Hubungi Kami : 0814 1350 4543

Islam Liberal: Naturalisasi Gerakan Transnasional

Ahad, 15 September 2019, INSISTS kembali mengadakan seminar sehari. Kali ini tema yang diangkat adalah “Fenomena Transnasional Islam Liberal di Dunia Akademik”. Sebuah tema yang sebetulnya tidak asing, khususnya dalam tumbuh kembang wacana pemikiran Islam di Indonesia. Seminar sehari ini terbagi menjadi dua sesi: di mana sesi pertama diisi oleh dua narasumber. Pertama Dr. Nirwan Syafrin yang secara khusus memaparkan fakta-fakta penting terkait pemikiran liberal di dunia Arab, dan dilanjutkan oleh Dr. Syamsuddin Arif, yang dengan gamblang menjelaskan persoalan Syahrur dan diabolisme ilmiah.

Di sesi awal, Dr. Nirwan menjelasan  pembagian-pembagian; periodesasi pemikiran Islam  yang terdiri dari klasik, pre modern, modern dan kontemporer. Tipologinya; liberal, salafi dan eklektik. Dari pembagian itu, Dr. Nirwan memaparkan temuannya bahwa bila dipetakan, pintu masuk dari liberalisme di dunia Arab dimulai dengan invasi Napoleon ke Mesir di tahun 1798. Gerakan liberalisasi kemudian semakin menguat lagi dengan dikirimnya beberapa pelajar Mesir untuk melanjutkan studinya di negara-negara Eropa; lewat program yang dicanankan oleh Muhammad Ali di tahun 1813. Dari catatan Dr. Nirwan, hasil dari program tadi muncul beberapa tokoh; salah satunya Rif’ah Ali Tahtawi yang menerjemahkan beberapa buku pemikir Barat ke dalam bahasa Arab.

Hasil dari gerakan penerjemahan itu, muncul nama-nama seperti Syibli Syumail (1860-1917), Farah Antun (1874-1922) dari al-Jami’ah al-Utsmaniyah, Ya’qub Sarruf (1852-1927), Faris Nimr (1856-1951), Salamah Musa (1888-1958) dst. Pada lanjutannya, melahirkan nama-nama pemikir liberal Muslim, seperti; Qasim Amin, Luthfi Al-Sayyid, Muhammad Husain Haykal, Taha Husain juga Ali Abd al-Raziq. Perlu dicatat, di sela-sela penjelasan yang berkaitan dengan tokoh pemikir liberal Muslim, Dr. Nirwan memberikan tambahan bahwa Jalaluddin al‐Afghani juga Muhammad Abduh, bukan termasuk liberal; sebagaimana yang populer di telinga banyak orang.

Sebab baik Afghani maupun Abduh tidak sekalipun mengkampanyekan pemisahan Agama dengan Negara. Bahkan, keduanya secara eksplisit menyatakan bahwa Islam sejatinya sudah cukup modern. Maka kalau hanya ingin menjadi peradaban yang maju, Islam tidak perlu mencari-cari formulasi dari peradaban manapun—Barat tanpa terkecuali. Bahkan keduanya secara serius, menyebarkan ide pan-Islamisme; yaitu sebuah ajakan untuk kembali kepada Islam; di tengah-tengah populernya jargon sekuler. Oleh itu, bagi Dr. Nirwan kedua tokoh sentral ini tidak bisa dikatakan masuk dalam kategori liberal, karena secara garis besar pemikirannya tidak beririsan dengan ide-ide liberal.

Kemudian, gerakan Liberal-Sekuler ini semakin meluas lagi, disebabkan kekalahan bangsa Arab dalam peperangan melawan Israel di tahun 1967. Dr. Nirwan melanjutkan; kekalahan itu, secara emosional memunculkan bentuk frustasi yang mendalam di kalangan kelompok elit Arab. Di mana akibat dari peristiwa itu, bangsa Arab merasa terluka dan melampiaskan luka itu lewat kemarahan dan sikap emosi; dengan mengkritisi tradisi, nilai, ulama, politik, sosial, agama, tanpa terkecuali akal Arab.

