{"id":794,"date":"2019-11-01T07:34:59","date_gmt":"2019-11-01T07:34:59","guid":{"rendered":"https:\/\/staiindojkt.ac.id\/?p=794"},"modified":"2019-11-01T07:35:00","modified_gmt":"2019-11-01T07:35:00","slug":"apa-salahnya-hermeneutika","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/staiindojkt.ac.id\/?p=794","title":{"rendered":"APA SALAHNYA HERMENEUTIKA?"},"content":{"rendered":"\n<p style=\"text-align:center\"><em>Dr Syamsuddin Arif<\/em><\/p>\n\n\n\n<p style=\"text-align:center\">Direktur Eksekutif INSISTS &amp; Dosen UNIDA Gontor<\/p>\n\n\n\n<p>Akhir-akhir ini gerakan \u2018impor pemikiran\u2019 semakin gencar dilakukan, terutama oleh kalangan yang\nmenggeluti <em>Islamic\nStudies <\/em>di perguruan tinggi kita di Tanah Air. Sayangnya, tidak banyak yang \u2018teliti sebelum membeli\u2019. Banyak yang tidak menyadari bahwa gagasan-gagasan asing itu sebenarnya\nbertentangan dengan&nbsp; dan&nbsp; bahkan&nbsp;\nberpotensi menggerogoti sendi-sendi akidah seorang Muslim. Salah satu\ncontohnya adalah \u201chermeneutika\u201d, yang telah dimasukkan dalam kurikulum UIN Yogyakarta dan terus\ndipasarkan dalam berbagai seminar nasional (seperti pernah digelar pada 2004 di\nUniversitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) dengan tema \u201cHermeneutika al-Qur\u2019an: Pergulatan &nbsp;tentang &nbsp;Penafsiran &nbsp;Kitab &nbsp;Suci\u201d. &nbsp;Konon &nbsp;tujuannya &nbsp;untuk &nbsp;mencari &nbsp;dan merumuskan sebuah \u2018hermeneutika al-Qur\u2019an\u2019 yang relevan bagi konteks umat Islam di era\nglobalisasi ini.<\/p>\n\n\n\n<p>Terlanjur gandrung\npada segala hal yang baru dan Barat <em>(everything new and\nWestern), <\/em>sejumlah cendekiawan\nMuslim menganggap seolah-olah hermeneutika itu bebas-nilai alias netral. Bagi\nmereka, hermeneutika dapat memperkaya dan dijadikan alternatif &nbsp;pengganti &nbsp;metode &nbsp;tafsir &nbsp;tradisional &nbsp;yang &nbsp;dituduh &nbsp;\u2018ahistoris\u2019 &nbsp;(mengabaikan historisitas\nteks) dan dicap tidak kritis (<em>uncritical<\/em>). Pada hakikatnya, merekalah yang <em>taking for granted,\n<\/em>yakni asal terima dan asal telan.\nKalangan ini kurang peka bahwa hermeneutika sesungguhnya sarat\ndengan presuposisi dan implikasi teologis, filosofis, epistemologis dan metodologis. Seperti\njuga cabang-cabang ilmu lainnya, hermeneutika tidak muncul <em>ex nihilo <\/em>di\nruang hampa. Hermeneutika timbul dari dan dalam konteks pemikiran agama\ndan pengalaman sejarah\nkaum Yahudi dan Kristen.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">1.&nbsp; Istilah\ndan Sejarah<\/h3>\n\n\n\n<p>Secara etimologi, istilah \u201chermeneutics\u201d berasal dari bahasa Yunani kuno (Greek) \u201c<em>\u03c4\u03b1 t\u03c1\u00b5\u03b5\u03bd\u03b5\u03c5\u03c4\u03b9\u03ba\u03b1 <\/em>(baca: ta hermeneutika), yaitu bentuk jamak dari kata <em>\u03c4\u03b1 t\u03c1\u00b5\u03b5\u03bd\u03b5\u03c5\u03c4\u03b9\u03ba\u03bf\u03bd <\/em>(to hermeneutikon)\u201d \u00a0yang \u00a0artinya \u00a0\u2018perkara-perkara \u00a0yang \u00a0berkenaan \u00a0dengan \u00a0pemahaman atau penerjemahan \u00a0suatu pesan \u00a0(dari \u00a0kata \u00a0kerja \u00a0infinitif: <em>t\u03c1\u00b5\u03b5\u03bd\u03b5\u03cd\u03b5\u03b9\u03bd<\/em>)\u2019. \u00a0Kedua \u00a0kata \u00a0ini merupakan derivat dari kata \u201cHermes\u201d (<em>E\u03c1\u00b5\u03b5r<\/em>), yang dalam mitologi Yunani dikatakan sebagai dewa yang diutus oleh Zeus (Tuhan) untuk menyampaikan pesan dan berita kepada manusia di bumi.<sup> <\/sup><em>The Catholic Encyclopedia <\/em>(New York, 1910) dan , s.v. \u201cHermeneutics\u201d.<\/p>\n\n\n\n<p>Dalam kumpulan karya logika Aristoteles ada sebuah bagian yang\nberjudul <em>\u03a0\u03b5\u03c1i E\u03c1\u00b5\u03b7\u03bd\u03b5\u03af\u03b1r <\/em>(baca: <em>P<\/em><em>e<\/em><em>r<\/em><em>i<\/em><em> <\/em><em>H<\/em><em>e<\/em><em>r<\/em><em>m<\/em><em>e<\/em><em>n<\/em><em>e<\/em><em>i<\/em><em>a<\/em><em>s<\/em>). Yang dimaksud dengan kata \u201chermeneias\u201d di sini ialah ungkapan atau pernyataan (<em>statement<\/em>), tidak\nlebih dari itu. Bahkan para teolog Kristen abad pertengahan pun lebih sering\nmenggunakan istilah <em>\u2018interpretatio\u2019 <\/em>untuk tafsir, bukan <em>\u2018hermeneusis\u2019<\/em>. Ambil\nsebagai contoh karya St. Jerome\nyang diberi judul\n<em>\u201cDe optimo genere interpretandi\u201d <\/em>(Tentang\nBentuk Penafsiran yang Terbaik). Kemudian Isidore dari Pelusium menulis\nrisalah dengan judul <em>\u201cDe interpretatione divinae scripturae\u201d <\/em>(Tentang Penafsiran Kitab Suci).