Hubungi Kami : 0814 1350 4543

Islamisasi Ilmu Kontemporer

Baharuddin AbdRahman

Islamisasi bukanlah Kristenisasi dalam arti konversi agama. Islamisasi merupakan sebuah program kerja yang sejatinya berusaha untuk merajut kembali puing-puing bangunan peradaban Islam, khususnya bangunan epistemologi, yang kian hancur akibat gempuran hegemoni Barat yang didominasi oleh pandangan hidup (worldview) sekular.

Program kerja Islamisasi, sebagaimana yang al-Attas paparkan dalam presentasinya pada konfrensi Islam sedunia pertama mengenai pendidikan (First World Confrence on Muslim Education) yang diselenggarakan di Makkah pada tahun 1977 (perlu di ketengahkan bahwa konfrensi Islam dunia mengenai pendidikan Islam tersebut tak lain dan tak bukan merupakan hasil dari desakan al-Attas kepada Islamic Secretariat yang bermarkas di Jeddah untuk sesegera mungkin mengadakan pertemuan para cendekiawan Muslim dalam rangka membahas dan mencari solusi terhadap permasalahan yang dihadapi umat Islam. Selengkapnya, lihat Wan Daud, The Beacon, hlm. 13. ) adalah:

…the liberation of man first from magical, mythological, animistic, national-cultural tradition opposed to Islam, and then from secular control over his reason and his language.” (Al-Attas, Islam and Secularism, hlm. 44. Bandingkan Alparslan Acikgenc, Islamic Science: Toward a Definition (Kuala Lumpur: ISTAC), 1996, hlm. 1-2. )

Program ini disebut dengan program kerja 2M i.e., mengidentifikasi lantas membebaskan. Mengidentifikasi artinya menemukan elemen-elemen asing termasuk konsep-konsep kunci yang bersemayam di dalam tubuh ilmu yang tidak sesuai dengan nilai dan ajaran Islam (un-islamic), misalnya: magik, mitos, animisme, tradisi dan budaya, bahasa dan pikiran sekular, kemudian membebaskan dengan jalan membersihkan dan mengisolasi elemen-elemen serta konsep- konsep kunci asing yang tersemat-semayam tersebut.

Program kerja islamisasi ilmu juga mengharuskan adanya formulasi nilai-nilai dan konsep-konsep kunci Islam, seperti: konsep manusia (insān), agama (dīn), ilmu (‘ilm and ma‘rifah), kebijaksanaan (ḥikmah), adil (‘adl) dan adab (ta’dīb). Nilai-nilai dan konsep-konsep kunci Islam ini sangat berkaitan dengan konsep-konsep, misalnya: Tuhan, wahyu, syari‘ah, nabi dan lain sebagainya. Lihat al-Attas, et.al., Aims and Objectives, hlm. 44.

Dalam hal ini al-Attas menulis:

Our next task will be the formulation and integration of the essential Islamic elements and key concepts so as to produce a composition which will comprise the core knowledge to be deployed in our educational system from the lower to the higher levels in respective gradations designed to conform to the standard of each level… Lihat al-Attas, et.al., Aims and Objectives, hlm. 44.

Program kerja selanjutnya adalah integrasi nilai-nilai dan konsep-konsep kunci Islam yang telah diformulasi ke dalam disiplin ilmu-ilmu inti atau core knowledge. Dan yang terakhir adalah penyebaran (deployment). Penyebaran di sini adalah dengan menjadikan disiplin ilmu-ilmu inti sebagai sebaran mata ajar/kuliah (kurikulum) dalam sistem pendidikan yang akan diimplementasi mulai dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi dengan pertimbangan situasional-kondisional. Artinya, jika disiplin ilmu-ilmu inti diaplikasikan pada institusi tingkat dasar, maka kadar penyampaian pendidik serta tingkat kedalamannya harus menyesuaikan kapasitas peserta didik dan begitu seterusnya hingga pada institusi tingkat tinggi. Disiplin ilmu- ilmu inti adalah mata ajar/kuliah yang dikategorikan sebagai‘ilm farḍ ‘ain.

Penting untuk dicatat bahwa proses kerja islamisasi bukan sekadar transplantasi (menempelkan), bukan pula ayatisasi dan haditsisasi sebagai justifikasi dan pembenaran, tapi ia adalah integrasi di mana nilai dan ajaran termasuk konsep-konsep kunci Islam yang telah diformulasi memberi corak dan warna terhadap disiplin ilmu.