Di sini, masyarakat Arab memasuki periode yang disebut marhalah al-naqd al-ma’rifi. Peristiwa demi peristiwa itu pada muaranya melahirkan gerakan untuk bersikap skeptis pada Islam “sceptics of Islam”. Sebuah gerakan yang mulai mempertanyakan kembali prinsip-prinsip agama Islam yang telah mapan. Menariknya, ide liberalisasi juga sekularisasi pada titik tertentu sebenarnya menyalahi prinsip yang ia bawa sendiri; yaitu menggunakan dalil kitab suci sebagai basis pendapat. Di satu sisi ada upaya berlepas; bebas, liberty dari dalil-dalil agama karena dianggap kuno; tidak kontekstual, tapi di sisi yang bersamaan dengan malu-malu, (masih) menggunakan dalil-dalil agama tersebut untuk menjustifikasi keyakinannya. Maxisme, Freudisme, Strukturalisme, Dekonstruksionisme, Feminisme dll, berusaha mencari pembenaran lewat dalil agama.

Sikap yang tidak konsisten dan paradok ini menurut Louay Safi dalam “the Challenge of Modernity” digunakan untuk menegaskan bahwa pemikiran liberal dan sekuler bukan sesuatu yang asing di mata agama “..realized that they cannot win the struggle for their modernist project without taking head on the theoretical basis of religious ideas, that is without turath interpreting the Islamic heritage and using it in support of their claims to legitimacy”. Ini berarti pada kenyataannya, ide liberal sebebas apapun klaimnya tetap tidak bisa terlepas dari dalil-dalil agama; minimal sebagai upaya pembenaran, agar idenya dapat diterima oleh masyarakat secara luas.

Dari itu, buku-buku seperti “Min al-Turath ila al-Thawrah” karya Tayyib Tazini, “al-Nazrah al-Maddiyah fi al-Falsafah al-Islamiyah” karya Husayn Muruwwah, “Naqd al-‘Aql al-Islami” karya Mohammad Arkoun, “Naqd al-‘Aql al-Arabi” karya Abid al-Jabiri, “al-Turath wa al-Tajdid” karya Hassan Hanafi, hingga “Nasiyyah al-Qur’an” karya Nasr Hamid Abu Zayd dll, beredar dengan bebas di pasaran. Anehnya, buku-buku ini beredar lepas tanpa ada upaya kritik yang memadahi; buku-buku ini menjadi rujukan di beberapa perguruan tinggi khususnya Indonesia. Di sini, fenomena transnasional Islam liberal di dunia akademik berawal dan bermula.

Lebih jauh lagi, di sesi akhir dan Tanya jawab, Dr. Nirwan memberi sebuah simpulan penting terkait ciri khas dari gerakan liberalisasi ini, di antaranya: pertama, gerakan liberalisasi membongkar struktur terdasar epistemologi Islam yaitu; al-Qur’an, dilanjutkan dengan membongkar struktur-struktur yang lain setelahnya. Kedua, Islam hanya dianggap sebagai norma dan etika semata, tidak disertai dengan syariat. Ini berarti, upaya dekonstruksi dan desakralisasi tampak jelas terlihat. Ketiga, I’adatu Tafsir yaitu adanya upaya menghadirkan tafsir ulang, dan metodologi khas Barat: hermeneutika sebagai pendekatan.