<\/p>\n\n\n\n<p>Maka menurut para ahli pembakuan istilah \u2018hermeneutics\u2019 sebagai suatu ilmu, metode dan teknik memahami\u00a0 suatu pesan, karya\u00a0 atau teks, sesungguhnya baru terjadi\u00a0\u00a0 di kemudian hari, yakni pada sekitar abad ke-18 Masehi. Dalam pengertian modern ini, istilah <em>hermeneutics <\/em>biasanya dikontraskan dengan <em>exegesis <\/em>(dari bahasa Yunani kuno <em>\u03b5\u03be\u03b5\u03b3\u03b7\u03c3\u03b9r<\/em>), sebagaimana \u2018ilmu tafsir\u2019 dibedakan dengan \u2018tafsir\u2019.  Untuk ulasan umum silakan lihat Josef Bleicher, <em>Contemporary Hermeneutics: Hermeneutics as Method, Philosophy and Critique <\/em>(London: Routledge &amp; Kegan Paul, 1980); Richard E. Palmer, <em>Hermeneutics: Interpretation Theory in Schleiermacher, Dilthey, Heidegger, and Gadamer <\/em>(Evanston, Illinois: Northwestern University Press, 1969); Gayle L. Ormiston dan Alan D. Schrift (eds.). <em>The Hermeneutic Tradition. From Ast to Ricoeur <\/em>(New York: SUNY Press, 1990) atau Jean Grondin <em>Sources of Hermeneutics<\/em>. SUNY Series in Contemporary Continental Philosphy. (Albany: State University of New York Press, 1995) <\/p>\n\n\n\n<p>Adalah Schleiermacher, seorang teolog asal Jerman, yang konon pertama kali memperluas wilayah hermeneutika dari sebatas teknik penafsiran kitab suci (<em>biblische Hermeneutik<\/em>) \u00a0menjadi \u00a0\u2018hermeneutika \u00a0umum\u2019 \u00a0(<em>generale \u00a0Hermeneutik<\/em>) \u00a0yang \u00a0mengkaji kondisi-kondisi atau prasyarat apa saja yang memungkinkan terwujudnya pemahaman\u00a0 atau penafsiran yang betul atas suatu teks.  Gagasan-gagasannya tertuang dalam Friedrich Schleiermacher, <em>Kritische Gesamtausgabe <\/em>(Berlin: Walter de Gruyter, 1984) dan Friedrich Schleiermacher, <em>Hermeneutik und Kritik<\/em>. <em>Mit einem Anhang sprachphilo- sophischer Texte Schleiermachers, <\/em>ed. Manfred Frank (Frankfurt am Main, 1977). <\/p>\n\n\n\n<p>Schleiermacher bukan hanya meneruskan usaha pendahulunya semisal Semler dan Ernesti yang berupaya \u201cmembebaskan tafsir dari dogma\u201d.  Johann Salomo Semler, <em>Vorbereitung zur theologischen Hermeneutik, zu weiterer Bef\u00f6rderung des Fleisses angehender Gottesgelerten <\/em>(Halle, 1760) dan Johann August Ernesti, <em>Institutio Interpretis Novi Testamenti<\/em>, ed. Christoph Friedrich von Ammon (Halle, 1809; pertama kali terbit 1761). Cf. Manfred Frank, <em>Das individuelle Allgemeine: Textstrukturierung und -interpretation nach Schleiermacher <\/em>(Frankfurt am Main: Surkamp, 1977) <\/p>\n\n\n\n<p>Schleiermacher mengajukan perlunya kita melakukan <strong>desakralisasi <\/strong>teks. Dalam perspektif hermeneutika umum, \u201csemua teks harus diperlakukan sama,\u201d tidak ada yang perlu diistimewakan, tak peduli apakah itu kitab\u00a0 suci\u00a0 (Bible) ataupun\u00a0 teks\u00a0 hasil karangan manusia biasa.<\/p>\n\n\n\n<p>Kemudian \u00a0muncul \u00a0Dilthey \u00a0yang \u00a0menekankan \u00a0gagasan \u00a0\u2018historisitas \u00a0teks\u2019 \u00a0dan pentingnya \u00a0suatu \u2018kesadaran \u00a0sejarah\u2019 \u00a0<em>(Geschichtliches \u00a0Bewusstsein). \u00a0<\/em>Seorang \u00a0pembaca teks, menurut pemikir asal Jerman ini, harus bersikap kritis terhadap\u00a0 teks\u00a0 beserta\u00a0 konteks sejarahnya, meskipun pada saat yang sama dituntut untuk berusaha melompati \u2018jarak \u00a0sejarah\u2019 \u00a0antara \u00a0masa-lalu \u00a0teks \u00a0dan \u00a0dirinya. \u00a0Pemahaman \u00a0kita \u00a0akan \u00a0suatu \u00a0teks, ujarnya,\u00a0 ditentukan\u00a0 oleh\u00a0 kemampuan\u00a0 kita\u00a0 \u2018mengalami\u00a0 kembali\u2019\u00a0 <em>(Nacherleben)\u00a0 <\/em>dan menghayati isi teks tersebut. Lihat Wilhelm Dilthey, \u201cDie Entstehung der Hermeneutik,\u201d dalam <em>Gesammelte Schriften <\/em>(G\u00f6ttingen, 1957), 7: 317-331 dan \u201cDer