunakan itu adalah <em>shawab <\/em>dan <em>khatha\u2019. <\/em>Dan <em>shawab<\/em><em><\/em><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">ini adalah makna figuratif. Jadi kalau memanah itu\nkan ada lingkaran- lingkaran. Dari mulai yang terkecil berupa titik sasaran,\nlalu yang lebih besarnya, dan lebih besarnya. Nah, kalau kita tepat ke titik di\ntengah, maka itu <em>shawab. <\/em>Tapi kalau kenanya\npada lingkaran yang lebih luarnya, maka itu <em>khatha\u2019. <\/em>Tapi\njikalau tidak kena sama sekali ke satu lingkaran pun, malah melenceng keluar,\nitulah <em>dlalal <\/em>dan <em>bathil.<\/em><em><\/em><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dalam kasus ijtihad hakim, yang\ndigunakan oleh Rasul kan bahasanya <em>ashaba. <\/em>Dan maksudnya\nseperti yang digambarkan di atas. Harus tetap dalam wilayah ijtihad, tidak\nboleh melenceng seenaknya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dalam tafsir juga demikian. Ada yang <em>qath&#8217;iy, muttafaq &#8216;alaih,\n<\/em>ada yang tidak atau <em>furu&#8217;<\/em>. Dalam hal yang <em>qath&#8217;iy <\/em>semua\ntafsir pasti sama, tapi jika tidak <em>qath&#8217;iy <\/em>tentu ada perbedaan.\nContohnya, dalam hal keimanan pada malaikat, semua tafsir pasti sama bahwa itu\nwajib. Tapi dalam hal mengimani bahwa malaikat itu mempunyai sayap 4500 helai,\nitu tidak dijamin semua sama, karena itu <em>furu&#8217;. <\/em>Contoh\nlainnya adalah surga itu haq. Tapi surga itu di mana, berapa pintunya, itu\nadalah <em>furu&#8217;.<\/em><em><\/em><\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><strong>Mengidentifikasi\n<\/strong><strong><em>shawab <\/em>dan <\/strong><strong><em>khatha\u2019 <\/em>itu\nsendiri bagaimana?<\/strong><\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Itu patokannya adalah hujjah, argumen. Misalnya\nbegini, tafsir at-Thabariy dengan Tafsir Ibn Katsir. Kata at-Thabariy, saya\nmemilih pendapat ini, karena<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">begini dan begini. Sementara menurut Ibn Katsir,\nsaya memilih pendapat yang ini yang berbeda dengan at-Thabariy dengan alasan\nbegini dan begini. Sebut misalnya, pertimbangan sanadnya lebih bagus. Jadi para\nulama itu berargumen dengan hujjah, bukan dengan pertimbangan hawa nafsu. Jadi\nmereka&nbsp; mengikuti ilmu.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Maka dari itu sangat penting dalam ijtihad itu ilmu\ndan adab. Adab itu adab kepada Allah, kepada Rasul. Tapi yang terjadi sekarang\nini, orang ramai berijtihad tapi tidak menggunakan ilmu. Atau berilmu tapi\ntidak beradab; beradab kepada Allah, Rasul dan para ulama.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Masalahnya\nhermeneutika sudah dianggap sebagai ilmu dengan pengukuhan dari para profesor?<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Imam al-Ghazaliy pernah menghadapi problem yang\nserupa. Katanya dalam <em>al- <\/em><em>Munqidz\nminad-Dlalal: al-Haqqu la yu&#8217;rafu bir-rijal walakinnar-rijal yu&#8217;rafuna bil-haqq; <\/em>kebenaran itu tidak diukur melalui orang, tapi orang itu dikenal melalui\nkebenaran. Dan itu sebenarnya juga bermula dari perkataan Sayyidina \u2018Ali ra.\nTatkala ada orang yang bertanya kepadanya mengapa shahabat Rasul saw bertikai?\nBagaimana kami tahu siapa yang benar? \u2018Ali pada waktu itu<br><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">menjawab, anda tidak perlu melihat siapa yang\nbertikai, anda lihat kebenaran itu ada pada siapa.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Jadi jangan lihat orangnya, bahwa ia itu profesor.\nKan Rasul sudah cukup mengamanatkan: <em>Lan tadlillu abadan ma in tamassaktum bihima, kitaballah wa sunnata\nrasulihi; <\/em>kalian tidak akan pernah\ntersesat selama berpegang teguh kepada al-Qur\u2019an dan Sunnah. Atau dalam riwayat\nlain <em>ma ana \u2018alaihi\nwa ashhabi; <\/em>apa yang Rasul dan\nshahabatnya amalkan. Jadi itulah ukuran haq, ukuran kebenaran.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Hermeneutika\nsudah masuk dalam kurikulum Tafsir-Hadits di IAIN. Tanggapan ustadz?