Keempat, inkonsisten dan tidak fair melihat persoalan. Ini bisa dilihat dari bagaimana kalangan liberal dan para pengagumnya begitu kritis kepada para ulama, tetapi di saat yang bersamaan daya kritis itu hilang begitu saja ketika bersinggungan dengan karya-karya yang berupaya menyelisihi Islam; tanpa telaah yang mendalam, mereka menerima begitu saja. Bahkan auto benar dengan sendirinya. Kelima, Ideologisasi dan indoktrinasi dalam bentuk baru. Ciri kelima ini terlihat, bagaimana narasi mengikuti al-Qur’an, sunnah dengan para Ulama salih, dianggap indoktriner. Padahal di saat yang bersamaan, narasi tersebut secara tidak langsung juga bermakna indoktriner; kalangan liberal menginginkan semua umat muslim mengikuti apa yang selama ini mereka hasilkan. Ini adalah bentuk lain dari indoktrinasi dan ideologisasi. Persis seperti peribahasa melayu: “menepuk air di dulang, terpercik muka sendiri”.

Sejalan dengan itu, Dr. Syamsuddin Arif dalam seminar lanjutan juga menyebutkan bahwa salah satu dari hasil liberalisasi adalah krisis otoritas. Di mana dalil-dalil agama, tidak lagi dipahami dengan merujuk kepada ulama yang mu’tabar tetapi malah merujuk kepada yang tidak menguasai ilmu agama sama sekali, dengan dalih relativisme kebenaran tafsir, kebebasan berpendapat dan berpikir. Gagasan ini menurut Dr. Syamsuddin tidak realistis, naif dan patut untuk dicurigai. Tidak realistis karena riilnya tidak semua penafsiran harus diterima, begitu pula sebaliknya. Penafsiran yang dimaksudkan untuk justifikasi pada ideologi tertentu, kepentingan atau ambisi tertentu; yang menggiring pada paham-paham tertentu jelas ditolak dan tidak bisa diterima dengan alasan apapun.

Naif karena seruan itu akan kembali dan menyerang dirinya sendiri “self defeating”. Keyakinan atas adanya relativitas terhadap tafsir, secara tidak langsung merelatifkan tafsirannya sendiri, dan mengisaratkan bahwa kata-katanya sendiri tidak layak untuk diikuti. Sedang patut untuk ‘dicurigai’ karena ada kemungkinan bahwa seruan itu jangan-jangan adalah tuntutan agar dirinya yang belum layak untuk menafsirkan diberikan hak dan kesempatan untuk menafsirkan al-Qur’an; untuk mengakomodir keyakinannya “bisa dibayangkan apa yang terjadi jika pramugari berlagak menjadi pilot atau perawat berlagak sebagai dokter” pungkas dosen pascasarjana alumni Gontor yang asli betawi ini.

Lebih dalam lagi, Dr. Syamsuddin secara khusus menjabarkan kesalahan-kesalahan Syahrur berserta pengikutnya dalam menyimpulkan ayat-ayat ahkam yang ada di dalam al-Qur’an. Misalnya saja ketidakonsistenan syahrur dalam membaca terminologi milkul yamin. Dalam beberapa penjelasan Syahrur menerangkan milkul yamin sebagai “patner seksual” tetapi pada lembaran lain, ia menjelaskan milkul yamin sebagai “hubungan antara tuan dengan budak”; yaitu sebuah predikat. Ini jelas terlihat janggal. Sebab secara logika ‘substance’ tidak bisa disamakan dengan predikat, begitupun sebaliknya.

Selain itu—dalam kasus milkul yamin ini—penjelasan Syahrur juga terindikasi dekat dengan Shiah. Hal ini tampak dari pengakuannya bahwa nikah mut’ah merupakan satu bentuk dari akad milkul yamin “nikahu al-mut’ah shaklun min ashkali ‘uqud milku al-yamin”. Selain nikah mut’ah, turunan dari milkul yamin ini antara lain; nikah muhallil, nikah urf, nikah misyar, nikah misfar, nikah friend, nikah hibah, al-musakanah, dan akad ihson. Dari penelusuran Dr. Syamsuddin, semua turunan dari milkul yamin ini, bila dilihat dari kacamata fiqih, masuk pada kategori haram oleh jumhur ulama. Artinya tidak ada satupun dari ulama yang memperbolehkan nikah-nikah yang disebutkan syahrur sebelumnya.