Aufbau der geschichtlichen Welt in den Geisteswissenschaften,\u201d juga dalam <em>Gesammelte Schriften<\/em>, edisi ke-5 (G\u00f6ttingen: Vanderhoeck &amp; Ruprecht, 1968), 7: 213-217. Bandingkan dengan Arne Homann, \u201cVerstehen und Menschheit. Zu einem Motiv der Philosophie Diltheys,\u201d dalam jurnal <em>Dilthey- Jahrbuch \u00a0<\/em>10 (1996) 13-37; art. \u201cBewu\u00dftsein,\u201d dalam <em>Historisches \u00a0W\u00f6rterbuch \u00a0der \u00a0Philosophie, \u00a0<\/em>ed. J. Ritter (Darmstadt, 1971). <sup> <\/sup><\/p>\n\n\n\n<p>Di awal abad ke-20, hermeneutika menjadi sangat filosofis. Dikatakan bahwa interpretasi merupakan interaksi keberadaan kita dengan wahana sang\u00a0 Wujud\u00a0 <em>(Sein) <\/em>yang memanifestasikan dirinya melalui bahasa. Demikian ungkap Heidegger.  Uraiannya dalam Martin Heidegger, <em>Sein und Zeit <\/em>(T\u00fcbingen: Max Niemeyer, 1993); cf. tulisan G. Figal (salah seorang\u00a0 \u00a0murid\u00a0 \u00a0Heidegger\u00a0 \u00a0yang\u00a0 \u00a0masih\u00a0 \u00a0hidup,\u00a0 \u00a0guru\u00a0 \u00a0besar\u00a0 \u00a0filsafat\u00a0 \u00a0di\u00a0 \u00a0universitas\u00a0 \u00a0Freiburg),\u00a0 \u00a0\u201cDie hermeneutische Position Martin Heideggers,\u201d dalam <em>Hermeneutische Positionen. Schleiermacher &#8211; Dilthey &#8211; Heidegger \u2013 Gadamer, <\/em>ed. H. Birus (G\u00f6ttingen, 1982). <\/p>\n\n\n\n<p>Yang tak terelakkan dalam interaksi tersebut adalah terjadinya <em>\u2018hermeneutic circle\u2019<\/em>, semacam lingkaran setan atau proses yang tiada awal maupun akhirnya antara teks, praduga- praduga, interpretasi, dan peninjauan kembali (revisi). Dalam nota kuliahnya pada 1923, Heidegger menegaskan bahwa hermeneutika itu bukan metode atau\u00a0 teori\u00a0 interpretasi teks, akan tetapi merupakan moda pemahaman dimana wujud (<em>Dasein<\/em>) sang penafsir sebagai subyek menjadi wujud obyek yang ditafsirkannya. Maka baginya, hermeneutika adalah moda penelitian ontologis, interpretif, dan refleksif sekaligus. Lihat Martin Heidegger, <em>Ontology: The Hermeneutics of Facticity, <\/em>trans. John van Buren (Bloomington: Indiana University Press, 1999). <\/p>\n\n\n\n<p>Demikian pula rumusan Hans-George Gadamer, yang membayangkan interaksi pembaca dengan teks sebagai sebuah dialog atau dialektika soal-jawab, dimana cakrawala kedua-belah pihak melebur <em>(Horizontverschmelzung)<\/em>, sehingga muncullah kesepakatan dan kesepahaman. Interaksi tersebut tidak boleh berhenti, tegas\u00a0 Gadamer. Setiap\u00a0 jawaban\u00a0 adalah relatif\u00a0 dan tentatif kebenarannya, senantiasa boleh dikritik dan ditolak.  Hans-Georg Gadamer, <em>Wahrheit und Methode: Grundz\u00fcge einer philosophischen Hermeneutik <\/em>(T\u00fcbingen: Mohr, 1975), juga dalam H.-G. Gadamer, <em>Gesammelte Werke <\/em>(T\u00fcbingen: Mohr, 1986-1995); cf. Jean Grondin, <em>Introduction to Philosophical Hermeneutics<\/em>, dengan kata pengantar oleh Gadamer, terj. Joel Weinsheimer (New Haven dan London: Yale University Press, 1994). <\/p>\n\n\n\n<p>J\u00fcrgen Habermas pergi lebih jauh. Bagi tokoh terkemuka Frankfurt School ini, hermeneutika bertujuan membongkar motif-motif tersembunyi <em>(hidden interests) <\/em>yang melatarbelakangi lahirnya sebuah teks. Sebagai kritik ideologi, hermeneutika harus bisa mengungkapkan pelbagai manipulasi, dominasi, dan propaganda dibalik bahasa sebuah teks, segala sesuatu yang mungkin telah mendistorsi suatu pesan atau makna secara sistematis.\u00a0J\u00fcrgen Habermas, \u201cDer Universalit\u00e4tanspruch der Hermeneutik,\u201d dalam <em>Hermeneutik und Ideologiekritik<\/em>, ed. Karl-Otto Apel (Frankfurt\/Main: Suhrkamp, 1971). Bandingkan dengan bukunya yang lain, <em>Erkenntnis und Interesse <\/em>(Frankfurt am Main: Suhrkamp, 1973). <\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">2.