Telah disinggung sebelumnya bahwa Islamisasi ilmu yang diproyeksikan al-Attas aplikasinya berbeda dalam disiplin ilmu farḍ ‘ain termasuk ilmu alam, sains terapan dan sejenisnya dengan ilmu farḍ kifāyah atau ilmu-ilmu humaniora dan umum lainnya. Hal ini terlihat jelas dari pengistilahan islamisasi ilmu al-Attas yang menggunakan dan menyifatkan terma “kontemporer“ kepada kata “ilmu,” presisinya Islamization of Contemporary Knowledge. Pada disiplin ilmu yang kedua disebut, Islamisasi ilmu bekerja secara total dalam tataran tubuh ilmu serta interpretasi fakta dan formulasi teorinya; sedang yang tersebut pertama, Islamisasi hanya bekerja pada tataran interpretasi dan formulasi teori saja, sebagaimana yang al-Attas jelaskan:

… even in the natural, physical and applied sciences, particularly where they deal with interpretasions of facts and formulation of theories, the same process of isolation of the elements and key concepts should be applied; for the interpretations and formulations indeed belong to the sphere of the human sciences. Lihat al-Attas, Aims and Objective of Islamic Education, hlm. 43.

Dengan adanya pembatasan objek Islamisasi kepada ilmu-ilmu kontemporer, al-Attas jelas berbeda dengan modernis Muslim yang menganjurkan keharusan melakukan dekonstruksi (deconstruction), Lihat Abdullahi Ahmed An-Na’im, Dekonstruksi Syari’ah, terj. Ahmad Saedy & Amiruddin Arrani (Yogyakarta: LKis), 1994. ; peninjauan kembali (rethinking), Lihat Mohammed Arkoun, Rethinking Islam: Common Questions, Uncommon Answers (U. S. A.: Westview Press, 1994); ataupun pendewasaan (maturity) Islam. Dalam Islam, baik bentuk ritual maupun konsep misalnya, mengenai Tuhan, wahyu, penciptaan, manusia, ilmu pengetahuan, agama, keadilan, kebebasan, nilai, kebahagiaan dan lain sebagainya, telah sempurna dari sejak diturunkan ke bumi, khususnya berkaitan dengan hal “yang sudah sangat jelas” (al-ma‘lūm min al-dīn bi al- ḍarūrah). Lihat Adnin Armas, “Westernisasi dan Islamisasi Ilmu,” hlm. 14.

Al- Attas, hanya melihat pentingnya khazanah intelektual kontemporer yang telah terinjeksi dengan pandangan hidup (worldview) sekular serta magis, mitos, animisme dan tradisi lokal yang bertentangan dengan pandangan hidup Islam yang harus menjadi objek perhatian Islamisasi.

Bagi al-Attas, khazanah intelektual masa lampau, misalnya ilmu al-hadīts, ilmu uṣūl al- Fiqh, dan khsusnya, uṣūl tafsīr dan ta‘wīl merupakan metodologi dan pendekatan saintifik

(scientific methodology) yang membawa kepada ilmu pengetahuan yang pasti (certain knowledge), laiknya ilmu fisika dan matematika, sebagaimana yang dijelaskan oleh Wan Daud:

The scientific method of tafsīr, as related to our earlier explanation of the scientific nature of the Arabic language, revolves around the fact that the results of proper tafsīr work is certain knowledge, as certain as that provided for by the exact sciences such as physics and mathematics…” Lihat Wan Daud, Educational Philosophy, hlm. 354.

Masih dalam diskursus Islamisasi. Menurut al-Attas, Islamisasi berawal dan harus dimulai dari bahasa, khususnya bahasa Arab. Hal ini karena bahasa berkait erat dengan pemikiran dan konsep yang selanjutnya secara sistemik mengartikulasi pandangan Islam (Islamic Worldview). Lihat Wan Daud, The Beacon, hlm. 36.

Islamisasi bahasa yang dimaksud di sini bukan berarti melakukan perubahan terhadap struktur tata bahasa (grammatical structure), melainkan pengstrukturan serta penyulingan kembali aspek-aspek kebahasaan atau semantik, khususnya, terma-terma dan konsep-konsep kunci yang pada gilirannya pandangan Islam termuat dengan jelas, sebagaimana halnya ketika al-Qur’an pertama kali diturunkan kepada nabi Muhammad SAW yaitu Surat al-‘Alaq [96] ayat 1-5:

Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan (1). Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah (2).Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah (3).yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam (4). Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya (5).

