{"id":797,"date":"2019-11-01T07:53:08","date_gmt":"2019-11-01T07:53:08","guid":{"rendered":"https:\/\/staiindojkt.ac.id\/?p=797"},"modified":"2019-11-01T07:54:56","modified_gmt":"2019-11-01T07:54:56","slug":"islamisasi-ilmu-kontemporer","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/staiindojkt.ac.id\/?p=797","title":{"rendered":"Islamisasi Ilmu Kontemporer"},"content":{"rendered":"\n<p class=\"wp-block-paragraph\" style=\"text-align:center\"><strong>Baharuddin\nAbdRahman<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Islamisasi bukanlah Kristenisasi dalam arti konversi\nagama. Islamisasi merupakan sebuah program kerja yang sejatinya berusaha untuk\nmerajut kembali puing-puing bangunan peradaban Islam, khususnya bangunan\nepistemologi, yang kian hancur akibat gempuran hegemoni Barat yang didominasi\noleh pandangan hidup (<em>worldview<\/em>)\nsekular.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Program kerja Islamisasi, sebagaimana yang al-Attas paparkan dalam presentasinya pada konfrensi Islam sedunia pertama mengenai pendidikan (<em>First World Confrence on Muslim Education<\/em>) yang diselenggarakan di Makkah pada tahun 1977  (perlu di ketengahkan bahwa konfrensi Islam dunia mengenai pendidikan Islam tersebut tak lain dan tak bukan merupakan hasil dari desakan al-Attas kepada <em>Islamic Secretariat <\/em>yang bermarkas di Jeddah untuk sesegera mungkin mengadakan pertemuan para cendekiawan Muslim dalam rangka membahas dan mencari solusi terhadap permasalahan yang dihadapi umat Islam. Selengkapnya, lihat Wan Daud, <em>The Beacon<\/em>, hlm. 13. ) adalah:<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201c<em>\u2026the liberation of man first from magical, mythological, animistic, national-cultural tradition opposed to Islam, and then from secular control over his reason and his language.<\/em>\u201d  (Al-Attas, <em>Islam and Secularism, <\/em>hlm. 44. Bandingkan Alparslan Acikgenc, <em>Islamic Science: Toward a Definition <\/em>(Kuala Lumpur: ISTAC), 1996, hlm. 1-2. )<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Program ini disebut dengan program kerja 2M i.e., mengidentifikasi lantas membebaskan. <strong>Mengidentifikasi <\/strong>artinya menemukan elemen-elemen asing termasuk konsep-konsep kunci yang bersemayam di dalam tubuh ilmu yang tidak sesuai dengan nilai dan ajaran Islam (<em>un-islamic<\/em>), misalnya: magik, mitos, animisme, tradisi dan budaya, bahasa dan pikiran sekular, kemudian <strong>membebaskan <\/strong>dengan jalan membersihkan dan mengisolasi elemen-elemen serta konsep- konsep kunci asing yang tersemat-semayam tersebut.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Program kerja islamisasi ilmu juga mengharuskan adanya <strong>formulasi <\/strong>nilai-nilai dan konsep-konsep kunci Islam, seperti: konsep manusia (<em>ins\u0101n<\/em>), agama (<em>d\u012bn<\/em>), ilmu (<em>\u2018ilm <\/em>and <em>ma\u2018rifah<\/em>), kebijaksanaan (<em>\u1e25ikmah<\/em>), adil (<em>\u2018adl<\/em>) dan adab (<em>ta\u2019d\u012bb<\/em>).  Nilai-nilai dan konsep-konsep kunci Islam ini sangat berkaitan dengan konsep-konsep, misalnya: Tuhan, wahyu, syari\u2018ah, nabi dan lain sebagainya. Lihat al-Attas, <em>et.al., Aims and Objectives, <\/em>hlm. 44. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dalam hal ini al-Attas menulis:<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Our next task will be the formulation and integration of the essential Islamic elements and key concepts so as to produce a composition which will comprise the core knowledge to be deployed in our educational system from the lower to the higher levels in respective gradations designed to conform to the standard of each level&#8230;  Lihat al-Attas, <em>et.al., Aims and Objectives, <\/em>hlm. 44. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Program kerja selanjutnya adalah <strong>integrasi <\/strong>nilai-nilai dan konsep-konsep kunci Islam yang telah\ndiformulasi ke dalam disiplin ilmu-ilmu inti atau <em>core knowledge. <\/em>Dan yang terakhir adalah <strong>penyebaran <\/strong>(<em>deployment<\/em>).\nPenyebaran di sini adalah dengan menjadikan disiplin ilmu-ilmu inti sebagai\nsebaran mata ajar\/kuliah (kurikulum) dalam sistem pendidikan yang akan\ndiimplementasi mulai dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi dengan\npertimbangan situasional-kondisional. Artinya, jika disiplin ilmu-ilmu inti\ndiaplikasikan pada institusi tingkat dasar, maka kadar penyampaian pendidik\nserta tingkat kedalamannya harus menyesuaikan kapasitas peserta didik dan\nbegitu seterusnya hingga pada institusi tingkat tinggi. Disiplin ilmu- ilmu\ninti adalah mata ajar\/kuliah yang dikategorikan sebagai<em>\u2018ilm far\u1e0d \u2018ain.<\/em><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Penting untuk dicatat bahwa proses kerja islamisasi\nbukan sekadar transplantasi (menempelkan), bukan pula ayatisasi dan haditsisasi\nsebagai justifikasi dan pembenaran, tapi ia adalah <strong>integrasi <\/strong>di mana nilai dan ajaran termasuk konsep-konsep kunci\nIslam yang telah diformulasi memberi corak dan warna terhadap disiplin ilmu.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Telah disinggung sebelumnya bahwa Islamisasi ilmu yang diproyeksikan al-Attas aplikasinya berbeda dalam disiplin ilmu <em>far\u1e0d \u2018ain <\/em>termasuk ilmu alam, sains terapan dan sejenisnya dengan ilmu <em>far\u1e0d kif\u0101yah <\/em>atau ilmu-ilmu humaniora dan umum lainnya<em>. <\/em>Hal ini terlihat jelas dari pengistilahan islamisasi ilmu al-Attas yang menggunakan dan menyifatkan terma \u201ckontemporer\u201c kepada kata \u201cilmu,\u201d presisinya <em>Islamization of Contemporary Knowledge<\/em>. Pada disiplin ilmu yang kedua disebut, Islamisasi ilmu bekerja secara total dalam tataran tubuh ilmu serta interpretasi fakta dan formulasi teorinya; sedang yang tersebut pertama, Islamisasi hanya bekerja pada tataran interpretasi dan formulasi teori saja, sebagaimana yang al-Attas jelaskan:<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">&#8230; even in the natural, physical and applied sciences, particularly where they deal with <em>interpretasions of facts <\/em>and <em>formulation of theories, <\/em>the same process of isolation of the elements and key concepts should be applied; for the interpretations and formulations indeed belong to the sphere of the human sciences.  Lihat al-Attas, <em>Aims and Objective of Islamic Education, <\/em>hlm. 43. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dengan adanya pembatasan objek Islamisasi kepada ilmu-ilmu kontemporer, al-Attas jelas berbeda dengan modernis Muslim yang menganjurkan keharusan melakukan dekonstruksi (<em>deconstruction<\/em>), Lihat Abdullahi Ahmed An-Na\u2019im, <em>Dekonstruksi Syari\u2019ah, <\/em>terj. Ahmad Saedy &amp; Amiruddin Arrani (Yogyakarta: LKis), 1994. ; peninjauan kembali (<em>rethinking<\/em>), Lihat Mohammed Arkoun, <em>Rethinking Islam: Common Questions, Uncommon Answers <\/em>(U. S. A.: Westview Press, 1994); ataupun pendewasaan (<em>maturity<\/em>) Islam.  Dalam Islam, baik bentuk ritual maupun konsep misalnya, mengenai Tuhan, wahyu, penciptaan, manusia, ilmu pengetahuan, agama, keadilan, kebebasan, nilai, kebahagiaan dan lain sebagainya, telah sempurna dari sejak diturunkan ke bumi, khususnya berkaitan dengan hal \u201cyang sudah sangat jelas\u201d (<em>al-ma\u2018l\u016bm min al-d\u012bn bi al- \u1e0dar\u016brah<\/em>). Lihat Adnin Armas, \u201cWesternisasi dan Islamisasi Ilmu,\u201d hlm. 14. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Al- Attas, hanya melihat pentingnya khazanah intelektual kontemporer yang telah terinjeksi dengan pandangan hidup (<em>worldview<\/em>) sekular serta magis, mitos, animisme dan tradisi lokal yang bertentangan dengan pandangan hidup Islam yang harus menjadi objek perhatian Islamisasi.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Bagi al-Attas, khazanah intelektual masa lampau, misalnya <em>ilmu al-had\u012bts, ilmu u\u1e63\u016bl al- Fiqh, <\/em>dan\nkhsusnya, <em>u\u1e63\u016bl tafs\u012br <\/em>dan <em>ta\u2018w\u012bl <\/em>merupakan metodologi dan\npendekatan saintifik<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">(<em>scientific methodology<\/em>) yang membawa\nkepada ilmu pengetahuan yang pasti (<em>certain\nknowledge<\/em>), laiknya ilmu fisika dan matematika, sebagaimana yang dijelaskan\noleh Wan Daud:<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><em>The scientific method of tafs\u012br, as related to our earlier explanation of the scientific nature of the Arabic language, revolves around the fact that the results of proper tafs\u012br work is certain knowledge, as certain as that provided for by the exact sciences such as physics and mathematics\u2026<\/em>\u201d   Lihat Wan Daud, <em>Educational Philosophy<\/em>, hlm. 354. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Masih dalam diskursus Islamisasi. Menurut al-Attas, Islamisasi berawal dan harus dimulai dari bahasa, khususnya bahasa Arab. Hal ini karena bahasa berkait erat dengan pemikiran dan konsep yang selanjutnya secara sistemik mengartikulasi pandangan Islam (<em>Islamic Worldview<\/em>).   Lihat Wan Daud, <em>The Beacon, <\/em>hlm. 36. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Islamisasi bahasa yang dimaksud di sini bukan berarti melakukan perubahan terhadap struktur tata bahasa (<em>grammatical structure<\/em>), melainkan pengstrukturan serta penyulingan kembali aspek-aspek kebahasaan atau semantik, khususnya, terma-terma dan konsep-konsep kunci yang pada gilirannya pandangan Islam termuat dengan jelas, sebagaimana halnya ketika al-Qur\u2019an pertama kali diturunkan kepada nabi Muhammad SAW yaitu Surat al-\u2018Alaq [96] ayat 1-5:<\/p>\n\n\n\n<div class=\"wp-block-image\"><figure class=\"aligncenter\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"851\" height=\"133\" src=\"https:\/\/staiindojkt.ac.id\/wp-content\/uploads\/2019\/11\/cats.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-798\" srcset=\"https:\/\/staiindojkt.ac.id\/wp-content\/uploads\/2019\/11\/cats.jpg 851w, https:\/\/staiindojkt.ac.id\/wp-content\/uploads\/2019\/11\/cats-300x47.jpg 300w, https:\/\/staiindojkt.ac.id\/wp-content\/uploads\/2019\/11\/cats-768x120.jpg 768w\" sizes=\"auto, (max-width: 851px) 100vw, 851px\" \/><\/figure><\/div>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Bacalah dengan\n(menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan (1). Dia telah menciptakan manusia\ndari segumpal darah (2).Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah (3).yang\nmengajar (manusia) dengan perantaraan kalam (4). Dia mengajar kepada manusia\napa yang tidak diketahuinya (5).