&nbsp; Asumsi\ndan Implikasi<\/h3>\n\n\n\n<p>Dengan latar-belakang seperti itu, hermeneutika jelas tidak bebas-nilai. Ia mengandung sejumlah asumsi dan konsekuensi. <em>Pertama<\/em>, hermeneutika menganggap semua teks adalah sama, semuanya merupakan karya manusia. Asumsi ini lahir dari kekecewaan mereka terhadap Bible. Teks yang semula dianggap suci belakangan justru diragukan keasliannya. Campur-tangan manusia dalam Perjanjian Lama (Torah alias TANAKH) dan Perjanjian Baru (Gospels) ternyata didapati jauh lebih banyak ketimbang apa yang sebenarnya diwahyukan Allah kepada Nabi Musa dan Nabi Isa as. Lihat misalnya dua buku David Norton, <em>A History of the Bible as Literature<\/em>, 2 jilid (Cambridge: Cambridge University Press, 1993) dan <em>A Textual History of the King James Bible <\/em>(Cambridge: Cambridge University Press, 2005) <em>original textual form (&#8220;Ur-text&#8221;) or several pristine forms of the biblical books&#8230;The majority opinion holds that there once existed an Ur-text&#8230;Because of these problems, most of the existing critical editions of the OT are not eclectic but &#8220;diplomatic&#8221;; that is, they reproduce a particular form of the textus receptus (&#8220;received text&#8221;) of the OT as the base text, while recording divergent readings (or &#8220;variants&#8221;) from Hebrew and non-Hebrew sources in an accompanying critical appartus. In contrast, most modern translations of the OT are by nature eclectic: while adhering basically to the MT, they often replace some MT readings with parallel ones from the versions<\/em> <em>(mainly the Septuaginta) and the Qumran scrolls.\u201d <\/em>Demikian pula halnya dengan Perjanjian Baru, seperti dinyatakan oleh Professor Eldon Jay Epp dalam <em>The Anchor Bible Dictionary <\/em>(New York: Doubleday, 1992), 6:417, \u00a0s.v. \u00a0\u201cTextual \u00a0Criticism \u00a0(NT)\u201d: \u00a0<em>\u201cChanges \u00a0made \u00a0intentionally \u00a0by \u00a0scribes \u00a0as \u00a0they \u00a0copied \u00a0texts \u00a0were motivated, in virtually all cases, by a desire to improve the text or to correct it in accordance with what they<\/em>  <em>believed to be its true reading. Purposefully destructive change, at least as perceived by thescribe, is unknown. Moreover, it is customary to say that a slavish scribe- and better still, one of only modest intelligence- is to be preferred to one who thinks for himself. It is the thinking scribe who is more likely to make intentional alterations in the text, inevitably in good faith and out of worthy motivations, including occasional changes made to introduce or promote a viewpoint not in the text being copied. As a class, intentional alterations are far fewer than accidental ones, yet they can excercise far more influence in the transmission process.\u201d<\/em> <\/p>\n\n\n\n<p>Bila diterapkan pada al-Qur\u2019an, hermeneutika otomatis menghendaki penolakan terhadap status al-Qur\u2018an sebagai <em>Kal\u0101mullah<\/em>, mempertanyakan otentisitasnya, dan pada gilirannya menggugat kemutawatiran mushaf Utsmani.<\/p>\n\n\n\n<p>Kedua, hermeneutika menganggap setiap teks sebagai \u2018produk sejarah\u2019\u2014 sebuah asumsi yang sangat tepat dalam kasus Bible, mengingat sejarahnya yang amat problematik. Sebagaimana diakui oleh Profesor Emanuel Tov, pakar sejarah Perjanjian Lama, dalam <em>The Anchor Bible Dictionary, <\/em>ed. David Noel Freedman (New York: Doubleday, 1992), 6:394, s.v. \u201cTextual Criticism (OT)\u201d: \u201c<em>At some point scholars have to form an opinion on the question of whether or not there once existed an (one)<\/em> <\/p>\n\n\n\n<p>Hal ini tidak berlaku untuk al-Qur\u2019an, yang kebenarannya melintasi batas- batas ruang dan waktu <em>(trans-historical) <\/em>dan pesan-pesannya ditujukan kepada seluruh umat manusia <em>(hudan li n-n\u0101s).<\/em><\/p>\n\n\n\n<p>Selanjutnya, praktisi hermeneutika dituntut untuk bersikap skeptis, yakni selalu meragukan kebenaran dari manapun datangnya, dan terus terperangkap dalam apa yang diistilahkan sebagai \u2018lingkaran hermeneutis\u2019, dimana makna senantiasa berubah. Lebih lanjut mengenai konsep siklus hermeneutis ini lihat J\u00fcrgen Bolten, \u201cDie hermeneutische Spirale. \u00dcberlegungen zu einer integrativen Literaturtheorie,\u201d dalam jurnal <em>Poetica <\/em>17 (1985), Heft 1\/2, hlm. 355-371. <\/p>\n\n\n\n<p>Sikap semacam ini hanya sesuai untuk Bibel, yang telah mengalami gonta-ganti bahasa (dari Hebrew dan Syriac ke Greek, lalu Latin) dan memuat banyak perubahan serta kesalahan redaksi <em>(textual corruption and scribal errors)<\/em>. \u00a0Tetapi tidak untuk al-Qur\u2019an yang jelas kesahihan proses transmisinya dari zaman ke zaman. Lihat penjelasannya dalam buku Muhammad Mustafa Azami, <em>Sejarah Teks al-Quran: Dari Wahyu Sampai Kompilasi <\/em>(Jakarta: Gema Insani Press, 2005). <\/p>\n\n\n\n<p>Terakhir, hermeneutika menghendaki pelakunya untuk\nmenganut relativisme epistemologis. Tidak ada penafsiran yang mutlak benar,\nsemua tafsir relatif. Yang benar menurut seseorang boleh jadi salah\nmenurut&nbsp; orang&nbsp; lain.