Dengan demikian, pernyataan bahwa Syahrur (disertasi Abdul Aziz) menghalalkan zina, adalah tepat. Sebab segala macam turunan dari milkul yamin masuk pada kategori hubungan seksual yang dilarang oleh mayoritas ulama. Oleh itu, berkenaan dengan konsep milkul yamin ini, Dr. Syamsuddin mensinyalir bahwa Abdul Aziz menggunakan hermeneutika hukum ala Syahrur sebagai pretext guna mendekonstruksi syariah. Dari disertasi Abdul Aziz juga diketemukan paham relativisme epistemologis dan pluralisme hukum. Di mana secara terang benderang Abdul Aziz mengutip Syahrur menyebutkan bahwa milkul yamin sebagai hubungan seksual yang sah dan diperbolehkan di dalam Islam.

Di sini, Syahrur sepertinya terpengaruh oleh paradigma sekuler liberal dalam melihat hubungan seksual. Di Barat hampir seluruh hubungan seksual diperbolehkan, asal dilandasi oleh suka sama suka; tanpa keterpaksaan. Mulai dari pernikahan secara resmi, non pernikahan yang terbagi menjadi cohabitation (kumpul kebo), promisculity (pergaulan bebas), infidelity (perselingkuhan), hingga LGBTQ (lesbian, gay, biseksual, transgender dan queer), semua diperbolehkan. Jadi Syahrur beserta pengagumnya sejatinya—dalam kasus ini—secara tidak langsung, ingin, membungkus upaya  legalisasi seks bebas dengan mengatasnamakan hak asasi manusia (HAM), dan membalutnya dengan kajian-kajian akademis.

Di akhir penjelasannya, Dr. Syamsuddin memberikan simpulan analisa, bahwa apa yang dihasilkan Syahrur ini memuat beberapa hal yang perlu dicatat dengan tinta merah. Pertama, Syahrur mendasari simpulannya dengan melakukan tafsir secara liberal “bi ra’yi al-fasid”. Ini bisa dilihat dari bagaimana Syahrur memberikan tafsiran yang tidak terikat oleh pakem apapun. Kedua, membuat kesimpulan hukum tanpa disertai ilmu yang memadahi “bi ghairi ‘ilm”. Sebagai lulusan teknik sipil, dan tidak punya latar belakang belajar agama secara serius, Syahrur bukan saja tidak otoritatif, tapi juga tampak tidak professional dan bukan ranahnya. Ketiga, secara terang-terangan mengabaikan prinsip-prinsip ilmu tafsir. Dan yang terakhir, mengabaikan otoritas; para ahli hukum. Syahrur membuat tafsiran sendiri, tanpa sekalipun merujuk kepada yang punya otoritas di bidangnya.

Dari itu, gagasan liberalisasi pemikiran sejatinya bermasalah bahkan sejak dari awal mulanya; mulai dari problematika dari sisi terminologi atau istilah, yang dibahas, epistemologinya, sampai pada kesalahan logika; yang paling jelas terlihat berupa inkonsistensi dalam mengutarakan argumen. Upaya-upaya liberalisasi pada muaranya tidak jauh dari upaya dekonstruksi syariah, desakralisasi teks dengan kedok ilmiah, objektif, punya nilai universal, akademis, yang sejak awal sama sekali tidak mencerminkan keseluruhannya. Maka tidak berlebihan, bila agenda liberalisasi ini disebut sebagai gerakan transnasional yang dinaturalisasikan dengan penuh kepentingan dan dipaksa-paksakan, jauh dari kesan akademis yang selama ini disuarakan dan dibangga-banggakan. Wallahu a’lam.[]