<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Di&nbsp; dalam&nbsp; Surat&nbsp; al-\u2018Alaq&nbsp; tersebut,&nbsp; Allah&nbsp; SWT&nbsp; menjelaskan,&nbsp; secara&nbsp; teologis&nbsp; bahwa Allah adalah sang Pencipta dan sekaligus secara epistemologis bahwa Allah adalah Sumber ilmu pengetahuan. Hal ini merupakan salah satu dari bentuk \u201cIslamisasi\u201d dengan pengertian telah terjadi \u201cpenyulingan\u201d terhadap konsep dengan menyematkan nuangsa atau nilai Islam sehingga asumsi Arab Jahiliyah bahwa warisan nenek moyang sebagai sumber dan panutan dari pikiran ataupun tindakan mereka terisolir. Lihat Wan Daud, <em>The Beacon, <\/em>hlm. 33. Contoh lain dari terjadinya islamisasi bahasa adalah penyulingan serta pengetatan makna <em>al-sunnah. <\/em>Sebagaimana diketahui bahawa, pada zaman pra-Islam, terma <em>al-sunnah <\/em>digunakan dalam pengertian yang sangat luas. Ia bermakna tradisi yang mencakup tradisi yang baik sekaligus tradisi yang buruk, begitupula bagi pelaku tradisi, ia tidak terbatas kepada individu atau golongan tertentu, tetapi mencakup tradisi individu atau golongan mana saja. Akan tetapi, pada zaman Islam, pengertian sunnah menjadi sempit dan mengalami pengetatan&nbsp; makna. Artinya terbatas kepada prilaku individu dan golongan tertentu saja, yaitu tradisi dan kebiasaan yang dilakukan oleh Rasulullah dan para sahabatnya yang tentunya mendapat legalitas (<em>al-mahdiyy\u016bn <\/em>= yang mendapat hidayah), dan bahkan terbatas kepada tradisi yang baik saja, oleh karena mereka, khususnya Rasulullah adalah <em>ma\u2019\u1e63um \u2018an al- khata\u2019 <\/em>(terhindarkan dari kesalahan). Dengan dasar tersebut pakar mendefinisikan <em>al-sunnah <\/em>sebagai: <em>Segala yang diriwayatkan dari Nabi Muhammad <\/em>SAW <em>baik berupa perkataan, perbuatan, ketetapannya (taqr\u012br), sifat jasmani atau sifat akhlak, perjalanan baik sebelum ataupun setelah diangkatnya sebagai Nabi (bi&#8217;tsah). <\/em>Lihat Manna\u2019 al-Qa\u1e6d\u1e6d\u0101n, <em>Mab\u0101\u1e96its f\u012b \u2018Ul\u016bm al-\u1e24ad\u012bts, <\/em>Cairo: Maktabah Wahbah, 2007, 14.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kembali ke fokus pembahasan, Islamisasi ilmu pengetahuan kontemporer bukan merupakan pekerjaan semudah membalikkan telapak tangan. Ia memerlukan perhatian khusus dan kemapanan ilmu. Di samping itu, tidak semua yang datang dari Barat esensinya salah sehingga harus ditolak. Dengan demikian, pengusung ide Islamisasi, sebagaimana yang ditekankan oleh al-Attas, selaiknya memiliki prasyarat-prasyarat yang intinya adalah mampu menyelami pandangan hidup Islam sekaligus kebudayaan dan peradaban Barat.  Lihat Wan Daud, <em>Educational Philosophy<\/em>, hlm. 237. Ada lima unsur, menurut al-Attas, yang membentuk kebudayaan dan peradaban Barat: 1. Akal dijadikan sebagai tolak ukur dalam membimbing kehidupan manusia; 2. Bersikap dualistik terhadap realitas dan kebenaran; 3. Menegaskan aspek eksistensi yang memproyeksikan pandangan hidup sekular; 4. Membela doktrin humanism; dan, 5. Menjadikan drama dan tragedy sebagai unsur yang dominan dalam fitrah dan eksistensi kemanusiaan. Lihat selengkapnya dalam al-Attas, <em>Prolegomena, <\/em>hlm. 88, 99- 108. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Hal inilah yang dimaksud dengan prosedur islamisasi di atas, yaitu: mengidentifikasi unsur-unsur asing dari nilai-nilai Islam yang memuat dalam tubuh ilmu, selanjutnya membebaskan dari unsur-unsur tersebut, dan terakhir mengimpusnya dengan elemen-elemen esensial serta konsep-konsep kunci Islam dalam setiap bidang ilmu pengetahuan saat ini yang relevan.  Lihat Wan Daud, <em>Educational Philosophy<\/em>, hlm. 313. Bandingkan Al-Attas, <em>et.al., Aims and Objectives,<\/em> hlm. 43-47, passim <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Prasyarat-prasyarat beserta segala implikasinya inilah\nyang selanjutnya memungkinkan terjadinya proses Islamisasi, i.e., pembebasan\nmanusia dari magik, mitos, animisme, tradisi dan budaya lokal yang bertentangan\ndengan nilai Islam, serta pembebasan manusia dari pengaruh sekular terhadap\nbahasa dan pikirannya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Satu hal yang dapat dijadikan sebagai konsen bahkan\npertanyaan dalam diskursus islamisasi ilmu. Apakah teori islamisasi ilmu yang\ndiproyeksikan al-Attas benar-benar membatasi diri pada disiplin ilmu-ilmu\nkontemporer, khususnya yang telah mengalami proses sekularisasi? Ataukah\nmeliputi juga disiplin ilmu-ilmu <em>tur\u0101ts <\/em>atau\nkhazanah intelektual para ulama zaman dulu yang kategorinya adalah ilmu agama\ndan yang diidentifikasi sebagai <em>\u2018ilm far\u1e0d\n\u2018<\/em>ain?