&nbsp;\nKebenaran&nbsp; dianggap&nbsp; terikat dan bergantung pada konteks (zaman\ndan tempat) tertentu. Selain mengaburkan dan menolak kebenaran, faham ini juga\nakan melahirkan mufassir-mufassir gadungan dan pemikir-pemikir liar yang sesat lagi menyesatkan.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">3.&nbsp;&nbsp;\n\u2018Demam&#8217; Hermeneutika di Dunia Islam<\/h3>\n\n\n\n<p>Di kalangan pemikir Muslim kontemporer, \u2018demam&#8217; hermeneutika pertama kali muncul dalam tulisan-tulisan Fazlur Rahman yang mengemukakan teori \u2018gerakan ganda&#8217; <em>(double movement) \u00a0<\/em>untuk menafsirkan al-Qur\u2019an. Menurut \u00a0sarjana asal Pakistan ini, ada dua langkah yang mesti dilakukan oleh seorang penafsir al-Qur\u2019an, yaitu: pertama, meneliti makna ayat-ayat al-Qur&#8217;an secara keseluruhan beserta latar sejarahnya <em>(to study the meaning of the Qur\u2019an as a whole including its historical theater) <\/em>demi memperoleh kaedah-kaedah umum sebagai asas untuk membangun kerangka\u00a0 nilai yang\u00a0 sistematis dan, kedua, menerapkan kerangka nilai dan kaedah-kaedah ini <em>(to apply these principles and values to a new context in in the present)<\/em>. Fazlur Rahman mengakui teorinya ini \u201cterinspirasi\u201doleh Hans-Georg Gadamer dan Emilio Betti. Lihat Fazlur Rahman, <em>Islam and Modernity <\/em>(Chicago: University of Chicago, 1982), 6-7 atau versi Indone- sianya: <em>Islam dan Modernitas, <\/em>terj. Ahsin Muhammad, (Bandung; Pustaka, 1985), hlm. 9-10. Untuk uraian lanjut tentang pemikirannya ini, lihat Abdullah Saeed, \u201cFazlur Rahman: a framework for interpreting the ethico-legal content of the \u00a0Qur\u2019an,\u201d dalam <em>Modern \u00a0Muslim \u00a0Intellectuals \u00a0and \u00a0the \u00a0Qur\u2019an<\/em>, \u00a0ed. \u00a0Soha Taji- Farouki, (London: Oxford University Press, 2004), 37-65. <\/p>\n\n\n\n<p>Sejumlah cendekiawan mengikuti jejaknya, antara lain Farid Esack dari Afrika Selatan yang juga mengusung relativisme teks. Di sini tak terkecuali teks al-Qur\u2019an yang dianggapnya telah secara tradisional difungsikan sebagai ideologi yang melegitimasi ketidakadilan gender dan, karenanya, mesti ditafsirkan ulang agar bisa dijadikan motor pembebasan (Farid Esack, 2000: 35). Ia juga menganjurkan reinterpretasi dan redefinisi istilah-istilah kunci seperti iman, islam, <em>kufr <\/em>dan ahlul kitab agar tercipta pemahaman yang inklusif dan pluralistik. Lihat Farid Esack, <em>Qur\u2019an, Liberation &amp; Pluralism: An Islamic Perspective of Interreligious. Solidarity against Oppression (<\/em>Oxford: Oneworld, 1997), terj. <em>Al-Qur\u2019an, Liberalisme, Pluralisme: Membebaskan yang Tertindas <\/em>(Bandung: Mizan, 2000). <\/p>\n\n\n\n<p>Di Timur Tengah ada dua orang pemikir\nyang menganjurkan hermeneutika, yaitu Hasan Hanafi dan Nasr Hamid Abu Zayd.\nYang disebut pertama menulis disertasinya<\/p>\n\n\n\n<p>tentang \u00a0fenomenologi \u00a0penafsiran \u00a0sebagai \u00a0\u2018hermeneutika \u00a0eksistensialis\u2019. \u00a0Menurutnya, hermeneutika bukan sekadar membahas metode penafsiran (teknis) ataupun peristiwa penafsiran (filosofis), akan tetapi juga memperbincangkan dimensi sejarah teks dan kepentingan praktis dalam kehidupan. Proses mengetahui makna yang tepat dari sebuah teks mesti diikuti dengan proses aktualisasinya dalam kehidupan manusia. Ini karena, menurutnya, tujuan utama sebuah teks wahyu adalah untuk mengubah kehidupan manusia itu sendiri. Hasan Hanafi, \u201cHermeneutics as Axiomatics: An Islamic Case\u201d, dalam <em>Religious Dialogue and Revolution: Essays on Judaism, Christianity, &amp; Islam <\/em>(Cairo: The Anglo-Egyptian Bookshop, 1977), hlm. 1-2. <\/p>\n\n\n\n<p>Secara khusus, Hasan Hanafi menekankan pentingnya pendekatan tematis dalam menafsirkan al-Qur\u2019an. Lihat Hassan Hanafi, \u201cMethod of Thematic Interpretation of the Qur&#8217;an,\u201d dalam <em>The Qu&#8217;ran as Text<\/em>, ed. Stefan Wild (Leiden: E. J. Brill, 1996), 195-21. <\/p>\n\n\n\n<p>Tokoh liberal lain yang terkenal mengadopsi hermeneutika adalah Nasr Hamid Abu \u00a0Zayd. \u00a0Kisah dan kasusnya dibahas oleh Stefan Wild, \u201cDie andere Seite des Textes: Nasr Hamid Abu Zaid und der Koran\u201d dalam jurnal <em>die Welt des Islam, <\/em>no.33 (1993), hlm. 256-261; Navid Kermani, \u201cDie Affaere Abu Zayd: Eine Kritik an religioesen Diskurs und \u00a0ihre Folgen\u201d dalam jurnal <em>Orient, \u00a0<\/em>no.35 (1994), \u00a0hlm. 25-49, dan Charles Hirschkind, \u201cHeresy or Hermeneutics: The Case of Nasr Hamid Abu Zayd\u201d dalam <em>American Journal of Islamic Social Sciences (AJISS) <\/em>vol.12, no.4 (1995). <\/p>\n\n\n\n<p>Mantan \u00a0dosen \u00a0sastra \u00a0Arab \u00a0di \u00a0Universitas \u00a0Kairo \u00a0ini \u00a0mengakui \u00a0idenya \u00a0itu muncul setelah belajar di Amerika. Di sanalah ia mengenal dan mempelajari filsafat dan hermeneutika. Baginya, hermeneutika adalah ilmu baru yang telah membuka matanya: <em>\u201cMy academic experience in the [United] States turned out to be quite fruitful. I did a lot of<\/em><\/p>\n\n\n\n<p><em>reading on my own, especially in the fields of philosophy and hermeneutics. Hermeneutics, the science of interpreting texts, opened up a brand-new world for me\u201d <\/em>. Lihat <em>Voice of an Exile: Reflections on Islam <\/em>(Westport, Connecticut\/London: Praeger, 2004), hlm.95. <\/p>\n\n\n\n<p>Seperti anak kecil yang baru dapat pistol mainan, ia segera mencari sasaran tembak di sekitarnya. Kalau pisau hermeneutika bisa dipakai untuk membedah Bibel, mengapa tidak kita gunakan untuk mengupas al-Qur\u2019an? Toh keduanya sama, sama-sama kitab suci. Demikian logika Abu Zayd.<\/p>\n\n\n\n<p>Para sarjana Barat (yang nota bene Yahudi maupun Kristen)\nmemang sejak lama telah menerapkan metode-metode kritis dalam mengkaji Bibel,\nseperti metode <em>textual criticism, source criticism, form criticism<\/em>, dan\nsebagainya. Kenapa tidak kita terapkan dalam &nbsp;mengkaji &nbsp;al-Qur\u2019an?, &nbsp;pikir &nbsp;Abu &nbsp;Zayd. &nbsp;Sebagaimana &nbsp;Bibel, &nbsp;al-Qur\u2019an &nbsp;kan &nbsp;juga produk\nbudaya setempat yang tidak terlepas dari konteks&nbsp; masyarakat,&nbsp;\nsejarah&nbsp; dan&nbsp; zaman dimana ia lahir dan berkembang. Di situ\ntentu ada campur-tangan&nbsp; manusia. Berkata Abu Zayd<em>: \u201cClassical Islamic thought\nbelieves the Qur\u2019an\nexisted before it was\nrevealed. I argue\nthat the Qur\u2019an\nis a cultural product that\ntakes its shape\nfrom a particular<\/em><\/p>\n\n\n\n<p><em>time in history.\nThe historicity of the Qur\u2019an\nimplies that the text is human. Because\nthe text is grounded\nin history, I can interpret\nand understand that text. We should not be afraid to\n<\/em><em>apply all the tools\nat our disposal in order\nto get at the meaning\nof the text\u201d\n<\/em>(hlm. 99).<\/p>\n\n\n\n<p>Dengan menganggap al-Qur\u2019an sama dengan Bibel (OT dan NT), Abu Zayd lantas<\/p>\n\n\n\n<p>menurunkan status al-Qur\u2019an sebagai Kalamullah. Baginya, al-Qur\u2019an hanyalah sebuah teks, tidak lebih dari itu. Statusnya, menurut Abu Zayd, sama dengan buku-buku lainnya, yang dikarang oleh manusia, terbentuk dalam konteks budaya dan sejarah, dan sebagai wacana, tidak memiliki makna yang tetap dan baku: <em>\u201cThe divine text became a<\/em> <em>human text at the moment it was revealed to Muhammad. How else could human beings understand it? Once it is in human form, a text becomes governed by the principles of mutability or change. The text becomes a book like any other. Religious texts are essentially linguistic texts. They belong to a specific culture and are produced within that historical setting. The Qur\u2019an is a historical discourse\u2014it has no fixed, intrinsic meaning\u201d <\/em>(hlm.97).