Di  dalam  Surat  al-‘Alaq  tersebut,  Allah  SWT  menjelaskan,  secara  teologis  bahwa Allah adalah sang Pencipta dan sekaligus secara epistemologis bahwa Allah adalah Sumber ilmu pengetahuan. Hal ini merupakan salah satu dari bentuk “Islamisasi” dengan pengertian telah terjadi “penyulingan” terhadap konsep dengan menyematkan nuangsa atau nilai Islam sehingga asumsi Arab Jahiliyah bahwa warisan nenek moyang sebagai sumber dan panutan dari pikiran ataupun tindakan mereka terisolir. Lihat Wan Daud, The Beacon, hlm. 33. Contoh lain dari terjadinya islamisasi bahasa adalah penyulingan serta pengetatan makna al-sunnah. Sebagaimana diketahui bahawa, pada zaman pra-Islam, terma al-sunnah digunakan dalam pengertian yang sangat luas. Ia bermakna tradisi yang mencakup tradisi yang baik sekaligus tradisi yang buruk, begitupula bagi pelaku tradisi, ia tidak terbatas kepada individu atau golongan tertentu, tetapi mencakup tradisi individu atau golongan mana saja. Akan tetapi, pada zaman Islam, pengertian sunnah menjadi sempit dan mengalami pengetatan  makna. Artinya terbatas kepada prilaku individu dan golongan tertentu saja, yaitu tradisi dan kebiasaan yang dilakukan oleh Rasulullah dan para sahabatnya yang tentunya mendapat legalitas (al-mahdiyyūn = yang mendapat hidayah), dan bahkan terbatas kepada tradisi yang baik saja, oleh karena mereka, khususnya Rasulullah adalah ma’ṣum ‘an al- khata’ (terhindarkan dari kesalahan). Dengan dasar tersebut pakar mendefinisikan al-sunnah sebagai: Segala yang diriwayatkan dari Nabi Muhammad SAW baik berupa perkataan, perbuatan, ketetapannya (taqrīr), sifat jasmani atau sifat akhlak, perjalanan baik sebelum ataupun setelah diangkatnya sebagai Nabi (bi’tsah). Lihat Manna’ al-Qaṭṭān, Mabāẖits fī ‘Ulūm al-Ḥadīts, Cairo: Maktabah Wahbah, 2007, 14.

Kembali ke fokus pembahasan, Islamisasi ilmu pengetahuan kontemporer bukan merupakan pekerjaan semudah membalikkan telapak tangan. Ia memerlukan perhatian khusus dan kemapanan ilmu. Di samping itu, tidak semua yang datang dari Barat esensinya salah sehingga harus ditolak. Dengan demikian, pengusung ide Islamisasi, sebagaimana yang ditekankan oleh al-Attas, selaiknya memiliki prasyarat-prasyarat yang intinya adalah mampu menyelami pandangan hidup Islam sekaligus kebudayaan dan peradaban Barat. Lihat Wan Daud, Educational Philosophy, hlm. 237. Ada lima unsur, menurut al-Attas, yang membentuk kebudayaan dan peradaban Barat: 1. Akal dijadikan sebagai tolak ukur dalam membimbing kehidupan manusia; 2. Bersikap dualistik terhadap realitas dan kebenaran; 3. Menegaskan aspek eksistensi yang memproyeksikan pandangan hidup sekular; 4. Membela doktrin humanism; dan, 5. Menjadikan drama dan tragedy sebagai unsur yang dominan dalam fitrah dan eksistensi kemanusiaan. Lihat selengkapnya dalam al-Attas, Prolegomena, hlm. 88, 99- 108.

Hal inilah yang dimaksud dengan prosedur islamisasi di atas, yaitu: mengidentifikasi unsur-unsur asing dari nilai-nilai Islam yang memuat dalam tubuh ilmu, selanjutnya membebaskan dari unsur-unsur tersebut, dan terakhir mengimpusnya dengan elemen-elemen esensial serta konsep-konsep kunci Islam dalam setiap bidang ilmu pengetahuan saat ini yang relevan. Lihat Wan Daud, Educational Philosophy, hlm. 313. Bandingkan Al-Attas, et.al., Aims and Objectives, hlm. 43-47, passim

Prasyarat-prasyarat beserta segala implikasinya inilah yang selanjutnya memungkinkan terjadinya proses Islamisasi, i.e., pembebasan manusia dari magik, mitos, animisme, tradisi dan budaya lokal yang bertentangan dengan nilai Islam, serta pembebasan manusia dari pengaruh sekular terhadap bahasa dan pikirannya.