Diambil dari Mohammad Syam’un Salim – Staff Media & Penerbitan INSISTS dengan tautan
https://insists.id/islamliberal-gerakan-transnasional/

[/pl_text]
[/pl_col]
[/pl_row]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

news-1701

yakinjp

yakinjp

rtp yakinjp

yakinjp

yakinjp

yakin jp

yakinjp id

maujp

maujp

maujp

sabung ayam online

sabung ayam online

SLOT MAHJONG

sabung ayam online

CUAN100

CUAN100

article 10000486

article 10000487

article 10000488

article 10000489

article 10000490

article 10000491

article 10000492

article 10000493

article 10000494

article 10000495

article 10000496

article 10000497

article 10000498

article 10000499

article 10000500

article 10000501

article 10000502

article 10000503

article 10000504

article 10000505

article 10000506

article 10000507

article 10000508

article 10000509

article 10000510

article 10000511

article 10000512

article 10000513

article 10000514

article 10000515

article 10000516

article 10000517

article 10000518

article 10000519

article 10000520

article 10000521

article 10000522

article 10000523

article 10000524

article 10000525

article 10000526

article 10000527

article 10000528

article 10000529

article 10000530

article 10000531

article 10000532

article 10000533

article 10000534

article 10000535

article 10000536

article 10000537

article 10000538

article 10000539

article 10000540

article 10000541

article 10000542

article 10000543

article 10000544

article 10000545

mahjong 000106

mahjong 000107

mahjong 000108

mahjong 000109

mahjong 000110

mahjong 000111

mahjong 000112

mahjong 000113

mahjong 000114

mahjong 000115

mahjong 000116

mahjong 000117

mahjong 000118

mahjong 000119

mahjong 000120

mahjong 000121

mahjong 000122

mahjong 000123

mahjong 000124

mahjong 000125

mahjong 000126

mahjong 000127

mahjong 000128

mahjong 000129

mahjong 000130

mahjong 000131

mahjong 000132

mahjong 000133

mahjong 000134

mahjong 000135

mahjong 000136

mahjong 000137

mahjong 000138

mahjong 000139

mahjong 000140

mahjong 000141

mahjong 000142

mahjong 000143

mahjong 000144

mahjong 000145

mahjong 2990591

mahjong 2990592

mahjong 2990593

mahjong 2990594

mahjong 2990595

mahjong 2990596

mahjong 2990597

mahjong 2990598

mahjong 2990599

mahjong 2990600

mahjong 2990601

mahjong 2990602

mahjong 2990603

mahjong 2990604

mahjong 2990605

mahjong 2990606

mahjong 2990607

mahjong 2990608

mahjong 2990609

mahjong 2990610

mahjong 2990611

mahjong 2990612

mahjong 2990613

mahjong 2990614

mahjong 2990615

mahjong 2990616

mahjong 2990617

mahjong 2990618

mahjong 2990619

mahjong 2990620

mahjong 2990621

mahjong 2990622

mahjong 2990623

mahjong 2990624

mahjong 2990625

mahjong 2990626

mahjong 2990627

mahjong 2990628

mahjong 2990629

mahjong 2990630

article 2000521

article 2000522

article 2000523

article 2000524

article 2000525

article 2000526

article 2000527

article 2000528

article 2000529

article 2000530

article 2000531

article 2000532

article 2000533

article 2000534

article 2000535

article 2000536

article 2000537

article 2000538

article 2000539

article 2000540

article 2000541

article 2000542

article 2000543

article 2000544

article 2000545

article 2000546

article 2000547

article 2000548

article 2000549

article 2000550

article 2000551

article 2000552

article 2000553

article 2000554

article 2000555

article 2000556

article 2000557

article 2000558

article 2000559

article 2000560

article 7700331

article 7700332

article 7700333

article 7700334

article 7700335

article 7700336

article 7700337

article 7700338

article 7700339

article 7700340

article 7700341

article 7700342

article 7700343

article 7700344

article 7700345

article 7700346

article 7700347

article 7700348

article 7700349

article 7700350

article 7700351

article 7700352

article 7700353