<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Perlu secara struktural dan sistematis untuk\nmerubahnya. Secara struktural harus diupayakan oleh Dikti agar kurikulum yang\ntadinya tidak ada ini lalu<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">ada, menjadi tidak ada lagi. Kemudian secara\nsitematis, berarti harus dilakukan <em>counter indoctrination<\/em>;\nmelawannya dengan membuat lingkungan di mahasiswa bagaimana caranya agar mereka\nbukan hanya membaca tafsir tapi juga memahami metodologi tafsir. Dengan demikian\nakan muncul rasa percaya diri dan kesadaran bahwa hermeneutika ini sebenarnya\ntidak kita perlukan.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Jadi harus dilarang?<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Saya kira pada level mahasiswa memang\ntidak bijak kalau mereka itu dilarang membaca ini dan itu. Tapi yang menjadi\npokok persoalan di sini mereka tidak hanya dibebaskan begitu saja, tapi harus\ndiarahkan. Seperti kita kepada anak<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">kita; jangan terlalu dikekang, tapi juga jangan\nterlalu dibebaskan, karena nanti bisa celaka.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Pesan ustadz untuk para penimba ilmu?<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><em>Pertama, <\/em>luruskan niat bahwa saya mencari ilmu untuk mencari\nridla Allah. <em>Kedua, <\/em>menuntut ilmu itu\nadalah jihad, jadi harus diletakkan dalam bingkai perjuangan umat. Yakni bahwa\nsaya adalah pelanjut penyebar risalah. <em>Ketiga, <\/em>karena\nterkadang kita suka lupa, harus ada group, <em>&#8216;alaikum bil-jama&#8217;ah.<\/em><em><\/em><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Jama&#8217;ah di sana itu kan bisa\ndimaknakan juga group, kelompok. Itu supaya&nbsp;\nkita ada yang mengingatkan, mengoreksi, dan ada yang memberikan semangat<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">juga.\n<em>Keempat, <\/em>harus berorientasi <em>problem solving<\/em>, walau tentunya\nkita hanya bisa fokus di\nsalah satu sub problemnya. Jadi orientasinya bukan saya nanti akan kerja di\nmana, dan sebagainya. <strong>[ns]<\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Doktor pemikiran Islam asli Betawi ini lahir di Jakarta, 19 Agustus 1971. Pendidikan dasarnya ditempuh di KMI Gontor dan lulus pada tahun 1989. Setelah dua tahun mengaji dan mengabdi di Majlis al-Qurra\u2019 wal-Huffazh, Tuju-tuju Kajuara, Bone, Sulawesi Selatan, beliau menempuh program S1 di International Islamic University Malaysia (IIUM) sampai selesai tahun. Selanjutnya beliau menempuh program [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[8,37,9],"tags":[],"class_list":["post-787","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-artikel","category-betawi-corner","category-pemikiran-islam"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/staiindojkt.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/787","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/staiindojkt.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/staiindojkt.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/staiindojkt.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/staiindojkt.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=787"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/staiindojkt.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/787\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":791,"href":"https:\/\/staiindojkt.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/787\/revisions\/791"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/staiindojkt.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=787"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/staiindojkt.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=787"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/staiindojkt.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=787"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}