Satu hal yang dapat dijadikan sebagai konsen bahkan pertanyaan dalam diskursus islamisasi ilmu. Apakah teori islamisasi ilmu yang diproyeksikan al-Attas benar-benar membatasi diri pada disiplin ilmu-ilmu kontemporer, khususnya yang telah mengalami proses sekularisasi? Ataukah meliputi juga disiplin ilmu-ilmu turāts atau khazanah intelektual para ulama zaman dulu yang kategorinya adalah ilmu agama dan yang diidentifikasi sebagai ‘ilm farḍ ‘ain?

Jawaban dari pertanyaan ini, menurut hemat penulis terdapat di dalam pernyataan al-Attas:

… even in the natural, physical and applied sciences, particularly where they deal with interpretasions of facts and formulation of theories, the same process of isolation of the elements and key concepts should be applied; for the interpretations and formulations indeed belong to the sphere of the human sciences. Lihat al-Attas, et.al., Aims and Objectives, hlm. 43.

Di sini, jika kita dapat menganalogikan ilmu-ilmu turāts dengan ilmu alam, fisik dan ilmu terapan, maka kesimpulan yang akan muncul adalah ‘ilm farḍ ‘ain pun dapat menjadi objek Islamisasi meski hanya terbatas pada tataran interpretasi dan formulasi teori. Hal yang dapat mendukung tesis ini adalah definisi Islamisasi itu sendiri yang intinya adalah penanggalan interpretasi ilmu dari ideologi, makna dan bahasa sekular dan sekularisme yang menyemat.

Walhasil, teori islamisasi ilmu inilah yang kemudian menjadi frame al-Attas dalam merangkai dan menyusun kurikulum, presisinya kurikulum berbasis adab yang selanjutnya terimplementasi dalam kurikulum pendidikan ISTAC.

Allah A’lam bi al-Ṣawāb

3 Responsesso far.

  1. riyadi says:

    artikel yang bagus sangat menambah wawasan khasanah ilmu pengetahuan islam

  2. rudy says:

    Artikelnya sanagat bermanfaat sekali untuk dibaca dan diamalkan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

