Hubungi Kami : 0814 1350 4543

Bias Paras Guru, di Dalam Kertas Buku Itu. (Guru, Sekolah dan Ghirah)

Kolom Corat-Coret, Jakarta

Oktober- Berangkat dari rasa kekhawatiran yang pekat, memikat segala yang baru untuk dituju, Buku. Ada bias paras guru, di dalam kertas buku itu. Guru dan Buku seakan menjadi pasangan sejoli yang tertanam sedari dini di sanubari bagi sesiapa saja yang memposisikan diri sebagai penempuh ilmu dan pemberi jalan keilmuan (guru). Guru bagai hilir pengetahuan bagi seorang murid. Murid bagai hulu yang membutuhkan arah hilirnya. Menuntun dan mengatur volume deras air yang sejatinya membutuhkan ramuan ukhrowi ‘khusus’ agar tak terkontaminasi oleh racun-racun kimia duniawi. Membutuhkan semacam irigasi agar tak terjadi luapan-luapan yang membiaskan pandangan. Irigasi Ilmu yang memberi ruang antara bersikap kritis dan sinis. Kritis boleh, Sinis jangan. Karena berbeda makna.

Frasa ‘Ghirah’ ialah semangat, semangat dalam kebaikan tentunya. Ghirah dalam perjuangan, ghirah berdakwah di dunia nyata dan sosial media, juga ghirah dalam menuntut ilmu. Ghirah Islam semestinya terasa di sekolah, ataupun di lembaga pendidikan yang berjenjang seperti di Universitas (kampus). Ghirah yang santun, menurut buku karya Buya Hamka ‘Ghirah dan Tantangan Terhadap Islam,’ (1983), ghirah ialah manifestasi dari perasaan cemburu orang-orang yang beriman.

Guru, Sekolah, dan Ghirah. Ghirah Islam yang membangkitkan segala rasa kegembiraan dalam keberagaman dalam ber-Agama, wa bil khusus Islam. Ketika ghirah tak terasa, maka tulisan ini ada. Karena saya hanya pandai merasakannya, bukan menafsirkannya. Mari kita bergairah dalam ghirah Islam yang ramah, santun dan menggembirakan sesamanya.
Wallahu A’lam bish showab.

Jakarta, Oktober 2019.
AMR.

error: Content is protected !!