<\/p>\n\n\n\n<p>Pendapat-pendapatnya mengenai hermeneutika, tekstualitas dan historisitas al-Qur\u2019an ini \u00a0diakuinya \u00a0adalah\u00a0 \u2018oleh-oleh\u2019 \u00a0hasil \u00a0mukimnya \u00a0di \u00a0Amerika: \u00a0<em>\u201cI \u00a0owe \u00a0much \u00a0of \u00a0my understanding of hermeneutics to opportunities offered me during my brief sojourn in the United States\u201d <\/em>(hlm. 101).<\/p>\n\n\n\n<p>Di Indonesia sendiri hermeneutika ramai dibicarakan dan telah diusulkan menjadi metode alternatif meski tetap memicu pro-kontra. Penolakan terhadap hermeneutika ditunjukkan antara lain oleh Hamid Fahmi Zarkasyi, \u201cMenguak Nilai Dibalik Hermeneutika,\u201d dalam \u00a0jurnal \u00a0<em>Islamia, \u00a0<\/em>Tahun \u00a01, \u00a0No \u00a01 \u00a0Muharram 1425\/Maret \u00a02004; \u00a0Ugi Suharto, \u201cApakah Al-Qur\u2019an Memerlukan Hermeneutika,\u201d <em>Islamia<\/em>, Tahun 1, No 1 Muharram 1425\/Maret 2004. Adnin Armas, \u201cTafsir Al-Qur\u2019an atau Hermeneutika Al-Qur\u2019an\u201d, <em>Islamia<\/em>, Tahun 1, No 1 Muharram 1425\/Maret 2004; Muchib Aman Aly, \u201cApakah Al-Qur\u2019an Memerlukan Hermeneutika,\u201d <em>Aula, <\/em>No 1, tahun XVII, Januari 2005; dan Fahmi Salim, <em>Kritik Studi Al-Qur\u2019an Kaum Liberal <\/em>(Jakarta: Gema Insani Press, 2010). <\/p>\n\n\n\n<p>Sejumlah dosen perguruan\u00a0 tinggi Islam negeri maupun swasta berlomba-lomba menulis makalah dan buku-buku untuk menjustifikasi dan mempromosikannya,  \u00a0Lihat misalnya: Yusuf Rahman, \u201cThe Hermeneutical Theory of Nasir Hamid Abu Zayd: An Analytical Study of His Method of Interpretation\u201d (PhD Dissertation McGill Univ. 2001); Ilham B. Saenong, <em>Hermeneutika Pembebasan: Metodologi Tafsir Alquran Menurut Hasan Hanafi <\/em>(Jakarta: Teraju, 2002); Moch Nur Ichwan, <em>Meretas Kesarjanaan Kritis al-Qur&#8217;an: Teori Hermeneutika Nasr Abu Zayd (<\/em>Jakarta: Teraju, 2003<em>)<\/em>; Zainal Abidin, \u201cKetika Hermeneutika Menggantikan Tafsir Al-Qur\u2019an,\u201d dalam harian <em>Republika, <\/em>edisi 24 Juni 2004; Sahiron Syamsuddin, <em>Hermeneutika dan Pengembangan Ulumul Qur\u2019an <\/em>(Yogyakarta: Nawasea Press, 2009); Hasan Hanafi, <em>Hermeneutika Al-Qur\u2019an<\/em>, terj. Hamdiah Latif (Yogyakarta: Nawesea Press, 2009). <\/p>\n\n\n\n<p>Sementara sebagian yang lain masih \u2018mikir- mikir\u2019 demi menimbang konsekuensi untung-rugi dan baik-buruknya jika hermeneutika dipakai untuk menafsirkan al-Qur\u2019an. Ada yang berpendapat hermeneutika tidak bisa dijadikan sebagai metode baru untuk menggantikan metode tafsir yang telah ada, akan tetapi dapat menjadi mitra tafsir untuk memperkaya wawasan\u00a0 penafsiran. Nasaruddin Umar, \u201cMenimbang Hermeneutika sebagai Manhaj Tafsir\u201d, dalam <em>Jurnal Studi al-Qur&#8217;an<\/em>, vol. I, no. Jan. 2006. <\/p>\n\n\n\n<p>Ada\u00a0 pula yang melihat hermeneutika masih memiliki keterbatasan dalam memahami teks jika dibandingkan dengan ilmu tafsir yang metodenya telah\u00a0 disusun\u00a0 dengan\u00a0 sangat\u00a0 rinci oleh para ulama klasik. Nasruddin Baidan, \u201cTinjauan Kritis terhadap Konsep Hermeneutiks,\u201d dalam jurnal <em>Esensia<\/em>, vol. 2, no. 2, 2001. <\/p>\n\n\n\n<p>Adapun menurut Quraish Shihab hermeneutika perlu diurai dahulu satu persatu untuk diteliti bagian-bagian manakah darinya yang sejalan dengan metode tafsir para ulama dan bagian-bagian manakah yang tidak sesuai dan bahkan bercanggah dengan prinsip-prinsip agama. Ach. Maimun, \u201cResistensi terhadap Hermeneutika dalam Kajian al-Qur\u2019an di Indonesia: Pemetaan Varian dan Kepentingan\u201d, dalam jurnal <em>Suhuf<\/em>, Vol. 8, No. 2, Juni 2015, hlm. 256. <\/p>\n\n\n\n<p>Sebagai penutup,\nizinkan saya mengutip Josef van Ess, profesor emeritus dan pakar sejarah\nteologi Islam dari Universitas T\u00fcbingen, Jerman:<\/p>\n\n\n\n<p>\u201c<em>W<\/em><em>e<\/em><em> should, however, be aware of the fact that German hermeneutics was not made for Islamic studies as such. It\nwas originally a product of Protestant theology. Schleiermacher applied it to\nthe Bible. Later on, Heidegger and his pupil Gadamer were deeply imbued with\nGerman<\/em><\/p>\n\n\n\n<p><em>literature and antiquity. When such people say \u201ctext\u201d they mean a literary artifact, something aesthetically appealing, normally an ancient text which exists only in one version, say a tragedy by Sophocles, Plato\u2019s dialogues, a poem by H\u00f6lderlin. This is not necessarily so in Islamic studies<\/em>.