news-1701

yakinjp

yakinjp

rtp yakinjp

yakinjp

yakinjp

yakin jp

yakinjp id

maujp

maujp

maujp

sabung ayam online

sabung ayam online

SLOT MAHJONG

sabung ayam online

CUAN100

CUAN100

article 10000466

article 10000467

article 10000468

article 10000469

article 10000470

article 10000471

article 10000472

article 10000473

article 10000474

article 10000475

article 10000476

article 10000477

article 10000478

article 10000479

article 10000480

article 10000481

article 10000482

article 10000483

article 10000484

article 10000485

article 10000486

article 10000487

article 10000488

article 10000489

article 10000490

article 10000491

article 10000492

article 10000493

article 10000494

article 10000495

article 10000496

article 10000497

article 10000498

article 10000499

article 10000500

article 10000501

article 10000502

article 10000503

article 10000504

article 10000505

article 9998000621

article 9998000622

article 9998000623

article 9998000624

article 9998000625

article 9998000626

article 9998000627

article 9998000628

article 9998000629

article 9998000630

article 9998000631

article 9998000632

article 9998000633

article 9998000634

article 9998000635

article 9998000636

article 9998000637

article 9998000638

article 9998000639

article 9998000640

article 9998000641

article 9998000642

article 9998000643

article 9998000644

article 9998000645

article 9998000646

article 9998000647

article 9998000648

article 9998000649

article 9998000650

article 9998000651

article 9998000652

article 9998000653

article 9998000654

article 9998000655

article 9998000656

article 9998000657

article 9998000658

article 9998000659

article 9998000660

article 9998000661

article 9998000662

article 9998000663

article 9998000664

article 9998000665

article 9998000666

article 9998000667

article 9998000668

article 9998000669

article 9998000670

article 9998000671

article 9998000672

article 9998000673

article 9998000674

article 9998000675

article 9998000676

article 9998000677

article 9998000678

article 9998000679

article 9998000680

article 9998000681

article 9998000682

article 9998000683

article 9998000684

article 9998000685

article 9998000686

article 9998000687

article 9998000688

article 9998000689

article 9998000690

article 838000703

article 838000704

article 838000705

article 838000706

article 838000707

article 838000708

article 838000709

article 838000710

article 838000711

article 838000712

article 838000713

article 838000714

article 838000715

article 838000716

article 838000717

article 838000718

article 838000719

article 838000720

article 838000721

article 838000722

article 838000723

article 838000724

article 838000725

article 838000726

article 838000727

article 838000728

article 838000729

article 838000730

article 838000731

article 838000732

article 838000733

article 838000734

article 838000735

article 838000736

article 838000737

article 838000738

article 838000739

article 838000740

article 838000741

article 838000742

article 838000743

article 838000744

article 838000745

article 838000746

article 838000747

article 838000748

article 838000749

article 838000750

article 838000751

article 838000752

article 838000753

article 838000754

article 838000755

article 838000756

article 838000757

article 838000758

article 838000759

article 838000760

article 838000761

article 838000762

article 838000763

article 838000764

article 838000765

article 838000766

article 838000767

article 838000768

article 838000769

article 838000770

article 838000771

article 838000772

article 238000521

article 238000522

article 238000523

article 238000524

article 238000525

article 238000526

article 238000527

article 238000528

article 238000529

article 238000530

article 238000531

article 238000532

article 238000533

article 238000534

article 238000535

article 238000536

article 238000537

article 238000538

article 238000539

article 238000540

article 238000541

article 238000542

article 238000543

article 238000544

article 238000545

article 238000546

article 238000547

article 238000548

article 238000549

article 238000550

article 238000551

article 238000552

article 238000553

article 238000554

article 238000555

article 238000556

article 238000557

article 238000558

article 238000559

article 238000560

article 238000561

article 238000562

article 238000563

article 238000564

article 238000565

article 238000566

article 238000567

article 238000568

article 238000569

article 238000570

article 238000571

article 238000572

article 238000573

article 238000574

article 238000575

article 238000576

article 238000577

article 238000578

article 238000579

article 238000580

article 238000581

article 238000582

article 238000583

article 238000584

article 238000585

article 238000586

article 238000587

article 238000588

article 238000589

article 238000590

article 7700291

article 7700292

article 7700293

article 7700294

article 7700295

article 7700296

article 7700297

article 7700298

article 7700299

article 7700300

article 7700301

article 7700302

article 7700303

article 7700304

article 7700305

article 7700306

article 7700307

article 7700308

article 7700309

article 7700310

article 7700311

article 7700312

article 7700313

article 7700314

article 7700315

article 7700316

article 7700317

article 7700318

article 7700319

article 7700320

article 7700321

article 7700322

article 7700323

article 7700324

article 7700325

article 7700326

article 7700327

article 7700328

article 7700329

article 7700330

article 7700331

article 7700332

article 7700333

article 7700334

article 7700335

article 7700336

article 7700337

article 7700338

article 7700339

article 7700340

article 7700341

article 7700342

article 7700343

article 7700344

article 7700345

article 7700346

article 7700347

article 7700348

article 7700349

article 7700350

article 7700351

article 7700352

article 7700353

article 7700354

article 7700355

article 7700356

article 7700357

article 7700358

article 7700359

article 7700360

article 2000481

article 2000482

article 2000483

article 2000484

article 2000485

article 2000486

article 2000487

article 2000488

article 2000489

article 2000490

article 2000491

article 2000492

article 2000493

article 2000494

article 2000495

article 2000496

article 2000497

article 2000498

article 2000499

article 2000500

article 2000501

article 2000502

article 2000503

article 2000504

article 2000505

article 2000506

article 2000507

article 2000508

article 2000509

article 2000510

article 2000511

article 2000512

article 2000513

article 2000514

article 2000515

article 2000516

article 2000517

article 2000518

article 2000519

article 2000520

article 2000521

article 2000522

article 2000523

article 2000524

article 2000525

article 2000526

article 2000527

article 2000528

article 2000529

article 2000530

article 2000531

article 2000532

article 2000533

article 2000534

article 2000535

article 2000536

article 2000537

article 2000538

article 2000539

article 2000540

article 2000541

article 2000542

article 2000543

article 2000544

article 2000545

article 2000546

article 2000547

article 2000548

article 2000549

article 2000550

article 2990581

article 2990582

article 2990583

article 2990584

article 2990585

article 2990586

article 2990587

article 2990588

article 2990589

article 2990590

article 2990591

article 2990592

article 2990593

article 2990594

article 2990595

article 2990596

article 2990597

article 2990598

article 2990599

article 2990600

article 2990601

article 2990602

article 2990603

article 2990604

article 2990605

article 2990606

article 2990607

article 2990608

article 2990609

article 2990610

article 2990611

article 2990612

article 2990613

article 2990614

article 2990615

article 2990616

article 2990617

article 2990618

article 2990619

article 2990620

article 10000451

article 10000452

article 10000453

article 10000454

article 10000455

article 10000456

article 10000457

article 10000458

article 10000459

article 10000460

article 10000461

article 10000462

article 10000463

article 10000464

article 10000465

news-1701