article 7700354

article 7700355

article 7700356

article 7700357

article 7700358

article 7700359

article 7700360

article 7700361

article 7700362

article 7700363

article 7700364

article 7700365

article 7700366

article 7700367

article 7700368

article 7700369

article 7700370

article 7700371

article 7700372

article 7700373

article 7700374

article 7700375

article 7700376

article 7700377

article 7700378

article 7700379

article 7700380

article 7700381

article 7700382

article 7700383

article 7700384

article 7700385

article 7700386

article 7700387

article 7700388

article 7700389

article 7700390

article 7700391

article 7700392

article 7700393

article 7700394

article 7700395

article 7700396

article 7700397

article 7700398

article 7700399

article 7700400

article 238000561

article 238000562

article 238000563

article 238000564

article 238000565

article 238000566

article 238000567

article 238000568

article 238000569

article 238000570

article 238000571

article 238000572

article 238000573

article 238000574

article 238000575

article 238000576

article 238000577

article 238000578

article 238000579

article 238000580

article 238000581

article 238000582

article 238000583

article 238000584

article 238000585

article 238000586

article 238000587

article 238000588

article 238000589

article 238000590

mahjong 238000591

mahjong 238000592

mahjong 238000593

mahjong 238000594

mahjong 238000595

mahjong 238000596

mahjong 238000597

mahjong 238000598

mahjong 238000599

mahjong 238000600

mahjong 238000601

mahjong 238000602

mahjong 238000603

mahjong 238000604

mahjong 238000605

mahjong 238000606

mahjong 238000607

mahjong 238000608

mahjong 238000609

mahjong 238000610

mahjong 238000611

mahjong 238000612

mahjong 238000613

mahjong 238000614

mahjong 238000615

mahjong 238000616

mahjong 238000617

mahjong 238000618

mahjong 238000619

mahjong 238000620

article 838000743

article 838000744

article 838000745

article 838000746

article 838000747

article 838000748

article 838000749

article 838000750

article 838000751

article 838000752

article 838000753

article 838000754

article 838000755

article 838000756

article 838000757

article 838000758

article 838000759

article 838000760

article 838000761

article 838000762

article 838000763

article 838000764

article 838000765

article 838000766

article 838000767

article 838000768

article 838000769

article 838000770

article 838000771

article 838000772

mahjong 838000773

mahjong 838000774

mahjong 838000775

mahjong 838000776

mahjong 838000777

mahjong 838000778

mahjong 838000779

mahjong 838000780

mahjong 838000781

mahjong 838000782

mahjong 838000783

mahjong 838000784

mahjong 838000785

mahjong 838000786

mahjong 838000787

mahjong 838000788

mahjong 838000789

mahjong 838000790

mahjong 838000791

mahjong 838000792

mahjong 838000793

mahjong 838000794

mahjong 838000795

mahjong 838000796

mahjong 838000797

mahjong 838000798

mahjong 838000799

mahjong 838000800

mahjong 838000801

mahjong 838000802

article 9998000661

article 9998000662

article 9998000663

article 9998000664

article 9998000665

article 9998000666

article 9998000667

article 9998000668

article 9998000669

article 9998000670

article 9998000671

article 9998000672

article 9998000673

article 9998000674

article 9998000675

article 9998000676

article 9998000677

article 9998000678

article 9998000679

article 9998000680

article 9998000681

article 9998000682

article 9998000683

article 9998000684

article 9998000685

article 9998000686

article 9998000687

article 9998000688

article 9998000689

article 9998000690

article 9998000691

article 9998000692

article 9998000693

article 9998000694

article 9998000695

article 9998000696

article 9998000697

article 9998000698

article 9998000699

article 9998000700

news-1701