\u201d  Lihat Irene A. Bierman (ed.), <em>Text &amp; Context in Islamic Societies <\/em>(Reading, UK: Ithaca Press, 2004), hlm. 7. <\/p>\n\n\n\n<p>Maksudnya, perlu diketahui bahwa hermeneutika yang\nberasal dari Jerman itu sebenarnya memang bukan ditujukan untuk kajian-kajian\nkeislaman. Pada asalnya ia merupakan produk teologi Protestan. Awalnya dipakai\nuntuk untuk mengkaji Bibel oleh Schleiermacher, lalu dikembangkan kemudian oleh\nHeidegger dan Gadamer dalam kajian kesusasteraan Jerman maupun klasik. Yang mereka maksud dengan istilah \u2018teks\u2019 ialah karya tulis buatan manusia, sesuatu\nyang indah lagi menarik, biasanya&nbsp; sebuah\nnaskah kuno yang hanya terdapat dalam satu versi, seperti kisah tragedi\nkarangan Sophocles, dialog-dialog karya Plato, atau pun puisi yang ditulis\nH\u00f6lderlin. Ini jelas tidak sama dengan konsep\nteks dalam kajian\nIslam.<\/p>\n\n\n\n<p>Josef van Ess benar belaka. Sebagai \u2018anak kandung\u2019 tradisi intelektual Barat hasil perkawinannya dengan teologi Kristen, hermeneutika\nmemang tidak sesuai untuk diterapkan dalam studi Islam. Kita katakan \u2018tidak sesuai\u2019, bukan \u2018tidak bisa\u2019 atau \u2018tidak mungkin\u2019,&nbsp; &nbsp;karena&nbsp; &nbsp;perkara&nbsp; &nbsp;ini&nbsp; &nbsp;lebih&nbsp; &nbsp;menyangkut&nbsp; &nbsp;dampak&nbsp; &nbsp;dan&nbsp; &nbsp;hasil,&nbsp; &nbsp;ketimbang hukumnya.\nHermeneutika hanya akan membuahkan kebingungan dan keragu-raguan. Betapa tidak,\nsedangkan ia bertolak dari skeptisisme dan relativisme, menghendaki\nketidakpastian makna dan penafsiran, merayakan konflik dan kontradiksi. Karena\nitu, bagi umat Islam yang memahami al-Qur\u2019an, hermeneutika lebih merupakan musibah ketimbang hikmah. Saudara-saudara kita yang ingin\nmengambil hermeneutika sebagai metode tafsir baru tak ubahnya seperti istri\nAladdin yang tergiur menukar lampu lama dengan\nlampu baru milik\nsi tukang sihir.\n<em>Wallahu\na\u2018lam.<\/em><em><\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Dr Syamsuddin Arif Direktur Eksekutif INSISTS &amp; Dosen UNIDA Gontor Akhir-akhir ini gerakan \u2018impor pemikiran\u2019 semakin gencar dilakukan, terutama oleh kalangan yang menggeluti Islamic Studies di perguruan tinggi kita di Tanah Air. Sayangnya, tidak banyak yang \u2018teliti sebelum membeli\u2019. Banyak yang tidak menyadari bahwa gagasan-gagasan asing itu sebenarnya bertentangan dengan&nbsp; dan&nbsp; bahkan&nbsp; berpotensi menggerogoti sendi-sendi [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"pagelayer_contact_templates":[],"_pagelayer_content":"","footnotes":""},"categories":[8,9],"tags":[],"class_list":["post-794","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-artikel","category-pemikiran-islam"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/staiindojkt.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/794","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/staiindojkt.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/staiindojkt.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/staiindojkt.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/staiindojkt.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=794"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/staiindojkt.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/794\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":796,"href":"https:\/\/staiindojkt.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/794\/revisions\/796"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/staiindojkt.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=794"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/staiindojkt.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=794"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/staiindojkt.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=794"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}