<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Jawaban dari pertanyaan ini,\nmenurut hemat penulis terdapat di dalam pernyataan al-Attas:<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">&#8230; even in the natural, physical and applied sciences, particularly where they deal with <em>interpretasions of facts <\/em>and <em>formulation of theories, <\/em>the same process of isolation of the elements and key concepts should be applied; for the interpretations and formulations indeed belong to the sphere of the human sciences. Lihat al-Attas, <em>et.al., Aims and Objectives, <\/em>hlm. 43. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Di sini, jika kita dapat menganalogikan ilmu-ilmu <em>tur\u0101ts <\/em>dengan ilmu alam, fisik dan ilmu\nterapan, maka kesimpulan yang akan muncul adalah <em>\u2018ilm far\u1e0d \u2018ain <\/em>pun dapat menjadi objek Islamisasi meski hanya\nterbatas pada tataran interpretasi dan formulasi teori. Hal yang dapat\nmendukung tesis ini adalah definisi Islamisasi itu sendiri yang intinya adalah <em>penanggalan interpretasi ilmu dari ideologi,\nmakna dan bahasa sekular dan sekularisme yang menyemat<\/em>.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Walhasil, teori islamisasi ilmu inilah yang kemudian\nmenjadi frame al-Attas dalam merangkai dan menyusun kurikulum, presisinya\nkurikulum berbasis adab yang selanjutnya terimplementasi dalam kurikulum\npendidikan ISTAC.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><em>Allah A\u2019lam bi al-\u1e62aw\u0101b<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Baharuddin AbdRahman Islamisasi bukanlah Kristenisasi dalam arti konversi agama. Islamisasi merupakan sebuah program kerja yang sejatinya berusaha untuk merajut kembali puing-puing bangunan peradaban Islam, khususnya bangunan epistemologi, yang kian hancur akibat gempuran hegemoni Barat yang didominasi oleh pandangan hidup (worldview) sekular. Program kerja Islamisasi, sebagaimana yang al-Attas paparkan dalam presentasinya pada konfrensi Islam sedunia pertama [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[8,9],"tags":[],"class_list":["post-797","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-artikel","category-pemikiran-islam"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/staiindojkt.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/797","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/staiindojkt.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/staiindojkt.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/staiindojkt.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/staiindojkt.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=797"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/staiindojkt.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/797\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":800,"href":"https:\/\/staiindojkt.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/797\/revisions\/800"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/staiindojkt.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=797"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/staiindojkt.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=797"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/staiindojkt.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=797"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}